[Flashfiction] Denting untuk Anakku

ayah gendong bayi

sumber

Bimo berlari tergesa menuju rumahnya. Ceceran oli dan debu masih lekat di baju kerjanya. Wajahnya tercoreng hitam, entah karena apa. Tapi senyumnya lebar menyimpan riang.

“Cepat, Bim!” Di depan pintu pagar ibunya menanti dengan tak sabar. “Istrimu hampir melahirkan.”

“Eh, sebelum masuk ke kamar, cuci tangan dan muka lalu ganti baju,” perintah perempuan setengah baya itu. Bimo mengangguk.

Baru saja ia selesai membasuh muka dari arah kamar utama terdengar suara tangis bayi. Bimo menangkupkan tangan ke wajah. Matanya membulat, senyumnya merekah.

Seorang kerabat menarik tangannya dan mengajaknya ke kamar.

‘Lama amat sih! Tuh, anakmu sudah lahir duluan. Semoga dia sempurna, yah.”

Bimo melangkah pelan ke arah ranjang. Terbaring lemah di atas kasur putih beralas kain perlak seorang perempuan muda. Wajahnya letih, tapi senyumnya seterang matahari. Di sampingnya, seorang bayi mungil tengah dibaringkan.

“Anak kita, Mas Bim,” bisik perempuan itu. Bidan mengangkat makhluk mungil itu dengan hati-hati, menyerahkannya ke pelukan Bimo.

“Pelan-pelan, Mas,” bisiknya, takut membangunkan bidadari yang tengah tertidur.

Hati Bimo bungah. Di dadanya ada separuh nyawanya. Anak yang dinanti sejak sembilan bulan lalu. Anak yang –semoga- sempurna jiwa raganya.

Bimo memberi ciuman sayang untuk buah hatinya. Lalu bibirnya terbuka, hendak mengumandangkan azan. Orang-orang yang ada di dalam ruangan menatap iba.

“Argkkk…akkk…”

Hanya ada suara parau yang terdengar dari bibirnya. Lenguhan tak jelas. Tapi wajah Bimo tetap khusuk. Ketenangan tergambar jelas. Dia terus bersuara hingga akhirnya berhenti.

“Biar Bapak yang bantu azankan anakmu, Bimo,” mertuanya menyela. Senyuman maklum dia tampilkan di wajah. Bimo tak merasa tersinggung. Memang sudah seharusnya.

Mertuanya selesai mengenalkan bayi mungil itu pada Tuhan. Bimo memberi isyarat agar lelaki paruh baya itu ikut ke luar. Bimo melangkah mantap menuju sebuah piano tua di ujung ruangan. Tangannya bersiaga di atas tuts.

“Uhh….” ia memberi isyarat. Mertuanya paham, lalu duduk di kursi terdekat. Sesudah menghela napas panjang, jemari Bimo menari lincah di atas tuts. Instrumental lagu Timang-timang mengalun merdu. Satu-satunya lagu yang ia bisa.

“Timang-timang, anakku sayang,” bisik hati Bimo.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Iklan

21 thoughts on “[Flashfiction] Denting untuk Anakku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s