[Cerita Pendek] Dahlia

saying_goodbye2

Dahlia bergegas ke luar dari kamarnya, menyeberangi ruangan lengang berlantai kayu oak yang disikat hingga mengilat menuju ruang duduk. Bertha, pembantunya memberitahu bahwa ada telepon menunggu.

Frank!

Dahlia merasakan debaran keras menghantam dadanya. Berulang kali dia hirup hangat udara petang di akhir musim panas. Ketika debar jantungnya mereda, diangkatnya gagang telepon berbentuk corong dari kotak kayu di dinding.

“Frank?”

Suara gemerisik terdengar dari kejauhan. Lalu suara seorang lelaki merasuki pendengaran Dahlia. “Sayangku? Itu kau?

Dahlia merasa bunga-bunga mekar di dadanya. “Ini aku, Cinta. Bagaimana keadaanmu?”

Aku baik-baik saja.”

Ada jeda mengapung di udara. Begitu banyak yang ingin diutarakan Dahlia. Begitu banyak cerita yang ingin dia bagi. Tapi semua mengental di ujung lidah, tersekat di sana tak mampu cair menjadi kata-kata.

“Kapan kau pulang, Frank?” Akhirnya Dahlia berhasil mendesak sebuah kalimat meluncur dari bibirnya. Frank mendesah berat.

Aku tak tahu, Sayang. September nanti pasukanku akan menyerbu ke garis pertahanan Jerman di Hindenburg. Jerman sudah terdesak, kemenangan Sekutu di depan mata. Semoga setelah itu kami segera dipulangkan.”

“Kau akan baik-baik saja, kan, Frank? Aku mencemaskanmu,” desah Dahlia. Pikirannya mengabaikan penjelasan Frank. Tangannya bergerak mengelus perut. “Sepertinya aku…”

Kalimat Dahlia terputus. Frank terdengar buru-buru. “Dengar, aku tak bisa bicara lebih lama. Aku harus bergegas kembali ke barak. Aku mencintaimu, Dahlia.”

“Aku juga…”

Klik.

“…mencintaimu.” Dahlia mengempaskan napas panjang. Corong telepon dia kembalikan pada kotak telepon bermerek Stromberg Carlson 2-line buatan Chicago Writing Machine, Co, 1903. Dahlia menatap benda itu lama. Benda yang dipasang ayahnya dua bulan lalu.

“Tapi mesin itu mahal!” sergah Tuan Nicholas kala itu.

“Papa, kita membutuhkannya untuk usaha Papa.” Mata Dahlia membulat, memohon. Tuan Nicholas seperti melihat mata mendiang istrinya. Dua puluh tahun lalu istrinya berpulang sesaat setelah mengantarkan Dahlia menyapa dunia. Penyakit yang diemban tubuhnya kala mengandung membuat Dahlia mewarisi penyakit yang sama.

“Sebenarnya ini semua agar kau bisa bicara dengan Frank, kan, Sayang?” tebak Tuan Nicholas. Pipi Dahlia bersemu.

“Dia kekasihku, Papa. Setelah perang berakhir kami akan menikah. Papa sudah tahu itu, kan?” ajuknya sambil memeluk lengan kokoh Papanya. Tuan Nicholas mengalah. Sejak mesin baru itu terpasang, Dahlia seolah tak ingin berada jauh-jauh. Telinganya selalu waspada akan suara dering telepon. Setiap sambungan yang terhubung seolah jadi penawar rindu pada Frank yang sedang bertugas di medan perang.

Dahlia tersadar dari lamunan lalu melangkah kembali ke kamarnya.

***

Frank meletakkan corong telepon dan kembali ke barak. Jimmy, temannya tersenyum. “Senangnya kau, Kawan.”

Frank duduk perlahan di bangku panjang dari kayu di depan barak. Tangannya meraih senapan dari atas meja dan dengan sikat kecil membersihkan moncong senjata pembunuh itu dari kotoran.

“Aku harap perang segera berakhir, Jim. Lalu kita kembali ke Amerika, melanjutkan hidup dalam damai.”

Jimmy tersenyum dan mengangkat sebelah tangannya ke udara dan berseru,Ameenn!”

