[Flashfiction] Cinta Tiga Dara

Prompt 62

sumber

“Aku senang akhirnya kita semua berdamai,” Mitha memecah kesunyian. Nita dan Sitta menghela napas panjang lalu mengangguk setuju.

Sitta mengibaskan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya. “Semoga hal ini tidak terjadi lagi,” bisiknya. Dia menggeser posisi duduk hingga wajahnya menghadap dua saudara kembarnya. “Maafkan aku,” lanjutnya lirih.

Nita yang duduk di tengah merangkulkan dua lengannya. “Jangan pernah lagi kita bermusuhan gara-gara cowok.”

Dua saudaranya mengangguk sepakat. Lalu yang ada hanya hening. Perempuan-perempuan cantik itu duduk diam di tepi dinding pembatas antara jalan dengan lembah terjal berbatu di sebelahnya. Tak ada yang bersuara untuk beberapa lama.

“Jadi, bagaimana dengan Hans?” Kali ini Sitta yang memulai percakapan. Dagu runcingnya menuding ke bawah. Di atas tanah terbaring sesosok tubuh dengan posisi tangan dan kaki yang tak wajar. Kepalanya miring ke arah yang tak seharusnya.

“Sudah, jangan dipikirkan. Kita pulang saja, yuk,” ajak Mitha. Kaki-kaki jenjang beranjak menjauhi dinding pembatas. Celoteh mereka terdengar riuh.

150 kata

Iklan

34 thoughts on “[Flashfiction] Cinta Tiga Dara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s