[Flashfiction] Takdir Kala Senja

foto : cerita berkah.blogspot.com

foto : cerita berkah.blogspot.com

Rado menimang sebuah batu pipih berbentuk segitiga. Saat berdiri di tepi sungai berair bening ini, batu bertekstur halus itu menarik perhatiannya. Tangannya terangkat, sekuat tenaga melempar batu itu ke air. Batu itu seolah melompat di permukaan sebanyak dua kali sebelum akhirnya tenggelam. Rado merasa hidupnya mirip batu itu : tenggelam.

Rado menyukai suasana hening tempat ini. Sungai jernih dengan beberapa pohon besar di tepinya. Ditambah dengan lokasinya yang agak jauh dari jalan raya membuatnya sangat nyaman. Rado butuh tempat ini untuk menenangkan diri. Setelah segala yang terjadi.

“Dokter! Dokter, bagaimana istri dan anak saya?” Rado memburu seseorang berjas putih yang ke luar dari ruang operasi. Pria setengah baya itu menarik napas panjang. Rado dicekam kengerian.

“Maafkan kami, Pak Rado. Kami tidak berhasil menyelamatkan nyawa…”

Rado tak mendengar kalimat dokter itu hingga tuntas. Dunianya mendadak berputar hebat. Telinganya mendenging. Pandangannya nanar. Tepat sebelum tubuhnya lunglai, sepasang tangan menyangga : tangan milik ayahnya.

“Kau harus sabar, Rado. Ini sudah takdir yang Mahakuasa,” suara berat berwibawa itu terdengar sayup di telinganya yang berduka. Rado menggelengkan kepala. Dia tak percaya istrinya telah tiada. Padahal pagi tadi…

“Nina, mas nggak bisa antar kamu ke dokter pagi ini. Mas suruh si Bono aja yah,” kata Rado lewat telepon.

“Nggak usah, Mas. Aku bisa nyetir sendiri kok,” tolak Nina halus.

“Tapi, Nin…”

“Mas, “Nina menyela. “Kandunganku baru tujuh bulan. Aku masih bisa kok nyetir sendiri. Daah, sayang,” Nina memutuskan sambungan.

Itu terakhir kalinya Rado mendengar suara istri yang sangat dikasihinya. Dan bayi mereka? Oh, bayi malang itu harus berjuang hidup di inkubator. Rado tak sanggup membayangkan seandainya bayi itu pun pergi.

Senja telah menua. Di ufuk barat matahari mulai beristirahat.

“Rado,” ayah Rado memanggil perlahan.” Mari kita kembali, Nak. Kita temani anakmu berjuang.”
Rado menatap ayahnya dengan sayu, lalu mengangguk pelan. “Iya, Yah. Kita pulang sekarang.”

299 kata.

Iklan

6 thoughts on “[Flashfiction] Takdir Kala Senja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s