[Cerita Pendek] Beta

prompt 66

sumber

“Aku tak mengira hal mengerikan itu terjadi padaku. Rasanya aku ingin segera pergi jauh dari sini.”

Aastha, anak gadisku terus mengulang-ulang kalimat itu. Wajahnya tertelungkup di atas meja makan, ditingkahi isak yang mengiris hati. Ibu mana yang tak remuk hati melihat putrinya seperti ini. Tadi dia tiba di rumah lebih cepat. Biasanya setelah hari gelap baru Aastha tiba dari rumah majikannya. Aku resah di hadapannya. Kubiarkan Aastha merengkuh tenang sebelum kembali bertanya. Di luar senja kian tua, matahari semakin renta. Aku beranjak untuk menyalakan lampu lalu kembali menghadapi Aastha.

Beta, apa yang terjadi?” Kuusap rambut Aastha yang tebal dan panjang. Kini rambut itu terurai, tak lagi rapi terkepang. “Katakan padaku.”

“Mama..”

Gadisku mengangkat wajahnya yang pias berbalur air mata. Matanya yang besar memerah, sapuan kohl di bawah mata lenyap entah ke mana. “Aku diperkosa.”

Oh, Dewa!

Demi Wishnu! Dadaku sesak bagai terhantam palu. Tak pernah kusangka semalang ini nasib kami. Aku seorang janda dan kini anakku ternoda. Lelaki mana kelak yang sudi memperistrinya? Sekuat tenaga aku mencoba menahan butiran air mata yang hendak mengarungi pipi. Tapi aku cuma manusia biasa.

Oh, Brahma! Terbayang anakku yang cantik dalam kuasa angkara. Anakku yang bercita-cita menjadi artis terkenal. Dia rela bekerja mengumpulan rupee demi rupee untuk mewujudkan mimpi. Mimpi menjadi seterkenal Hema Malini idolanya. Mimpi yang kini pecah berantakan.

“Mama…maafkan aku! Maafkan aku!” Aastha kembali menangis pilu. Aku beranjak ke sisinya, memeluknya berbagi duka. Tubuh Aastha menguarkan aroma memuakkan. Pasti bau tubuh lelaki jahanam itu.

“Siapa…siapa yang melakukannya, Beta?” Kutekan suaraku saat menanyakannya. “Katakan padaku, Beta.”

Aastha menundukkan kepala. “Jeevan.”

Aku tersentak. “Jeevan?”

Anakku mengangguk. “Jeevan putra tertua Tuan Yashvir. Kemarin seluruh keluarganya pergi ke Delhi untuk berziarah pada makam leluhur. Jeevan tidak ikut karena sedang demam. Tapi itu cuma alasannya saja. Saat aku pamit pulang setelah memasak dan membersihkan rumah, dia memanggilku ke kamarnya. Lalu dia memperkosaku.”

Anak gadisku menangkupkan wajahnya lalu kembali terisak. Tangisnya mengiris jiwaku sebagai ibu. Aku bangkit tergesa.

“Mama…mau ke mana?”

“Lapor polisi!” kataku tegas. Meski kami orang miskin, aku tak terima puteriku dihina.

“Jangan!” Sorot mata takut tergambar jelas di wajahnya.

Beta!” Aku gusar mendengar perkataannya. Aku bersimpuh, kuraup jemarinya dalam genggamanku. “Jeevan harus mendapat balasan!”

“Kumohon, Mama. Jangan lakukan itu,” suaranya memelas. “Jeevan sudah mati.”

Oh, Shiva! Apa yang telah terjadi?

“Aku memukul kepalanya dengan vas.” Aastha kembali menangis, kali ini lebih keras. “Aku akan masuk penjara, Mama! Pecahan vas sudah kubuang ke dalam sungai, tapi polisi pasti akan temukan bukti lainnya.”

Kakiku goyah. Setelah masa depannya hilang sekarang anakku akan dipenjara? Tidak! Tidak akan kubiarkan! Bergegas aku menuju pintu.

“Mama! Lebih baik aku segera pergi dari sini.”

Beta, dengarkan kata-kataku. Segeralah mandi lalu tidur. Mama harus menemui pamanmu, Ravi.”

“Mama!”

