Dance With My Father

dance wit my father

sumber

Mengapa hanya ada gelap?

Dingin lantai marmer terasa menyengat kulit pipiku. Gulita menyekat pandangan. Aku mencoba berdiri dengan tertatih. Tangan kujulurkan ke depan, meraba-raba. Tapi tak ada sesuatu pun yang bisa kupegang.

Mengapa tempat ini seolah tak berbatas?

Kesedihan tiba-tiba memelukku erat hingga nyaris kehilangan napas. Aku ingin menangis, menjerit keras hingga seluruh dunia mendengar. Agar semua tahu, aku sedang bersedih. Tapi tak ada yang mendatangiku untuk memelukku dari belakang, mengusap rambutku dan berkata : “Tenanglah, Sayang. Semua akan baik-baik saja.”

Aku duduk menunduk memeluk kakiku. Rambut kubiarkan tergerai menyentuh lantai. Air mataku mulai kering.

“Tenanglah, Sayang. Semua akan baik-baik saja.”

Aku berbalik dan menengadah. Sesosok tubuh yang bermandikan cahaya tengah tersenyum padaku. Tangannya terjulur.

“Papa,” bisikku. Aku bangkit tergesa. Air mata kembali berlomba meluncur di pipi. Mengaburkan pandangan. Aku memejam. Sungguh, aku rindu lelaki ini.

Dalam pelukannya aku merajuk. “Papa, aku kangen. Aku minta maaf.”

Papa mengusap rambutku, membalurinya dengan kasih sayang. “Papa tahu, Risa. Sekarang buka matamu.”

Aku menurut.

Dunia kini benderang. Kami tengah berada di ruang keluarga. Aku mengenali barang-barang yang ada di ruangan ini. Ini ruang keluarga milik kami. Meja di sudut, lukisan di dinding, vas bunga, karpet, bahkan hiasan gantung di langit-langit.

“Kita di rumah, Risa,” kata Papa lembut. Lalu entah dari mana datangnya, alunan sebuah lagu berkumandang.

“Fur Elise. Kau masih ingat, kan?”

Aku mengangguk. Karya sang jenius Mozart sudah menjadi kesukaanku sejak kecil. Papa yang mengenalkanku pada komposisi-komposisi menawan milik salah satu komponis musik klasik Eropa paling terkenal ini. Dulu aku suka berdansa bersama Papa dengan iringan lagu ini. Aku menumpangkan kaki kecilku di atas kaki Papa, lalu kami akan berputar menari sambil tertawa.

“Kau boleh lakukan itu.” Papa membaca pikiranku. Aku tersipu.

Papa mengajakku berputar, melangkah ke kiri dan kanan. Kami tertawa. Saling bercanda. Hingga sebuah tepukan hinggap di pipiku.

“Ahh, Papa,” aku mengajuk, mengira Papa yang melakukan hal itu. Tepukan itu datang lagi, diiringi sebuah guncangan di tubuhku. lalu entah dari mana datangnya, sepotong tangan mencengkeram lenganku erat. Lalu ada tangan lain memegangi bahuku. Tangan-tangan terus berdatangan. Menarikku menjauh dari Papa.

“Papa, tolong!” jeritku putus asa. Tangan-tangan terus menarikku. Aku meronta tapi tak bisa, mereka terlalu kuat. Papa hanya berdiri di tempatnya, sorot matanya kosong. Lalu sepasang sayap perlahan membentang dari balik punggungnya. Aku terperanjat.

“Papa, jangan pergi! Tolong Risa, Pa!”

Sia-sia.

Papa membumbung perlahan meninggalkan kegelapan, meninggalkan aku tanpa berpamitan. Aku meraung, mencakar dan menendang tangan-tangan yang merubungi tubuhku. Mereka serupa hama : meski kutepis seribu kali, tetap saja mereka ada.

“Risa…”

Di antara raungan kudengar sayup suara memanggil. Aku tak bisa melihat si pemilik suara. Mataku buta oleh air mata.

Lebih banyak tangan datang ke tubuhku. Menancap erat di tangan, di bahu, di kaki, bahkan di pahaku. Aku terlalu lemah untuk melawan semuanya. Aku akhirnya pasrah.

