[Cerita Hati] Gabuk Manok, Gabuk Itek

Piyoh - Gabuk

ilustrasi oleh Piyoh

Sebagai orangtua, pasti sangat memperhatikan kebutuhan anak-anak mereka. Segala daya upaya dikerahkan agar keperluan anak tercukupi, baik itu makanan, pakaian, pendidikan, dan lain-lain. Sering kita dengar cerita seorang ayah atau ibu yang rela menambah jam kerjanya untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Bersedia menunda keperluan dirinya sendiri agar kemauan anaknya terpenuhi. Bahkan seorang Ibu rela tak membeli bedak jika dia merasa uangnya lebih baik digunakan untuk keperluan anak.

Jika orangtua tergolong mampu, keinginan-keinginan anak bisa saja langsung dipenuhi. Pendidikan, pakaian, kendaraan (motor atau mobil), gadget dan banyak lagi. Tapi bagaimana jika orangtua termasuk golongan sederhana bahkan miskin? Pastilah ada skala prioritas yang harusnya diterapkan. Pendidikan adalah hal yang mesti diutamakan, setelah itu pakaian, dan seterusnya. Bisa saja perihal kendaraan dan gadget termasuk hal yang bisa langsung dicoret dari daftar.

Idealnya memang begitu.

Tapi pada kenyataannya tidak. Banyak orangtua yang bersedia melakukan apa saja untuk memuaskan keingingan anak kesayangan mereka tanpa memedulikan kemampuan diri sendiri. Ditambah lagi dengan kurangnya pengertian yang diberikan pada anak bahwa tak semua yang diinginkan harus terpenuhi. Akibatnya anak jadi manja dan tak mau mengerti keadaan orangtuanya.

Dalam masyarakat Aceh terdapat sebuah ungkapan yang berbunyi ‘Gabuk Manok, Gabuk Itek’. Secara harafiah artinya adalah ‘Sibuk Ayam, Sibuk Itik’. Idiom ini berarti seseorang yang terlalu mudah ikut-ikutan orang lain tanpa memikirkan baik buruknya. Tetangga punya mobil baru, jadi ingin punya mobil. Tetangga beli TV baru, jadi sibuk ingin punya juga. Padahal belum tentu barang tersebut dibutuhkan. Dan yang lebih penting lagi, belum tentu punya uang untuk membelinya.

Baru-baru ini ada peristiwa menyedihkan yang terjadi di daerah Kota Langsa, Kabupaten Aceh Timur yang sesuai dengan idiom masyarakat Aceh tadi. Kejadian ini menimpa sebuah keluarga, sebut saja keluarga Pak Man, yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan dua anak lelaki yang beranjak remaja. Kedua anak tersebut bersekolah di sebuah SMP Negeri. Kehidupan keluarga Pak Man tidak terlalu baik. Sebagai nelayan, penghasilan Pak Man tidak menentu meskipun istrinya sudah membantu dengan berjualan di warung depan rumah sewa mereka. Setiap satu atau dua tahun sekali –ketika harga sewa rumah naik- mereka akan pindah dan mencari tempat baru yang lebih murah.

Melihat kehidupan keluarga Pak Man yang terbilang susah, para tetangga di kampungnya berinisiatif membantu. Mereka menghubungi pihak Baitul Mal Kota Langsa untuk memberi bantuan kepada keluarga itu. Singkat cerita, pihak Baitul Mal Kota Langsa setuju memberikan bantuan berupa sebuah rumah sederhana untuk ditinggali. Bukan main bahagianya keluarga itu. Setelah bangunan itu selesai dibangun, mereka tak perlu lagi berpindah-pindah mencari rumah sewa yang lebih murah. Rumah itu dibangun atas nama mereka, bisa mereka tinggali sampai kapan pun, dan yang terpenting : tak perlu membayar!

