[Flashfiction] Janis dan Bintang Jatuh

“Saat bintang berpijar di langit malam, sebutlah satu permintaan. Peri-peri langit akan mendengarnya lalu mengabulkan.”

“Siapa sih yang buat kutipan kayak begitu?” Janis bertanya heran. Kei yang duduk di sebelahnya mengedik.

“Anonim.” Kei menjatuhkan majalah remaja di tangannya ke lantai.

“Kalimat bullshit,” Janis berujar singkat.

“Nggak percaya?” tanya Kei sambil merogoh laci di samping ranjang. Ketika sebuah wafer berhasil ditemukan, dia berseru riang “aha!”.

“Aku nggak perlu bintang jatuh buat dapatin yang aku pengen,” jawab Janis mantap.

“Termasuk cintanya Mas Bayu?” Kei melirik temannya yang tiba-tiba mematung. Mulutnya sibuk mengunyah wafer renyah.

Janis masih diam. Ingatannya melayang pada sosok tampan – ketua OSIS- yang penuh perhatian pada Janis. Sayang, perhatian itu juga dia berikan pada anggota OSIS yang lain. Bukan hanya pada Janis.

“Haloo? Ada orang?,” Kei mengacungkan bungkus kosong wafer di depan wajah Janis. “Ngelamunin Mas Bayu?”

“Ish, rese deh,” Janis merengut. Dia bangkit dari ranjang dan menuju balkon. Udara segar menyapa kulitnya. Di belakangnya Kei menyusul.

“Langitnya indah,” gumam Janis. Kei mengangguk. Sejurus kemudian dia berteriak.

“Janis! Bintang jatuh! Sebutkan permintaanmu, Jan!” jeritnya histeris. Seberkas sinar terang terlihat menelusuri garis langit.

“Eh, bentar! Itu bintang jatuh apa asteroid sih? Kok kelihatannya dekat banget ya?”

Tangan Kei bergerak menjambak kecil rambut Janis. “Udah jangan banyak tanya! Ntar keburu ilang bintang jatuhnya.”

Janis menggerutu pelan. Tapi tak urung matanya memejam dan bibirnya menggumamkan sebuah permintaan.

“Sudah?” tanya Kei harap-harap cemas. Janis mengangguk dan tersenyum. Di langit, benda berpijar itu sudah lenyap.

“Kamu minta apa?” Kei penasaran. Janis hanya menjulurkan lidah. “Pokoknya berhubungan dengan Mas Bayu,” dia berlari kembali ke kamar.

“Iiih, pake main rahasia-rahasiaan niiih,” jeritnya gemas dan segera menyusul temannya. Kei hendak menyerbu ke arah Janis untuk menggelitik tubuh langsing temannya agar segera mengaku. Tapi niat itu dia batalkan ketika menyadari di atas bantal ponselnya bergetar. Dia mengangkatnya.

“Eh, iya maaf mas. Hapenya di-silent tadi. Oh, iya Janis di rumahku,” Kei mengangguk-angguk. “Barangkali hapenya lowbatt, Mas. Ada apa? Nanti saja bilangnya? Baiklah.”

Saat menutup sambungan, wajah Kei berbinar.

“Ada apa sih?” giliran Janis yang penasaran. Kei tersenyum jahil. “Kasih tahu nggak yaa?”

Janis merengut. Kei tertawa. “Itu tadi Mas Bayu mau ketemu kamu. Nggak tahu ada apa. Kayaknya mendesak.” Kei memeriksa hapenya dan menemukan beberapa panggilan tak terjawab. Dari orang tua Janis. Kenapa ya? pikir Kei. Janis sudah izin menginap di sini kan? Pertanyaan Janis membuyarkan rasa heran Kei.

“Beneran mau ketemu aku? Ngapain?”

“Mana kutahu. Gara-gara bintang jatuh, kali? Dia tiba-tiba jatuh cinta lalu nggak tahan pengen nyatain sekarang juga.” Kei mengerling.

Janis melempar bantal ke arah Kei. “Ngarang!” Kei terbahak.

Tiga puluh menit kemudian sosok tinggi dan sedikit atletis itu tiba. Ketika melihat Janis di ambang pintu dia langsung menghambur dan memeluk Janis. Erat dan lama.

Janis sumringah. Keinginanku terkabul! jeritnya dalam hati. Di belakang mereka Kei tersenyum-senyum menggoda.

“Janis, kamu yang sabar ya,” suara lembut Bayu akhirnya terdengar. Eh? Maksudnya?

“Aku diminta orang tuamu ke mari untuk mengabari, ” Bayu menarik napas panjang,” rumahmu dihantam meteor. Rusak lumayan parah.”

Pandangan Janis berkunang-kunang. Oh, bintang jatuh!

499 kata

Iklan

32 thoughts on “[Flashfiction] Janis dan Bintang Jatuh

  1. Sri Wahyuni berkata:

    kasihan janis ya….berharap ketemu bayu untuk menyatakan cintanya ternyata malah kabar buruk diterimanya…….tapi meski dibilang berantakan sama mbak Istiadzah tapi boljuk tuh…ajarin bikin FF ya

  2. eugenia rakhma berkata:

    harusnya kejadia tragis ya rumahnya ancur..tapi respon janis dgn mata berkunang2 dan kalimat “oh, bintang jatuh! sukses bikin ketawa 😀 pake riset juga ya, Mas bikin ceritanya. Like it!

    • Attar Arya berkata:

      terima kasih udah mampir yah….

      cerita ini nggak pake riset, cuma emang pernah baca kalau ada meteorit yang nyampe ke bumi dan menghancurkan bangunan 🙂

  3. istiadzah berkata:

    Kenapa bukan ortunya duluan yg ngomong? Atau, Kei kok ga ngasih tau kalo Janis ngabarin berita buruk?

    Tumben Bang ceritanya agak berantakan nulisnya. Biasanya rapih. 🙂

    • Attar Arya berkata:

      hp-nya janis kan mati, jadi nggak bisa dihubungin.
      nah, perihal kabar yang dibawa bayu, dalam pikiranku, kabar buruk sebaiknya disampaikan langsung. jadi, bayu nggak bilang hal yang sebenarnya saat menelepon ke hape kei.
      maafkan bila masih berantakan, yah 🙂

  4. dian farida berkata:

    Wkkkkka, entah harus ketawa apa kasian.. Eh tp tuh mas Bayu kok tahu rumahnya Janis kena asteroid?tetanggaan?ortuny tmnny ortuny Janis?*kepo=).ato ad berita di TV, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s