[Cerita Pendek] Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Prompt 64

sumber foto : dok. pribadi Rinrin Indrianie

Akhirnya kutemukan kau, Pak Tua!

Aku mendesiskan nama lelaki itu dengan geram. Dari balik tanaman pot penghias sebuah rumah makan kuamati lelaki itu. Dia sedang berteduh dari hujan di sebuah kios kecil yang menjual perabot dari gerabah. Di bawah kanopi kulihat dia berulang kali mengusap wajah yang terkena air hujan. Sepedanya terparkir  di bawah sebatang pohon mangga, dimuati seikat penuh rumput gajah. Berkali-kali dia menengadah menentang langit yang terus menjatuhkan jarum-jarum air. Langit masih pekat, hujan mungkin masih lama.

Ternyata tidak. Hanya berselang sekian menit, hujan deras berganti gerimis. Lelaki tua itu bersiap pergi. Topi caping dia kenakan. Setelah mengucapkan sesuatu pada pemilik kios, dia berjalan menuju sepedanya dan mulai mengayuh.

Kau tak akan lolos dariku!

Kubayar minuman yang kupesan lalu bergegas ke jalan. Menghentikan sebuah becak dan memberi perintah.

“Ikuti sepeda itu!”

Lelaki tua pembawa rumput  itu mengayuh dengan susah payah. Otot-otot di tubuh tuanya meregang kelebihan beban. Seharusnya sudah sejak bertahun-tahun lalu dia berhenti bekerja. Apa yang terjadi? Ke mana semua uang yang ada padanya?

Di sebuah gang sepeda membelok. Aku terpaksa berhenti. Gang itu terlalu sempit untuk dilalui becak. Kubayar ongkos dan berjalan tergesa mengikuti arah perginya lelaki itu. Dia tak akan pergi jauh.

Dugaanku benar. Di belokan terakhir kulihat sepeda bermuatan rumput terpancang di depan sebuah rumah sederhana. Di teras, di atas bale-bale bambu dia dan seorang perempuan setengah baya duduk berdua. Perempuan itu mengipasi tubuh kurus lelaki di sampingnya. Rasa cinta terpancar jelas di matanya. Tiba-tiba aku dilanda kecemburuan luar biasa. Seharusnya…

“Rupanya kau sembunyi di sini, Pak?” Aku melangkah mantap mendekat. Senyum sinis kukembangkan. “Menikmati masa tua, heh?”

Dua manusia di depanku serempak berdiri. Wajah mereka dilanda kebingungan.

“Sudah lupa?”

“Kamu siapa, Nak?” Lelaki itu bertanya.

“Benar-benar lupa?” Aku balik bertanya. Sudah begitu pikunkah lelaki ini?

“Pak, anak ini siapa?” Kali ini perempuan itu yang bertanya. Tangannya meremas lengan kurus lelaki itu. Kubuka satu kancing kemejaku, menunjukkan tanda lahir di leher.

“Ingat?”

Sejenak dia berpikir. Keningnya berkerut. Lalu seolah dihantam ombak besar, kakinya goyah. Perempuan di sebelahnya menjerit kecil dan berusaha menyangga bahunya.

“Dia…dia Mahdi. Dia…anakku.”

***

Aku diam menatap lelaki itu tanpa kedip. Sesudah berhasil menenangkan diri, dia meminta perempuan itu –istrinya- untuk meninggalkan kami berdua duduk bersebelahan di bale bambu.

“Ada urusan yang harus diselesaikan,” ujarnya singkat. Istrinya menurut.

“Kau sudah besar sekarang. Gagah.” Dia tersenyum padaku.

“Itu pujian?”

Senyumnya menghilang dengan cepat. “Aku tak menyalahkanmu jika membenciku.”

Tinjuku menghantam bale-bale. Aku menggeram. “Tentu saja! Kau meninggalkan ibu, menguras semua hartanya, dan mengirimnya ke rumah sakit jiwa!”