Tepat ketika lengan Jimmy kembali ke samping tubuhnya, sirine meraung-raung. Sontak seluruh prajurit di dalam barak bersiaga. Suara-suara teriakan perintah mengaung di udara.

“Kita diserang!” Kalimat pendek itu menyadarkan semua prajurit.

Rentetan peluru dimuntahkan dengan kasar dari moncong senjata. Pasukan musuh terlihat dari balik bukit kecil di belakang barak. Semua berlarian mencari tempat berlindung. Frank yang telah mencapai parit perlindungan terkesiap melihat Jimmy tersudut di balik sebatang pohon. Hujan timah panas menyirami ruang di antara keduanya.

“Jimmy! Ambil jalan memutar!” teriaknya panik. Jimmy seolah tak mendengar, tetap nekat menerobos jarak menuju parit. Frank merasakan hatinya bergemuruh.

“Ahh!” Jimmy meraung ketika sebutir peluru menembus pahanya. Langkahnya sontak goyah. Frank memutuskan untuk bertaruh nyawa. Dia meloncati parit perlindungan dengan gegas, berlari secepat kijang menuju Jimmy. Tapi sebuah ledakan bom tepat di sampingnya membuat dunia Frank menggelap.

**

Dahlia murka! Dengan kepayahan dia berusaha berdiri berkacak pinggang. Matanya membulat, dengus napasnya memburu. Jemarinya menuding Bertha yang tertunduk tak berdaya di depannya.

“Kenapa tidak kau beri tahu aku sejak tadi, Bertha?”

“Maafkan saya, tapi tadi Nona tampak tidak sehat. Saya tidak berani…,” suara perempuan tua itu demikian kecil. Matanya kikuk menentang tatapan tajam majikannya.

“Lain kali bangunkan aku! Bagaimana kalau itu kabar penting? Bagaimana….” omelan Dahlia terhenti ketika dering telepon kembali meraung. Dahlia dan Bertha bersitatap.

“Tunggu apa lagi?!” sembur Dahlia. Perempuan tua itu tak menunggu omelan lebih lanjut. Diseretnya langkah menuju kotak cokelat yang menyimpan sebuah kabar. Dahlia berjalan gontai, perutnya yang besar menyulitkan gerakannya.

“Nona, dari Tuan Frank,”beritahu Bertha. Sesudah Dahlia menerima corong telepon, dia segera menjauh.

“Ya Tuhan, Frank! Empat bulan kau tak memberi kabar! Ke mana saja kau? Terakhir kita berbicara adalah bulan Agustus 1917. Dan sekarang sudah memasuki Januari 1918. Apa yang terjadi? Bukankah perang sudah selesai? Bukankah pasukan kita menang?” Kata-kata sarat emosi meluncur deras dari mulut Dahlia. Dadanya naik-turun menahan amukan rasa.

Dahlia….” suara di seberang terdengar ragu-ragu. “Boleh aku bertanya?”

“Frank, kau membuatku cemas. Ada apa?” Dahlia mengusap dahinya yang berpeluh. Suhu bulan Januari yang dingin bahkan tak mampu meredam bulir keringat di tubuh Dahlia. Mendadak dia teringat perihal penyakit mendiang Mamanya. Oh, tidak!

Aku…..”

Hening menyapa pendengaran. Menyiksa perasaan.

“Frank, cepatlah katakan. Jangan menyiksaku.” Dahlia kembali menyusut keringatnya. Ya Tuhan, ada apa dengan tubuhku, gumamnya. Penyakit itu?

Sesudah desahan panjang, akhirnya Frank mulai bercerita. “Hari itu setelah aku meneleponmu, barak kami diserang tentara Jerman. Kami…..”

Dahlia merasa kepalanya tiba-tiba pusing. Pandangannya mulai nanar. Penjelasan Frank tak lagi terang di pendengarannya.

“…dan aku terkena bom. Aku cacat, Dahlia.” Frank menuntaskan ceritanya.

