[Flashfiction] Sang Pencabut Nyawa

sumber : deviantart

gambar : deviantart

Pada sebuah senja yang kering aku datang menemuinya. Lelaki berjubah panjang yang sedang termenung sendiri di bawah sebatang kurma kerontang. Angin mati petang itu. Surya masih perkasa di punggung langit. Kulihat bulir keringat berlomba jatuh di pelipisnya. Tapi sepertinya lelaki itu tak peduli.

“Salam, Tuanku,” aku menyapa. Dia memalingkan wajah mulianya ke arahku. Senyum tulus diberikannya padaku. Saat menjumpainya aku menggunakan wujud yang menyenangkan mata, bukan wujud menyeramkan.

“Salam. Apakah waktuku telah sampai?” Suara lembut berwibawanya menyapa pendengaran. Sejenak aku terdiam. Meski dia telah menebak dengan tepat tujuan kedatanganku, tetap berat rasanya untuk mengiyakan.

“Benar, Tuan.” Akhirnya dengan susah payah maksudku pun terucap. Kutatap dalam-dalam bening wajahnya yang tak menunjukkan perubahan apapun.

“Ah..rupanya begitu. Meski masih sedikit orang yang berhasil kuluruskan jalannya, sepertinya tugasku sudah selesai.”

Selesai berkata-kata, lelaki mulia itu kembali diam. Aku juga diam. Aku tidak berhak berkomentar atas tugasnya. Aku teramat menghormati lelaki ini. Bahkan untuk menjemputnya pun aku menunggu kerelaannya. Padahal biasanya jika titah telah sampai, tak sedetik pun kusia-siakan.

“Kalau begitu lakukan tugasmu, wahai Sang Pencabut, aku ikhlas. Namun sebelumnya izinkan aku berdoa.”

Lelaki di hadapanku mengangkat kedua tangannya, matanya memejam dan bibirnya berbisik lirih. Semenit kemudian dia membuka mata.

“Aku siap.”

Aku telah diperintahkan untuk melakukannya dengan cara yang paling halus, paling lembut. Seperti menarik sehelai rambut dari tumpukan tepung. Demikian lembut sehingga rambut tak putus dan tepung tak terserak. Tapi tetap saja kulihat mata itu memejam demikian erat. Bibirnya gemetar, tak putus menyebut nama Tuhan. Bulir keringat meluncur deras. Rohnya mulai meninggalkan kaki, lalu badan, berlanjut ke dada. Betapa berat penderitaannya kulihat. Tapi, aku tak punya pilihan selain menuntaskan tugas. Sesaat sebelum tugasku purna, kudengar dia menarik napas terakhir yang digunakannya untuk menyebut nama Tuhan.

Selesai. Kini sesosok kaku yang ada di hadapanku. Wajahnya damai, bibir pun tersenyum. Aku tahu dia ikhlas meninggalkan semuanya. Aku melesat pergi ketika beberapa orang menyadari sesuatu telah terjadi pada lelaki mulia itu.

“Ha! Lihatlah apa yang terjadi pada lelaki ini! Tuhan-tuhan kita telah menghukumnya!”

“Dia sudah mati! Sekarang dia tak bisa lagi menceramahi kita, tak bisa lagi menghina Tuhan-tuhan kita!”

Kulihat beberapa orang menghina jasad kaku itu. Mereka tertawa-tawa sambil menuding. Beberapa orang meludah. Hanya ada satu-dua orang yang berusaha mencegah sambil menangis pilu. Sungguh aku geram melihatnya, tapi aku sudah tak punya tugas lagi di sini. Hmm, sebenarnya ada, tapi bukan sekarang. Aku harus mengantarkan roh suci di dekapanku ini menghadap Sang Mahacinta.

*****

Bumi berguncang demikian keras. Awan legam pekat bergulung, menderu mendekati bumi. Kilat menyambar-nyambar. Angin kencang menerbangkan atap rumah, menumbangkan pepohonan. Kusaksikan lagi wajah-wajah para pendurhaka itu. Wajah-wajah sombong yang kini pias ketakutan. Beberapa dari mereka berteriak histeris, sambil berlarian tak tentu arah.

“Kami beriman! Kami beriman!”

Sudah terlambat. Azab telah datang sebagai balasan atas kemungkaran dan kedurhakaan kaum mereka. Telah datang seorang mulia, tapi mereka dustakan dan hinakan. Alam kian murka. Tanah rengkah mengerikan, menelan apapun di atasnya. Hujan batu menghantam tanah.

Sekarang saatnya, gumamku. Aku menukik turun ke bumi. Menyambar nyawa-nyawa durhaka. Kali ini dengan cara paling keras yang aku bisa.

500 kata

Iklan

12 thoughts on “[Flashfiction] Sang Pencabut Nyawa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s