Wajah keriput di depanku terhenyak. Entah karena kalimatku atau karena wajahku yang kuyakin tampak menakutkan. Lalu dia menggeleng sedih.

“Aku tak melakukan semua itu,”tolaknya.

“Bohong!”

“Keluarga ibumu yang memaksaku pergi. Waktu itu umurmu masih setahun.”

“Harusnya kau mempertahankan keluargamu, bukannya malah lari!” sergahku berang. “Lagipula apa alasan mereka berbuat itu?”

Dia menghela napas panjang. “Karena aku terlalu tua buat ibumu. Karena aku duda. Karena aku orang biasa. Karena aku… ah, mereka tak pernah memberitahumu?”

Aku diam.

“Aku mengalah. Mereka mengancam akan memisahkan kau dan Sri. Apa arti seorang ibu tanpa anaknya?” Ada getar di tiap kalimatnya. Matanya menerawang.

Aku masih diam. Dia melanjutkan ucapannya.

“Aku tak mengambil sepeser pun harta ibumu. Aku pergi tanpa mengambil apapun. Kami berkirim surat diam-diam. Tapi ketahuan kakek dan nenekmu lalu kalian dipindahkan entah ke kota mana. Sejak itu kalian seolah raib. Sesudah letih mencari, aku pun memilih pergi. Dua puluh tahun, tapi seolah baru terjadi kemarin.”

Aku tercenung, mencoba mencerna semua cerita yang baru kudengar. Kisah yang jauh berbeda dari yang disampaikan kakek dan nenek tapi mirip cerita ibu.

“Bagaimana kabar Sri? Apa dia…sudah waras?”

Kutatap mata tua yang lelah itu. “Ibu sudah meninggal.”

Dia tercengang. Butiran bening  luluh di pipi keriput. Dia mengisak. Istrinya yang sejak tadi duduk di ruang dalam segera keluar dan memeluk tubuh renta itu.

“Sudah, Pak. Jangan nangis,” hiburnya.

Kuhela napas sebelum bangkit dari bale-bale. “Aku harus pergi,” kataku singkat.

Mereka masih berusaha menahanku tapi aku bergeming. Semua sudah jelas bagiku, tak ada lagi yang kucari. Dia punya istri yang mencintainya, hidup bahagia meski sederhana. Tinggal kami yang harus melanjutkan hidup.

Di depan gang kuhentikan sebuah becak. Saat becak melaju, kukeluarkan ponsel dan menekan sederetan tombol. Nada sambung terdengar singkat.

Gimana? Ketemu?”

“Nggak, Bu. Cuma ketemu kuburannya.”

Maafkan aku, Bu. Aku anak yang durhaka.

Iklan

45 thoughts on “[Cerita Pendek] Lelaki Tua di Tengah Gerimis

  1. Ryan berkata:

    akhirnya mas Riga turun gunung lagi… yayyyy
    keren mas ceritanya. bacanya asik tapi kasihan ibu… tak bisa bertemu pujaan hati. 😦

    • Attar Arya berkata:

      ..karena aku penulis yang kejam, Indah. Nggak rela tokoh-tokohnya hidup bahagia di akhir cerita. 😦 | tapi ada juga kok cerita yang ujungnya nggak sedih. Tapi dikit… hehehe.

      Makasih udah mampir yah 🙂

  2. Rizki Madfia berkata:

    Haha, ngakak pas baca bagian ini: Kubayar minuman yang kupesan lalu bergegas ke jalan. Menghentikan sebuah becak dan memberi perintah. “Ikuti sepeda itu!” (unik, biasa ngikutin org pake taksi, kali ini pake becak, haha).

    Dan terdiam ketika membaca endingnya: Dia punya istri yang mencintainya, hidup bahagia meski sederhana. Tinggal kami yang harus melanjutkan hidup. (Daleemm)

    Nice story, Bang. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s