[Flashfiction] Dokumen Terlarang

perpustakaansumber

“Buka pintunya!” perintah Sergei dingin. Ujung pistolnya menekan tengkuk Sofia. Perempuan muda itu tak punya pilihan. Dia mengarahkan mata kirinya ke arah mesin pemindai retina yang dipasang di kanan pintu. Terdengar bunyi mekanis saat seberkas sinar menelusuri mata Sofia. Suara perintah dari mesin terdengar.

“Tunjukkan tanda pengenal.”

Sofia mengeluarkan benda tipis seukuran kartu identitas dan menempelkannya ke bidang kecil di bawah mesin pemindai.

“Diterima.”

“Buka,” perintah Sergei. Sofia mendorong pintu itu hingga terpentang lebar. Terlihat sebuah ruangan dengan rak besar yang dipenuhi buku di sisi kiri dan kanan. Separuh sisi lain di tutupi rak kecil, menyisakan jalur kecil menuju ruangan berikutnya. Sergei memaksa Sofia terus berjalan, melewati sebuah sofa hijau tua yang terlihat nyaman. Sofia ingat, itu sofa favorit kakeknya, Josef. Ketika mereka telah memasuki ruangan berikutnya, keduanya tercekat.

“Leon!” jerit Sofia histeris. Di sudut ruangan seorang lelaki tertelungkup dengan sebagian tubuh tertutupi buku. Sebilah belati menancap di tengkuk. Sergei memucat.

“Sial! Ada yang mendahuluiku?” Sergei panik. Dia berseru pada Sofia. “Kau, temukan dokumen itu atau nasibmu sama dengan lelaki itu,” ancamnya.

Dalam keadaan genting, Sofia mencoba berpikir jernih. Dia melemparkan pandang ke sekeliling ruangan. Ada yang aneh, benak Sofia mengalkulasi. Tempat ini terlihat cukup rapi, hanya ada satu sisi rak yang seperti dibongkar. Karpet bersih dari jejak sepatu. Dan mungkin mataku salah melihat, tapi sepertinya sebuah buku bergeser di tubuh Leon. Analisa Sofia terhenti kala sebuah dorongan keras menghantam bahunya.

“Cepat!” salak Sergei kasar. Sofia tertatih menuju sebuah lukisan yang tergantung di dinding sebelah kiri lalu menggesernya. Sebuah lemari baja kecil terpampang. Pintunya telah terbuka!

“Bangsat!” maki Sergei. Dia merangsek ke arah lemari baja, gegas membukanya. Lemari itu kosong. Sergei murka.

Diam-diam Sofia cemas akan keberadaan dokumen itu. Josef tak pernah memberitahu dia dan Leon perihal benda itu. Hanya satu kalimat peringatan.

“Sesuatu yang akan mengguncang keimanan.”

Ingatan Sofia terputus saat sebuah pukulan mendarat di kepalanya. Dia jatuh terduduk. Telinganya berdenging. Saat mendongak, matanya bertemu moncong senjata di tangan Sergei.

“Kau sudah tak berguna buatku. Sampaikan salamku untuk Josef,” dia menarik pelatuk pistol. Sofia memejamkan mata. Maafkan aku kakek, Leon, bisiknya perih.

Suara gemerisik dan seruan tertahan mendahului suara ledakan. Dor!

Ada denging berkumandang setelah pistol menyalak. Bau residu mesiu menguar. Lalu suara tubuh ambruk ke karpet. Sofia membuka mata. Leon tegak di hadapannya. Tangan saudaranya menggenggam pistol Sergei yang direbutnya tiba-tiba.

“Kau? Bukannya…” Sofia diselimuti bingung. Leon tersenyum. “Maksudmu pisau ini?” Dia mengacungkan sebuah pisau tanpa gagang. Sebuah ‘klik’ terdengar dan batang pisau muncul.

“Kudengar kau diculik. Jadi aku bergegas ke mari menyelamatkan dokumen ini,” Leon menarik hati-hati sebuah dokumen dari balik jaketnya. “Maaf, aku tak bawa pistol. Saat hendak pergi, kudengar suara kalian di luar ruangan.”

Sofia terperangah. “Dan ide terbaikmu adalah berpura-pura mati, hah? Konyol!” makinya sengit. Leon hanya bisa nyengir.

Hening.

“Apa yang akan kita lakukan dengan benda itu?” Sofia bertanya. “Apa isinya?”

Leon menghela napas. “Aku tak ingin tahu. Benda ini sudah meminta banyak korban jiwa.” Leon merogoh sebuah pemantik dari saku celana. Matanya meminta persetujuan Sofia.

Hanya sedetik berpikir, Sofia berkata mantap. “Lakukan!”

500 kata.

Iklan

23 thoughts on “[Flashfiction] Dokumen Terlarang

  1. ajenn08 berkata:

    Wahh setting bang Riga keren..
    Sejujurnya baca pas si leon pura2 mati saya agak malas tapi ending ketika mereka membakar tempat itu membuat saya memfavoritkan ff ini.

    • Attar Arya berkata:

      pura-pura matinya ‘cheesy’ banget yah. hahaha. jujur, kepikiran buat alasan pura-pura mati untuk Leon ini pas keingat adegan film SAW yang entah seri ke berapa itu. tapi, nggak seluruh ruangan dibakar kok, cuma dokumen ‘terlarang’ itu aja. | makasih udah mampir, Ajen. 🙂

  2. Ryan berkata:

    Sofia…
    Kok jadi keinget adegan demi adegan Da Vinci Code yak.

    hehehehe. Keren mas. Pas buka ruangan, malah inget Diagon Alley. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s