[Flashfiction] Dendam Hitam

foto : deviantart.com

foto : deviantart.com

Suara-suara di hatiku kembali bergemuruh. Saling menimpali, saling bantah, saling menceracaukan sekian alasan. Lalu seketika hening seakan mati. Lalu ada suara lain menyeruak lirih, menelusup ke relung kalbu.

Karena di balik hitam kau akan menemukan terang.

Apa maksudnya?

Kulekatkan dua kelopak mata, memusatkan pikiran pada benak. Akankah suara itu hadir lagi untuk menjelaskan kalimatnya? Nihil. Seakan suara itu terbungkam, membiarkan akalku mengambil keputusan. Seolah tak ingin disalahkan jika yang terjadi kemudian adalah penyesalan.

Kuedarkan pandang ke sekeliling. Gelap telah purna menelan matahari. Secuil bulan terengah berusaha memancarkan sedikit cahaya yang dia punya. Tepi sungai ini diam. Suara serangga belum tiba, riak di permukaan air telah lama padam. Ingatanku terbang. Melintas jarak, menebas waktu.

“Bagaimana, Dafa?” Kujatuhkan ransel di bahuku. Benda lusuh itu tersungkur di tepi ranjang tempat anak lelakiku terbaring mengenaskan. Wajahnya lebam, luka-luka bertebaran di kulitnya yang dibungkus perban. Selang bening menghiasi hidungnya.

Perempuan yang kutanya menyusut bening di sudut matanya. “Belum ada perubahan, Yah.” Ada duka di tiap aksaranya.

Kurengkuh tubuh kurusnya, mencoba meraup sebagian duka di dadanya untukku, meski duka milikku tak kalah gunungnya. Aku ingin bertanya, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa laknat yang melakukan ini? Aku menuntut jawaban segera, tapi melihat cekung di matanya, aku tak tega.

“Dafa tak salah, Yah. Dia difitnah!” desis istriku perih. Kueratkan pelukan ketika tubuhnya getar tersedu.

“Dafa tidak mungkin mencuri,” ratap istriku di sela sedunya. Aku terperanjat! Anakku tidak mungkin mencuri!

“Dafa,” lanjut istriku,”dituduh mencuri uang hasil berdagang Pak Sabar, pemilik toko tempat dia bekerja selama libur sekolah ini. Padahal uang itu diambil Safia, anak perempuan Pak Sabar. Dafa memergokinya, tapi kejahatan itu malah dia timpakan pada Dafa. Anak buah Pak Sabar yang menghajar anak kita, Yah!” Isaknya kembali menghebat.

Hatiku sakit. Teramat sakit. Karena kami orang tak berada, tanpa bertanya mereka menghakimi anakku. Aku tak terima!

Tik.

Tik.

Gerimis yang turun perlahan mengembalikan sadarku. Langit kian gelap. Kuusap titik air yang membaluri dahi, sekaligus mendinginkan kepalaku. Tindakan ini salah. Aku tak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan. Pasti itu maksud kalimat ‘Karena di balik hitam kau akan menemukan terang’ tadi. Jika kuikhlaskan kejadian yang menimpa anakku, mungkin akan kutemukan kedamaian.

Kutatap koper besar di sebelah kakiku. Kubuka ritsletingnya. Sesosok tubuh meringkuk di dalamnya : Safia. Kakinya kuikat, begitupun tangannya. Mulutnya kusekat lakban dan matanya kututup kain.

“Aku akan melepaskanmu. Jadilah anak yang baik,” gumamku pelan sambil merengkuh tubuh mungil Safia yang gemetaran. Rencananya gadis ini akan kutinggalkan di sini, lalu kuhubungi orangtuanya untuk menjemput.

Tiba-tiba sunyi robek oleh dering telepon. Kududukkan Safia di dalam koper. Kutekan tombol ‘on’ dan jeritan keras istriku menyeruak ke dalam telinga. Menikam jantung, mengoyak jiwa. Kami sudah tak memiliki putra.

Butiran bening seolah berlomba menuruni pipiku. Runtuh sudah segala harapan yang tadi kukemas rapi. Kuraih tangan mungil remaja belia itu, membimbingnya berdiri. Kubuka lakban di mulutnya. Tangisannya mengotori sunyi.

“Jangan menangis, Manis. Biar orangtuamu yang melakukan itu.”

