[Flashfiction] Ketika Takdir Berganti

Prompt 57

Lorong sekolah ini masih tampak sama seperti dua puluh tahun lalu. Letaknya di bagian belakang sekolah yang relatif sepi. Sisi kanan dikuasai deretan rak kayu tempat meletakkan aneka barang yang tak terpakai : bahan ajar kedaluarsa, buku soal siswa, perlengkapan olah raga, dan lain-lain. Di dinding kiri tergantung lemari tipis bertutup kaca: majalah dinding. Aku ingat, beberapa kali puisi buatanku mampir di dalamnya.

Aku menatap beberapa kertas di lemari kaca, menikmati beberapa puisi lama. Ketika berbalik, seseorang menyenggol bahuku.

“Eh, maaf,” meski ditabrak, aku lebih dahulu meminta maaf. Kulihat lelaki itu sedikit kesakitan memegang bahunya. Ketika wajahnya purna menghadapku, aku terkesiap.

“Pak Ronal?”

Wajah lelaki itu pun tak kalah terkejut. “Apa yang kau lakukan di sini? Nostalgia?”

Aku terdiam sejenak. Mencari kata yang tepat untuk menjelaskan keberadaanku. Lelaki tampan bercelana bahan dan kemeja biru di depanku berdiri tegap. Sorot matanya menunjukkan kepercayaan diri.

“Mengenang masa sekolah dulu?” dia kembali bertanya. Kali ini sorot matanya berbeda.

Ingatanku terbang ke masa silam. Saat aku duduk di kelas tiga SMP dan lelaki ini masih berstatus guru magang. Usia kami hanya terpaut sekitar tujuh tahun. Aku menarik napas dalam. Tak boleh, tekadku dalam hati. Aku tak boleh seperti anak kelas tiga SMP yang diam saja diperlakukan tidak patut.

“Dulu tubuhmu kecil sekali. Jika kuremas, kena tulangnya,” dia tersenyum lagi. Aku berusaha menahan marah. Ternyata dia sama sekali tak berubah. Ketika kata-kata kasar siap terlontar, ponselku berdering. Syukurlah. Kujawab panggilan yang masuk.

“Saya di lorong belakang sekolah, Pak Musa. Iya, saya tunggu.”

Semenit kemudian seorang lelaki separuh baya menghampiri kami.

“Lho, ada Pak Ronal juga. Sudah habis masa cutimu?” Pak Musa menyalamiku dan Ronal. “Kau masih ingat Pak Reyza ini, kan Ronal? Dia kepala sekolah kita yang baru.”

Wajah Ronal pias. Kutepuk bahu Pak Musa, mengiyakan ajakannya masuk ke ruang kepala sekolah. Mengabaikan Ronal sepenuhnya.

300 kata

Iklan

16 thoughts on “[Flashfiction] Ketika Takdir Berganti

  1. dicko (@dicko_andika) berkata:

    Eemm…good short story, bg. :). Singkat sekali tapi, sehingga semacam ada kisah yg ditutupi atau dipaksakan muncul. Aq sih tangkepnya gini, Reyza dan Ronal ini punya semacam affair :D. Bukan bully, tapi lebih semacam pelecehan seksual…. #eeaaa #DikejarMasa

    • Attar Arya berkata:

      memang lah, naluri Dika paling tajam menganalisa soal beginian. *digaplok* :p

      memang, ‘pesan tersembunyi’ yang aku maksud adalah pelecehan seksual sekaligus bully. Eh, bukan pesan tersembunyi ding, udah aku tulisin di tag-nya : pelecehan seksual. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s