***

Sebuah jeep berwarna hijau tua berhenti tepat di tengah lapangan milik desa. Empat orang polisi bertubuh tegap dengan kumis lebat segera turun. Penduduk desa yang sedang duduk berbincang di bawah sebatang pohon Neem berdaun lebat menghentikan pembicaraan mereka dan memperhatikan orang-orang yang datang.

“Siapa yang bernama Aastha?” seorang di antara polisi itu bertanya. Dari teras rumah aku memberi isyarat pada Ravi yang kemudian beranjak dan menyambut mereka.

“Ada apa, Inspektur….” Ravi melirik nama yang tertera di dada bidang itu,” .. Raam?

“Anak majikannya mati. Kami hendak menanyainya. Mungkin dia tahu sesuatu. Bisa jadi … dia pelakunya.” Lelaki itu berbicara dengan nada rendah di telinga Ravi. Dia lalu mengedarkan pandang pada penduduk desa yang mulai berkerumun.

“Kapan dia mati?” Raam menunjukkan mimik terkejut.

“Perkiraan kami tadi siang.”

Ravi melirikku. Aku tersenyum samar.

“Kalau begitu, kalian harus mencari  tersangka lain, Inspektur,” Ravi menjawab sambil tertawa pelan. “Sebab hari ini Aastha tak pergi ke mana pun. Dia ada di rumahnya sejak kemarin.”

Aku memberi isyarat tak kentara pada penduduk desa yang lain.

“Tadi pagi Aastha membantuku memasak. Anak itu rajin sekali,” seorang ibu bertubuh besar datang menyela. Sari birunya berkibar ditiup angin.

“Dan siangnya kami berbincang-bincang hingga menjelang sore tadi,” seorang lain menimpali. Kepalanya bergoyang-goyang.

“Betul. Seharian ini aku melihatnya terus di sekitar sini.”

“Ya, aku melihatnya.”

“Aku juga.”

Inspektur Raam tampak terkejut melihat reaksi kami. Tapi dia tak mau mengalah. “Aku harus menanyakan hal ini langsung pada Aastha. Tunjukkan padaku di mana rumahnya!”

Hatiku mendadak disergap cemas. Bagaimana jika Aastha tak mampu menjawab dengan baik? Bagaimana jika polisi itu membuatnya takut lalu mengaku? Bagaimana….

“Inspektur,” aku bergegas menuju dia. Lelaki gagah itu memutar tubuhnya ke arahku. “Aku Seema, ibunya Aastha. Maaf, bisakah kalian menanyai dia besok? Hari ini dia kurang sehat. Baru saja kusuruh tidur.”

Aku menatap matanya yang kelam. Penerangan seadanya dari lampu jalan membuat siluet wajahnya semakin tegas. Angin dingin berkesiur.

“Lebih cepat kita selesaikan urusan ini, lebih baik,” sahutnya dingin.

“Tapi, Inspektur…”

Permohonanku terputus. Sebuah suara terdengar dari pintu rumahku.

“Hei, ada keramaian apa ini?”

Aastha!

Memakai sari berwarna merah, rambut terkepang rapi, dan kohl yang tersaput manis, Aastha terlihat seperti remaja pada umumnya. Di lehernya tergantung manis seuntai kalung berkilauan.

“Ravi-ji, ada apa?” Dia bergayut manja pada pamannya. Ravi bertanya, “Ke mana saja kau seharian ini, Beta?”

Aastha memutar matanya, melirik ke arahku. Aku tersenyum menguatkan. Aastha ikut tersenyum.

“Tadi pagi aku memutuskan tidak ke rumah Tuan Yashvir. Kupikir karena mereka tidak ada di rumah, jadi mereka tak memerlukan aku untuk memasak atau membersihkan rumah. Lagi pula tubuhku sedikit demam. Jadi aku di rumah saja. Setelah agak baikan aku membantu Bibi Rani memasak lalu berbincang dengan bibi yang lain. Lalu kepalaku kembali pusing, jadi aku beristirahat. Ada apa, Paman?”

Mata anakku berbinar ketika menatap polisi yang menjulang di hadapannya. Ah, betapa pandai kau mengatasi ketakutanmu, Beta. Tak urung hatiku merasa cemas. Perubahan pada diri Aastha terlalu drastis. Tadi sore dia masih begitu ketakutan, tapi lihatlah dia sekarang. Seolah tak terjadi sesuatu pun pada dirinya.

