Ujian Kehidupan

life is a test

sumber : korea.amirnet.org

Dalam hidup, ada banyak ujian yang telah, sedang, atau akan kita hadapi. Ada ujian yang ‘kecil’ ada pula ujian ‘besar’. Dan ada begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari setiap ujian yang telah kita selesaikan, entah itu dengan hasil baik atau sebaliknya.

Saya pun demikian, dan saya yakin kamu juga begitu.

Jadi, adakah ujian dalam hidup yang saya anggap telah berhasil saya lalui dengan baik? Apa tolok ukur sebuah ‘kelulusan’ menghadapi ujian?

Saya memulai sebuah ujian hidup justru setelah melalui sebuah ujian di sekolah. Setamat SMA pada tahun 1998 barulah ujian yang sesungguhnya membentang di hadapan. Akan ke mana saya setelah ini? Kuliah? Langsung bekerja? Atau menganggur?

Dua bulan setelah lulus, saya mulai mencari pekerjaan. Orangtua tidak sanggup membiayai kuliah, maka saya lupakan mimpi itu. Saya harus realistis. Jadi berbekal sebuah KTP Sementara (saat itu umur saya baru 17 tahun 4 bulan) saya mencoba melamar pekerjaan di sebuah bank. Hasilnya sudah bisa ditebak: ditolak. Tentu saja, yang mereka cari adalah pelamar berkualitas minimal setara D3.

Sebulan menganggur, seorang saudara menawarkan pekerjaan sebagai pengajar les di sebuah lembaga tak resmi. Saat itu dengan jadwal mengajar dari Senin hingga Jum’at pukul 2 siang hingga 8 malam, gaji yang diberikan sebesar Rp. 50.000. Ya, Rp. 50.000! Cukup? Relatif. Bisa ya bisa tidak, tergantung dari kebutuhan. Lalu secara bertahap gaji tersebut merambat naik hingga mencapai Rp. 250.000 pada tahun 2000.

Setelah lebih kurang 3 tahun mengajar, penghasilan saya sebulan sekitar Rp.250.000. Cukup? Sekali lagi, relatif. Meski begitu, saya juga mencari tambahan dengan mengajar anak-anak tetangga di rumah dengan tarif berkisar antara Rp.15.000 – Rp.20.000 per anak per bulan. Cukup? Kali ini saya harus menjawab dengan: tidak. Saat itu usia saya hampir 21 tahun. Saya mulai berpikir : apakah akan seterusnya saya menjadi pengajar les? Berapa penghasilan yang bisa saya dapatkan setiap bulannya? Apakah akan mencukupi jika kelak saya berumah tangga?

Diamuk pikiran semacam itu membuat saya mulai tak tenang. Tapi saya tak punya alternatif pekerjaan lain. Saya merasa tak mempunyai keterampilan yang bisa diandalkan. Pun dunia kerja saat itu mulai menaikkan ‘standar’ penerimaan pegawai dengan minimal pendidikan D3. Apa yang bisa saya lakukan?

Allah Maha Baik.

Di tahun 2000 lewat seorang guru baru, Allah menunjukkan jalan. Teman guru saya itu mengajak saya untuk ikut tes penerimaan mahasiswa STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Dia mengajari saya cara menyelesaikan soal, trik mengerjakan ujian, bahkan berjanji menemani saya saat pendaftaran dibuka dan ujian kelak. Saya bersemangat hingga lupa membaca sebuah klausul yang teramat penting : kelulusan dari SMA maksimal 3 tahun. Jadi, jika penerimaan diadakan tahun 2001, maka yang berhak mendaftar adalah pendaftar yang lulus SMA tahun 1999, 2000, dan 2001. Sementara saya lulus tahun 1998. Kembali saya mundur.

Allah memang Maha Baik.

Saat saya merasa putus asa, ternyata tahun 2001 STAN membuka pendaftaran khusus untuk putra-putri Aceh tanpa batasan tahun lulus. Saya bersemangat walau sedikit was-was sebab ujian dilaksanakan di Banda Aceh, sebuah kota  yang –saat itu- belum pernah saya datangi. Lagi-lagi pertolongan Allah datang. Seorang saudara menawarkan diri untuk menemani saya ke Banda Aceh dan berjanji akan mencarikan tempat menginap. Maka saya pun berangkat.

Dengan pertolongan-Nya saya berhasil lulus ujian dan menjadi mahasiswa. Kuliah diadakan di Medan. Untuk itu saya hijrah dari kota kelahiran, Langsa, untuk ‘menempuh hidup baru’ di Medan. Awalnya saya nge-kos bersama seorang teman yang juga lulus STAN. Tapi baru dua bulan nge-kos, orangtua tak sanggup membiayai lagi. Saya akhirnya keluar dari kos dan menumpang di rumah saudara yang berjarak sekitar 45 menit perjalanan (jika macet bisa sampai 2 jam) dari kampus.

Tahun 2002 saya lulus dan diwisuda. Apakah artinya saya juga lulus dari ujian kehidupan? Saya tak berani sesumbar bilang iya. Saat itu yang ada di benak saya hanya saya harus bisa menjadi anak yang berguna bagi keluarga. Saya menyandang beban berat sebagai anak lelaki tertua yang harus bisa mengayomi 3 orang adik di bawah saya. Harus memberi contoh baik, harus bisa membantu perekonomian keluarga.

Rasanya baru sebentar hidup berjalan dengan ‘aman sentosa’ hingga ujian lain kembali datang : Ayah meninggal. Semenjak hari kepergiannya, resmi sudah saya menyandang ‘gelar’ sebagai tulang punggung keluarga. Menjadi orang yang diharapkan menyangga kehidupan seorang ibu dan 3 orang adik. Saat itu  dua orang adik masih SMA dan seorang lagi duduk di bangku SD. Dengan penghasilan yang saya punya, saya usahakan untuk memenuhi keperluan mereka semua.

Apa saya sudah lulus dari ujian kehidupan? Lagi-lagi saya tak berani menjawab iya. Bahkan setelah ibunda meninggal tahun 2013 lalu, dua orang adik sudah menikah, dan yang bungsu tamat SMA, saya tak berani bilang bahwa saya telah lulus. Bahkan mungkin sebenarnya tak pernah ada kata lulus bagi saya –mungkin juga kamu- dalam menghadapi ujian kehidupan. Ujian dalam hidup akan selalu ada. Datang silih berganti. Dan saya harus terus berjuang menghadapinya. Barangkali kelak ketika saya menutup mata, seseorang akan berkata bahwa saya telah berjuang menghadapi kehidupan, dan saya keluar sebagai pemenang.

800 kata

Iklan

12 thoughts on “Ujian Kehidupan

    • Attar Arya berkata:

      Hai, adik angkatan 🙂

      saya merasa bersyukur saat Allah menegur saya tiap melakukan kesalahan, saat Allah memberi saya banyak ‘masalah’. saya yakin itu semua buat kebaikan saya sendiri. 🙂

  1. Ryan berkata:

    98 lulus SMA. Saya 2000… jadi… *sungkem sama kakak*

    hidup memang perjuangan mas. Sampai kapan pun. hingga nanti kelulusan akhir tiba, baru kita bisa bernafas lega.

  2. chiemayindah berkata:

    Hidup itu perjuangan, Bang.. selama masih hidup, akan selalu ada ujian… dan semoga kita selalu diberi kekuatan untuk melewatinya dan dapat “lulus” untuk bisa naik tingkat di hadapan-Nya…. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s