[Flashfiction] Janji Sang Presiden

Di depan podium lelaki gagah itu berdiri tegak. Peci di kepalanya terpasang rapi. Jas hitam mengilat melekat sempurna di tubuhnya. Senyumnya berwibawa. Tatapannya memancarkan pesona.

Di hadapannya ratusan – mungkin ribuan- orang khidmat siap menyimak semua kata-kata dari bibirnya. Semua pandangan hanya miliknya.

“Saudara-saudaraku semua,” ia memulai kalimat. Memberi jeda agar tiga patah kata itu terserap sempurna bagi semua orang.

“Saudara-saudaraku semua. Hari ini kita merayakan era baru negeri kita tercinta. Kemenangan ini bukan hanya milik segelintir orang saja. Kemenangan ini milik kita semua.”

Seluruh rakyatnya terbius. Sementara ratusan –mungkin ribuan- orang di dalam ruangan menahan diri untuk tidak bertempik sorak, orang-orang yang berkumpul di luar gedung, di dalam rumah, dan tempat-tempat lainnya tak kuasa menahan suka. Mereka meninju udara, memekikkan kata merdeka, dan bersuka ria. Kamera televisi menampilkan beragam gambar dari seluruh negeri.

Lelaki gagah berjas mengilat itu masih bicara di depan podium. Bahasa tubuhnya jelas : menampilkan kuasa yang tak terbantah. Tak ada yang berani menyangkal pesonanya. Janji-janji manis berhamburan. Pembangunan melonjak, pengangguran menukik. Tegak hukum, sejahtera merata. Dia tampil bagai manusia setengah dewa.

****

Dua orang manula di sebuah rumah sederhana menyaksikan semua kemeriahan itu sambil mengelus dada. Lelaki tua memandang sedih pada perempuan keriput di sampingnya. Mata mereka bertemu. Ada bahasa yang tak teraba.

“Aku tak mengira semua akan jadi begini, Pak” lirih bisik perempuan tua.

Lelaki tua mengangguk. Menyesap teh hangat dari cangkir lalu menengadah.

“Dia tak pernah berubah. Kita sudah tahu sejak dulu.”

“Yah…” si lelaki menyahut pendek.

“Aku pikir dia akan berubah, Pak. Ambisi yang dia pendam sejak lama akhirnya terwujud. Tapi tidak dengan janji yang dia tebar.”

“Bu, sudahlah. Aku sudah lelah. Matikan saja video rekaman anak kita itu. Harapan kita sudah nyaris musnah.”

Lelaki tua beranjak dari kursi rotannya. Tertatih dengan tongkat menuju kamar. Sambil berjalan, dia melirik koran pagi yang tergeletak di atas meja makan. Judulnya menusuk hati : Janji-janji Tak Terbukti, Presiden Terancam di Impeachment.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Iklan

5 thoughts on “[Flashfiction] Janji Sang Presiden

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s