“Apa kau tahu Jeevan anak majikanmu ditemukan tewas?” Inspektur Raam bertanya dengan nada ramah.

Aastha tampak tercekat. Sorot mata ketakutan tampak jelas di wajahnya. Aku mendekat dan memegang pundaknya. Aastha masih tergugu.

“Pasti dia tak tahu perihal ini, Inspektur. Aastha pasti merasa terguncang. Jeevan dan Aastha cukup dekat,” aku menjawab. Kurasakan tubuh anakku melemah. Segera kupapah dia menuju bangku di bawah pohon.

Kepala Polisi bergerak mendekati Aastha di bawah pohon Neem. Sepertinya dia masih ingin menanyai anakku. Tapi sebelum bibir tebalnya mengeluarkan suara, Ravi dengan sigap mendahului. “Maaf, apakah Inspektur Raam membawa surat penangkapan?”

Inspektur Raam menatap Ravi dengan tajam. Ravi balas menentang. Kepala Polisi menggeram.

“Aku anggap itu artinya tidak. Kalau begitu, kami tidak mengizinkan Aastha ditanyai lagi, Inspektur.” Suara Ravi berubah dingin. Dia seperti induk beruang yang sedang mempertahankan anaknya.

Inspektur Raam diam sejenak. Matanya tajam menyapu wajah kami semua. Lalu terdengar suaranya yang berat diiringi desahan panjang. “Baiklah. Kami akan kembali dengan surat penangkapan. Yang pasti, pembunuh itu akan kami temukan.”

Polisi gagah itu berbalik menuju mobilnya. Baru selangkah dia kembali menghadapi kami. “Oya, Nak, ” matanya terarah pada Aastha. “Jangan kemana-mana. Kami masih memerlukanmu.”

Lelaki besar itu memberi isyarat pada anak buahnya yang lain. Tubuh-tubuh tegap itu sigap menaiki jeep yang segera menderu berlalu. Desah napas lega terdengar di sana-sini.

Kutarik lengan Aastha yang tengah dikerumuni para bibi dan tetangga menuju rumah. Senyumnya tak seceria tadi. Wajahnya muram.

Beta, ada yang mau aku tanyakan.”

“Mama, aku mau pergi dari sini!” cetusnya tiba-tiba. Aku terkejut. Kenapa?

“Sungguh, Mama. Aku tak sengaja. Semua terjadi begitu cepat,” ocehnya panik. Matanya liar melihat ke segala arah.

Kutarik dia ke dalam rumah. Setelah mengunci pintu aku duduk di sampingnya. “Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan, Beta? Dan kenapa kalung itu ada padamu?”

Aastha tertunduk. Jemarinya meremas-remas ujung sari merahnya. Aku kian cemas. Oh Dewa! Sesuatu yang lebih buruk telah terjadi.

“Jeevan tidak memerkosaku.” Akhirnya kalimat itu ke luar dari bibir merahnya. Aku seolah tersambar petir.

“Apa maksudnya, Beta? Lalu, pengakuanmu tadi itu?” Aku dilanda kebingungan.

“Aku mencuri kalung milik istri Tuan Yasvir. Tapi Jeevan memergokiku. Dia mau membawaku ke kantor polisi, Mama. Aku menolak dan mencoba lari. Tapi dia mencekal tanganku begitu kuat, Mama. Jadi kuambil vas bunga dan memukul kepalanya. Dia jatuh, kepalanya membentur ujung meja. Kukira dia hanya pingsan. Cuma pingsan….”

Aku mematung di kursiku. Anakku. Anak kesayanganku yang cantik.

Beta…” suaraku gemetar. Aku tak tahu harus sedih atau murka. Anak kesayanganku!

“Aku mencuri kalung itu untuk biaya hidupku di Bombay nanti, Mama. Untuk sekolah akting, menari dan lainnya. Tapi…tapi sekarang…” Aastha meremas rambutnya.

Aku tersadar. Ada yang harus segera kulakukan. Aku bergegas menuju kamar. Mengeluarkan koper dan memasukkan baju-baju Aastha ke dalamnya. Setelah nyaris penuh, kuseret kotak kecil itu ke hadapan anakku. Kurenggut tangan Aastha, menariknya menuju pintu.

