[Cerita Hati] Menyesal

danbo-sedih-menangis

Pernahkah kalian merasakan penyesalan mendalam setelah membuat suatu keputusan yang (dikemudian hari diketahui) mempengaruhi hidup orang lain? Aku pernah. Mungkin sudah berkali-kali tapi yang benar-benar kusadari adalah dua hal berikut ini.

Tahun 2010 Kementerian Keuangan membuka lowongan formasi untuk pegawai baru. Seperti tahun-tahun sebelumnya, penerimaan diumumkan melalui media massa dan situs instansi. Saat diumumkan, benakku langsung tertuju pada Nanda, adik bungsuku yang baru saja tamat SMA. Semenjak dia mulai masuk SMP sudah berulangkali kutanamkan ‘doktrin’ bahwa dia harus belajar dengan giat agar mendapat nilai bagus ( nilai kelulusan rata-rata minimal 7,00). Mengapa aku ‘mengharuskannya’ mendapat nilai sebanyak itu? Karena – sepengetahuanku- itulah nilai minimal yang menjadi syarat utama mendaftar sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Setiap ada kesempatan, ‘doktrin’ itu aku ulangi lagi. Kutanamkan pemahaman bahwa kami bukan orang berada dan aku sangat mengharap dia bisa diterima di STAN dan kelak menjadi pegawai  Kementerian Keuangan sepertiku.

Apa dikata, nilai akhir yang diperoleh Nanda tak sampai 7,00. Hanya kurang sedikit : 6,94. Dalam butir persyaratan penerimaan STAN ditegaskan bahwa nilai 7,00 adalah bukan nilai pembulatan. Bukan kepalang rasa kecewa di dadaku melihat hasil ujian adik bungsuku itu. Tak urung omelan pun kulayangkan padanya. Ah, bisa jadi saat itu dia pun sama sedihnya denganku.

Waktu berlalu seperti angin melesat. Tahun ini penerimaan mahasiswa baru STAN dibuka lagi. Kali ini aku berniat mengurus pendaftaran untuk keponakanku, Fira. Betapa terkejutnya aku ketika meneliti persyaratan yang dilampirkan (kuunduh secara lengkap beserta petunjuk pendaftaran dari situs instansi, hal yang tak kulakukan waktu itu.) Ternyata nilai 7,00 yang jadi persyaratan bukan murni dari nilai Ujian Nasional, melainkan dikompilasi dengan nilai ujian sekolah lalu dihitung dengan formula tertentu hingga didapatkan nilai akhir. Aku tercenung. Dadaku sesak. Bagaimana jika dahulu Nanda sebenarnya bisa mengikuti seleksi karena nilai akhirnya mencukupi? Bukankah kekurangan nilai 0,06 poin sangat mungkin tertutupi dengan nilai ujian sekolah yang umumnya lebih tinggi dari nilai Ujian Nasional? Bagaimana jika akulah yang menghalangi nasibnya? Seandainya Nanda mengikuti ujian saringan masuk dan tak lulus, aku akan lega sebab sudah mengusahakan yang terbaik yang aku bisa. Tapi jika untuk ikut ujian saringan masuk saja Nanda tak bisa dan kemungkinan besar itu karena salahku, tak terbayangkan rasa sesalku. Ah, maafkan abang, Nanda. L

Dan kecerobohanku terulang lagi. Kali ini terjadi pada seorang keluarga jauh yang berniat mengikuti pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil.  Fahrul, nama saudaraku, seorang sarjana jurusan Fisika dan ingin bekerja serta mendaftar ujian di wilayah Aceh Singkil. Setelah membantunya untuk registrasi peserta di situs umum untuk seluruh calon peserta, tanpa banyak berpikir aku menyuruhnya login di situs instansi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Toh, dia melamar untuk posisi guru fisika, pastilah kementerian dimaksud yang harus dituju. Begitulah pikiran pendekku menyimpulkan.

Setelah login di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mulailah kami memilih formasi dan tempat nantinya bekerja. Di sini ‘keanehan’ mulai terjadi. Saat memilih jurusan, pilihan yang ada hanya 4 yaitu Tenaga Administrasi, Tenaga Dosen, Tenaga Kesehatan dan Guru PPG SM3T.  Untuk menjadi dosen dan tenaga kesehatan jelas tak mungkin. Menjadi tenaga administrasi juga bukan keinginannya dan tak sesuai dengan kualifikasi. Pilihan terakhir ada lah menjadi Guru PPG SM3T. Apa itu? PPG SM3T artinya Pendidikan Profesi Guru Sarjana Mendidik di Daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal. Dan pilihan tempat bekerja nantinya adalah di Riau. Lho, kok? Bukannya tadi mau bekerja di Aceh Singkil? Kenapa tak ada pilihannya di sana? Benak kami berpikir keras.  Lalu sebuah kesadaran menghantam kepalaku dengan keras. Seharusnya kami login di situs Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dan bukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan! Sudah jelas-jelas terlihat di bagian kop pengumuman , tapi tak ada satu pun dari kami yang menyadari hal itu. Memang di situs sebelumnya belum ada data yang secara resmi tersimpan, sebab belum menekan tombol ‘save’. Tetapi ketika mencoba login di situs Kementerian PAN dan RB sistem selalu menolak dan menyatakan : Login gagal.

Ya Tuhan!

Apakah aku mengulangi lagi kesalahan yang pernah kubuat dulu? Dengan penuh rasa bersalah aku meminta maaf pada Fahrul. Kulihat sikapnya ‘biasa’ saja. Aku tak tahu bagaimana isi hatinya. Ingin rasanya kuremas-remas rambutku sebab kekeliruanku bisa saja menutup kesempatannya mendaftar dan menjadi Pegawai Negeri Sipil. Ah, berat sekali rasanya saat tahu keputusan yang kubuat ternyata salah besar dan mungkin mempengaruhi jalan hidup orang lain.

Semoga nggak terjadi lagi. Amiin.

Iklan

13 thoughts on “[Cerita Hati] Menyesal

  1. Orin berkata:

    Aku percaya hukum sebab-akibat bang, mungkin ‘kekeliruan’ abang menyebabkan mereka gagal, tapi tidak menutup kemungkinan-kemungkinan lain (yg lebih baik) datang sebagai akibatnya 😉

  2. chiemayindah berkata:

    Rasa bersalah karena melakukan sesuatu yang salah yang berdampak pada orang lain atau diri kita memang tidak mudah dihadapi bang. Saya juga mengalaminya…. rasanya ingin mengulang waktu atau mendapatkan kesempatan lain hanya untuk memperbaiki kesalah itu…. #MalahCurhat

    Tapi… kalau kita melihat dari sisi lain.. itulah yang dinamakan takdir… jalannya bermacam-macam. maka seorang teman berkata pada saya.. jadikan penyesalan itu pelajaran di masa depan… karena kalau kita terus berkutat pada penyesalan itu dan berandai-andai jatuhnya adalah kita tidak percaya takdir….

    Jadi, mari kita sama-sama belajar dari kesalahan…. 😀

  3. Indah Sulistyowati berkata:

    Menurut saya itu bukan salah mas attar. Tidak ada kejadian di dunia ini tanpa seizinNya. Jadi, memang sudah begitulah jalannya.dengan atau tanpa mas attar takdirnya akan seperti itu tapi memang manusiawi sekali kalau perasaan bersalah itu muncul. Salam kenal 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s