Seharusnya setelah bantuan rumah ini diterima, kehidupan keluarga Pak Man jadi lebih baik, bukan? Harusnya mereka jadi punya uang untuk ditabung, persiapan dana masuk SMA untuk anak-anak, dan lain-lain. Tapi kenyataan berkata lain. Idiom ‘Gabuk Manok Gabuk Itek’ rupanya terjadi pula di keluarga ini. Dimulai dari keinginan ‘kecil’ seperti ingin punya televisi layar datar seperti tetangga, ingin memiliki kulkas, ingin ini, ingin itu. Hingga akhirnya timbul pula keinginan yang besar : ingin memiliki sepeda motor. Dua anak remaja keluarga Pak Man terkena ‘sindrom ikut-ikutan’ pula. Merasa kurang ‘gaul’ dan malu jika tak memiliki motor membuat keduanya merengek minta dibelikan. Mungkin awalnya Pak Man dan istrinya tidak mengizinkan. Tapi lama-kelamaan mereka luluh dan akhirnya mengalah. Pak Man membeli dua sepeda motor : satu untuk keperluan dia dan istrinya, satu lagi untuk dipakai anak-anaknya.

Dua sepeda motor? Dari mana uangnya?

Ternyata mereka menjual rumah bantuan yang mereka tempati seharga sekitar 60 juta rupiah dan kembali tinggal di rumah sewa. Tetangga-tetangga menyayangkan keputusan mereka, tapi Pak Man dan istrinya bergeming. Mungkin dalam pikiran mereka, yang penting anak-anak mereka tidak ‘dipermalukan’ teman-temannya karena tak memiliki sepeda motor, dan mereka bisa membeli barang-barang yang dulu tak bisa mereka beli.

Tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Kasih sayang yang berlebihan kepada anak justru membawa celaka. Salah satu putra mereka meninggal dunia. Penyebabnya : kebut-kebutan di jalan. Entah sedalam apa penyesalan Pak Man dan istrinya ketika mengetahui hal ini. Seandainya bisa, mungkin mereka berharap bahwa sepeda motor itu tak pernah mereka berikan pada anak kesayangan mereka. Atau sekalian mereka tak menjual rumah bantuan itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Sekarang  keluarga Pak Man tak punya rumah sendiri, kehidupan masih susah, dan yang paling menyesakkan dada adalah kehilangan seorang putra.

Ketika kisah di atas diceritakan pada saya, saya hanya bisa mengelus dada. Perilaku ikut-ikutan ini sudah sangat mengkhawatirkan. Sudah berkali-kali saya baca di surat kabar perihal remaja mencuri karena ingin punya smartphone terbaru, agar tak diejek kawan. Ibu-ibu yang menipu tetangga karena ingin beli perhiasan, agar tak kalah dengan ibu-ibu lain sesama anggota arisan. Atau kaum lelaki yang menggelapkan uang atasan hanya semata agar punya uang untuk foya-foya dan dianggap kaum gedongan.

Semoga saya, anda, dan kita semua tak tertular perilaku buruk seperti yang dikiaskan idiom terkenal dari Aceh ini : Gabuk Manok, Gabuk Itek.

“Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati” 

banner

Iklan

21 thoughts on “[Cerita Hati] Gabuk Manok, Gabuk Itek

  1. diahdwiarti berkata:

    innalillaahi wa innaa ilayhi roojiuun. anaknya jg ga bisa tahan godaan dunia. banyak yg begini mas. org kurang mampu tapi maksa. akhirnya kolaps semua, rmh tangga di ujung tanduk. naudzubillaahi min dzaalik.

  2. A. A. Muizz berkata:

    Miris banget, ya. Hanya untuk kepentingan yang nggak terlalu penting sampai rela melakukan hal-hal yang ‘berlebihan’. 😦

  3. Ie berkata:

    Aduh pak man…. piye to?? Opo ora eman duite..?

    *Apa ga sayang duitnya..

    antara prihatin sama salut nih dengan tulisannya bang! 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s