“Segera pergi dari desa ini, Aastha,” perintahku pendek. Kudorong tubuh ramping itu melewati ambang pintu.

“Dan jangan pernah kembali.” Kututup pintu diiringi air mata yang menderas. Oh Dewa! Rasanya aku ingin mati saja.

**

Yuk ikutan tantangan Prompt #66. Klik di SINI untuk info lebih lanjut. 🙂

1295 kata. Jauh melebihi ‘jatah’ yang dibolehkan. :p

beta : panggilan sayang, Nak.

-ji : panggilan hormat kepada yang lebih tua

Iklan

43 thoughts on “[Cerita Pendek] Beta

  1. ajenangelinaa berkata:

    Anuu bagus sih Bang cuma setuju aama Vanda polisi ga segitu aja nahan orang tanpa ada bukti. Dipanggil jadi saksi biasanya dibawah ke kantor polisi bukan ditanyai di rumah…
    yang jelas ini bagus.

  2. chocoVanilla berkata:

    Waahhhh…kebayang Inspektur Vijay yg kumisnya serebal sikat WC ituu hahahaha 😆

    Bagus Bang, tapi kok pak inspektur terlalu mudah menyerah ya? Mestinya ada adegan pemaksaan dan nyanyi dikit2 lah 😛 (makin melebihi quota deh).

    Ini cocoknya buat novel, Bang. Sukses gak Astha jadi artis, lalu durhaka pada ibunya yg sakit2an… hayahhh 😆

    • Attar Arya berkata:

      hahaha, tadinya mau namain inspektur vijay, tapi kok jadi makin stereotipe yah? ntar kalo ada tokoh jahat namanya tuan thakur juga? 😀

      soal ‘gampang menyerah’, mestinya memang ada penjelasan tambahan yah. yang kebayang adalah menambahkan dialog yang menyatakan bahwa polisi akan kembali lagi karena saat itu tidak membawa surat penangkapan, jadi Aastha ga boleh ditahan/ditanyai.

      jadi novel? kebayang deh riset kehidupan ala india-nya bakal bikin goyang-goyang kepala…..alias pusiiiing.:p

  3. Anindita Hendra berkata:

    Keren mas! Bacanya sambil bayangin setting India nih, hehe.

    paragraf ini:
    Anakku mengangguk. “Jeevan putra tertua Tuan Yashvir. Kemarin seluruh keluarganya pergi ke Delhi untuk berziarah pada makam leluhur. Jeevan tidak ikut karena sedang demam. Tapi itu cuma alasannya saja. Saat aku pamit pulang setelah memasak dan membersihkan rumah, dia memanggilnya ke kamarku. Lalu dia memperkosaku.”

    mungkin maksudnya: ‘dia memanggilku ke kamarnya’ kali ya? CMIIW

    • Attar Arya berkata:

      ealahh… tiap minggu ngomentarin tulisan kawan-kawan di prompt MFF, sendirinya masih bikin kesalahan macam gini. dasar kamu, bang min! *marahin diri sendiri*

      hehe, makasih ya Dita. 🙂

  4. vanda kemala berkata:

    mungkin polisinya punya dugaan ke Aastha dengan penilaian dia yang ketemu terakhir kali sama korban. tapi lemahnya, polisi biasanya pasti langsung nemu vas sebagai alat kejahatan, dan polisi akan langsung cek sidik jari yang nempel di vas.

    polisi di sini terkesan cuma datang, minta keterangan, padahal di cerita-cerita model begini, polisi bisa aja langsung minta sidik jari Aastha, apalagi dengan dugaan tersangka utama.

    ini bikin tulisan model begini, gara-gara lagi baca TCC? hahaha, sotoy, ih… tapi mendinglah, udah nulis. daripada aku, komen melulu, tapi nggak nulis *kabur*

    • Attar Arya berkata:

      hehehe, ini gara-gara abang kebawa stereotipe polisi india jadul yang biasanya selalu lelet dan ketinggalan jaman. *ampun om Shah Rukh Khan. 😀

      masukan yang bagus, Vanda. Ntar edit dikit ah soal vasnya. 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s