Kudorong tubuh Safia hingga tercebur ke dalam air yang dingin. Sejenak dia jerit meronta sebelum air sungai menelannya. Gerimis kian hebat.

“Ya, biar ayah ibumu yang menangis untukmu.”

500 kata

Iklan

29 thoughts on “[Flashfiction] Dendam Hitam

  1. Ryan berkata:

    Ini abang Riga yang nulis??? seriusan???? beda benerrrr.
    Bang.. belum jadi salah satu psikopat dalam serial CSI atau Criminal Mind kan?

    Suka sama ceritanya… benar-benar kelam dan suram. Terang di balik gelap telah menjadi gelap selamanya karena duka.

    • Attar Arya berkata:

      iya, Ryaaaaaan. kadang-kadang sisi ‘gelap’ diriku suka muncul. kalo pas nulis, jadinya cerita gelap gini deh. hehehe, becanda. | jujur, melihat prompt yang disediakan, awalnya kepikiran untuk membuat cerita ‘bijaksana sarat makna’, ala cerita sufi. Tapi kok ya begitu mulai nulis, ketemu ide cerita, jadinya malah nggak cocok bikin cerita bijak. Jadilah kayak gini.

      makasih udah suka, ya Ryan. 🙂

  2. Rizki Madfia berkata:

    Yang sadis kayak gini juga enak kok, Bang. 😀
    Ceritanya menarik dan diksinya keren. Gimana sih Bang biar bisa nulis rapih dengan diksi dan alur yg enak gini? Rasanya FF saya masih kasar racikannya. Jam terbang kali yaa? 🙂

    • Attar Arya berkata:

      saat menulis ini – dan juga cerita lain-, Rizki, abang berupaya menyelami karakter para tokoh. seorang ayah yang tersakiti, berupaya mendengarkan nuraninya yang bersih, tapi akhirnya kenyataan pahit membuatnya berbalik arah. selesai menulis, ubah posisi dari penulis jadi pembaca. adakah yang ‘mengganjal’ dari cerita? menimbulkan pertanyaan? terjegal logika? nah, kalau ceritanya sudah ‘pas di hati’, baru deh diksinya diperhatikan. adakah yang bisa diganti dengan kata lain yang lebih ‘estetik’? atau malah diganti kata sederhana agar lebih mengena. abang rasa, makin sering menulis, makin memahami diri sendiri, Rizki. setelah mengerti diri sendiri, mudah-mudahan cerita yang kita buat benar-benar cerita dari hati. 🙂

      • Rizki Madfia berkata:

        Hmm.begituu *manggut-manggut*. Mulai dari menjadi tokoh cerita –> menjadi pembaca –> edit diksinya.

        Kalau menulis fiksi, aku baru2 inilah, Bang. Seumur2 baru berhasil buat satu cerpen. Kalo FF sebelum ikut MFF baru buat 3. Syukur deh, dua bulan ini bisa gabung di MFF. Jadi bisa aktif dan belajar nulis fiksi. 😀

        Oke deh, makasih ya buat tips-nya, Bang. Tinggal nyoba dipraktekin aja nih, hehe 😀

  3. Orin berkata:

    sadis bang, tapi kupikir prolognya kepanjangan bang, banyak narasi yang -menurutku- ga perlu *edisi sotoy* heuheuheu….

    • Attar Arya berkata:

      makasih udah mampir yah… 🙂 | iya, ini cerita yang kelam. Tidak semua orang bisa menerima kisah semacam ini. Aku pernah ditegur teman pas nulis cerita (lebay) perihal dua orang saling cinta, yang ketika satu orang mati, kekasihnya juga memilih mati. :p

      • Ie berkata:

        gpp… bikin cerita serem juga ga gampang kok… he he he…

        aku punya banyak cerita serem asli, karena kebetulan kerja di tempat yang rumor seremnya keren bener (malah curhaaaattt), cuma sayang aku ga pinter nulisnya… 😀 😀

        aku mampir lapak dirimu terus yaaa… buat belajar… 😀

        • Attar Arya berkata:

          Eh, seru tuh kalo punya banyak pengalaman kayak gitu. Coba aja ditulis, Ie. Nggak usah fiksi, kayak cerita ke teman aja. Nggak usah dulu mikirin segala macam aturan menulis. Mengalir aja.

          Silakan berkunjung kapanpun mau, Ie. Makasih banyak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s