“Risa, sayang… bangun…” suara itu terdengar lagi. Tapi tetap saja aku tak mampu mengenalinya. Aku hanya ingin Papa. Aku ingin bertemu Papa. Aku ingin minta maaf.

“Papaaa…..”

Mataku akhirnya lebar terbuka. Ada sosok wanita cantik dengan mata sembab tengah menatapku. Dia tersedu saat melihatku.

“Ini Mama, Sayang,” bisiknya parau.

Mama? Aku di mana?

“Jangan siksa dirimu seperti ini, Risa. Kamu tidak sengaja. Papa pasti tahu itu,” isak perempuan itu. Sebuah dengusan terdengar dari sisi lain tempatku berbaring.

“Seharusnya sekarang kau ada di penjara! Paling tidak dirantai di rumah sakit jiwa,” seorang perempuan muda menatapku sinis.

Perempuan yang mengaku Mama menyergah. “Tiara! Jangan memperburuk keadaan!”

Tiara tak terima disalahkan. Dia menukas cepat. “Papa meninggal gara-gara dia, Ma! Siapa yang akan membiayai keluarga kita? Siapa yang akan membayar biaya kuliahku? Siapa yang akan mengongkosi pengobatan Mama?” Ada bening mengalir pelan dari sudut mata indah itu.

Aku tersentak.

“Ma…”

“Ya, sayang? Kamu mau minum? Atau makan?” Mama bertanya lembut.

“Aku membunuh Papa?” Aku menatap Mama dengan lekat. Mama terdiam. Bibirnya kesulitan mencari kata-kata.

“Bu..bukan seperti yang kau pikirkan, Risa. Semua terjadi tanpa disengaja.” Mama mengalihkan matanya yang berkaca dari pandanganku.

“Kau tidak ingat, heh?” Tiara mencondongkan wajah cantiknya mendekatiku. “Tidak ingat? Tidak ingat malam itu kau mau kabur dengan pacarmu yang berandalan itu? Tidak ingat kalau saat Papa menarik tanganmu, kau menyentakkannya dengan kuat hingga dia terjatuh? Kau langsung pergi dengan pemuda sialan itu. Tapi apa kau tahu, saat jatuh kepala Papa membentur ujung meja dan mengakibatkan luka?”

Tiara memuntahkan kalimat-kalimat panjang disertai tatapan yang dipenuhi dendam. Matanya berkilat, tapi ada isak tertahan di lehernya.

“Papa sakit, Risa! Kau anak kesayangannya yang  tak tak tahu diri! Tak ada kabar sama sekali. Tak bisa dihubungi. Tak tahu diri!” Tiara menjerit tertahan, lalu terisak. Mama sudah sejak tadi tersedu di ujung ranjang. Aku membatu.

“Lalu kau kecelakaan. Kepalamu membentur aspal. Dokter bilang kau gegar otak ringan. Seharusnya kau mati saja seperti pacarmu itu!”

Aku menangis tanpa air mata. Batinku hancur.

“Papa….”

Tiara mengerti maksud ucapanku. Dia mendongak untuk menahan laju air mata yang mendesak. “Papa meninggal dunia karena serangan jantung ketika mendengar kau kecelakaan. Kau tega, Risa! Kau tega!” Tiara tak mampu menyembunyikan sedu. Dia berlari ke luar kamar. Mama masih menangis di tempat duduknya.

“Ma..” Lirih kusebut nama Mama.

Mama bangkit mendekat. Disusutnya air mata yang tumpah di pipinya yang mulai mengeriput. Seulas senyum susah payah dia kembangkan. “Ya, sayang?”

Aku menatap wajah lelah itu dalam-dalam. “Aku ingin menyusul Papa.”

Iklan

30 thoughts on “Dance With My Father

    • Attar Arya berkata:

      iya, mungkin karena pas bikin Titip Rindu itu aku bener-bener ‘mencurahkan isi hati’. bikinnya pake emosi. | kalau cerita ini mungkin karena bagian ‘penyebab ayahnya meninggal’ nggak banyak diceritain, hanya melalui kata-kata tokoh Tiara. | kalau menurut Ryan gimana? 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s