Dunia jungkir balik di mata Dahlia. Corong telepon perlahan terlepas dari tangannya. Tubuh Dahlia perlahan rubuh ke lantai kayu yang dingin. Dari ruang seberang Bertha berseru panik dan gegas berlari. Corong telepon masih bersuara.

“Itulah sebabnya aku belum berani menemuimu, Sayang. Aku ingin tahu.…” sejenak Frank berhenti, meneguk ludah. “…apakah kau masih mau menerimaku?” Frank menyelesaikan kalimatnya dengan susah payah. Kecemasan menguasai dirinya. Dahlia belum juga menjawab.

“Nona Dahlia!” Bertha panik melihat darah mengalir dari sela kaki Dahlia. Di tengah kepanikan, tangan keriput Bertha meraih corong telepon yang menggantung lalu menutup sambungan.

Klik.

Dahlia? Sayang?

Dengan gemetar Bertha menekan beberapa tombol, menghubungi operator dan meminta disambungkan dengan kantor Tuan Nicholas.

***

Frank menangkupkan dua tangannya ke wajah. Dia menangis. “Dia tidak mau menerimaku, Jim. Dahlia menolakku,” isaknya pilu. Jimmy yang berdiri di sampingnya menepuk-nepuk bahu Frank.

“Aku turut bersedih, Kawan. Tapi apa tidak lebih baik kau temui langsung, Dahlia?” usulnya.

“Dan menerima penolakan sekali lagi, Jim?” Frank menatap temannya dengan mata yang basah duka. “Lihat tanganku, Jim. Kakiku!”

Frank kembali terisak. Jimmy hanya bisa diam. Detik demi detik berlalu dengan menyakitkan.

“Jim, bawa aku pulang,” pinta Frank lemah. Jimmy mengangguk patuh, tangannya meraih pegangan kursi roda dan membawa temannya yang tak lagi berkaki utuh.

***

Rumah kediaman Tuan Nicholas lengang. Lelaki gagah itu berkubang dalam kamarnya sejak kemarin. Tak bersedia ditemui oleh siapapun. Bertha menghela napas perih. Kesedihan ini sama seperti saat istri Tuan Nicholas meninggal puluhan tahun lalu. Bertha menatap seikat mawar di tangannya lalu beranjak menuju belakang rumah. Bunga-bunga itu dia letakkan pada sebuah gundukan tanah yang masih basah.

***

interpretasi bebas dari lukisan karya Salvador Dali : The Burning Giraffe and The Telephone.

Iklan

26 thoughts on “[Cerita Pendek] Dahlia

  1. Latree berkata:

    nama ‘Dahlia’ dan ‘Mira’ itu terasa sangat Indonesia. tapi kayanya kok settingnya, tempat Frank akan ‘pulang’ adalah Amerika, dan itu masa-masa perang dunia II.

    itu aja sih yang agak ngganjel.

    • Attar Arya berkata:

      Aku pilih nama ‘Dahlia dan Mira’ sebab terdengar klasik. Untuk Dahlia inspirasinya dari peristiwa Black Dahlia, yaitu pembunuhan Elizabeth Short yang punya nama kecil Dahlia (lahir di tahun 1927). Sedangkan nama Mira, memang terdengar sangat Indonesia, tapi beberapa orang terkenal dunia juga memiliki nama Mira : Mira Nair, sutradara India-Amerika atau Mira Sorvino, aktris peraih piala Oscar.

      Btw, mungkin dalam cerita tidak terlalu jelas petunjuknya, tapi waktu cerita adalah ujung perang dunia I, tahun 1918.

      Bagaimana pun, terima kasih untuk kunjungannya, La. 🙂

  2. junioranger berkata:

    Konfliknya kerasa bgt di tengah. Endingnya cuma sebagai pemanis pada pembaca untuk bilang ” Yaaah Dahlia yang mati,” >_< Keren la. Tapi aku ingin konflik di tengah sampai akhir. *abaikan*

    • Attar Arya berkata:

      thanks, Vanda. Iya, sebab settingnya tahun 1918 dan dunia kedokteran belum terlalu maju, maka abang posisikan diri sebagai orang yang juga hidup di jaman itu. Artinya abang juga nggak tahu itu penyakit apa. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s