[Flashfiction] Mereka Berteriak!

foto : sidomi.com

foto : sidomi.com

Aku bersama Nadia. Sementara ayah dan ibu berada tak jauh dari kami. Tetapi kami tak melihat keduanya. Kami hanya mendengar suara-suara mereka saling berteriak. Lalu suara itu menghilang. Tak terdengar lagi.

“Kak, aku takut,” bisikku ke pada Nadia yang duduk diam di lantai. Kami berusaha menguping dari balik pintu kamar, tapi benar-benar tak ada lagi suara.

“Kak,” panggilku lagi, berharap dia segera melakukan sesuatu. Nadia tiga tahun lebih tua dariku, kelas satu SMP sementara aku duduk di kelas empat SD. Kami disekolahkan di kota sebelah karena ayah dan ibu menganggap sekolah di sana lebih berkualitas. Baru tiga hari kami pulang ke rumah setelah pengumuman kenaikan kelas.

“Kenapa ayah dan ibu bertengkar ya, Dek?” tanya Nadia. Aku menggeleng. Mana aku tahu. Nadia mengetuk-ngetukkan ujung telunjuknya ke pelipis, kebiasaannya saat sedang berpikir.

“Apa mungkin ada yang selingkuh ya?” Nadia mengemukakan sebuah teori. Aku mengerutkan dahi.

“Selingkuh itu apa, Kak?”

Nadia mendelik. “Masak begitu aja nggak tahu? Kayak yang sering disebut di sinetron itu loh!”

Aku menundukkan kepala. “Memang nggak tahu. Kan Om sama Tante ngelarang aku nonton sinetron. Disuruh belajar terus.”

Nadia berdecak. “Pokoknya kalau salah satu pasangan pacaran lagi sama orang lain itu namanya selingkuh.” Nadia memberi penjelasan. “Nah, kalau ketahuan mereka akan bertengkar hebat. Bisa sampai pukul-pukulan. Ujung-ujungnya sih bercerai.”

Nadia tiba-tiba terdiam seusai mengucapkan kata “bercerai”. Mukanya mendadak pucat. Dia segera bangkit dari lantai dan menarik tanganku.

“Mau apa kita, Kak?” tanyaku tak mengerti.

Nadia menyahut singkat. “Kita ke ruang tamu, bilang sama ayah dan ibu supaya jangan bercerai.”

“Kak, lihat!” aku berseru kaget. Aku ingin menangis rasanya. Di lantai ruang tamu kulihat pecahan vas bunga serta kertas-kertas berserakan di sofa. Nadia berjongkok di lantai. Sekejap kemudian dia tersedu.

“Lihat ini,” dia menunjuk sebuah pecahan kaca. Darah!

“Pasti ayah emosi, lalu memukul ibu dengan vas,” suara Nadia bergetar. Aku menangis sejadi-jadinya. Pasti sekarang ibu di rumah sakit, lalu bisa saja meninggal. Aku tak mau jadi anak yatim!

“Assalamualaikum,” sebuah suara terdengar dari teras. Aku dan Nadia menegakkan kepala. Sepertinya suara Ayah! Bergegas kami ke luar. Kami terpana, ibu berdiri di samping ayah. Telapak tangan kanannya di balut perban.

“Lho kok pada nangis?” Ibu keheranan. Aku dan Nadia menghambur ke arah keduanya. Aku memeluk ibu dan Nadia memeluk ayah.

“Pokoknya ayah sama ibu nggak boleh cerai!” isak Nadia. Aku mengangguk menyetujui ucapannya.

“Lho, kok mikirnya begitu?” tanya Ayah. Dia melirik Ibu yang juga memberi tanda tak mengerti.

“Itu, tadi kami dengar Ayah sama Ibu teriak-teriak. Lalu ada vas yang pecah, ada darah juga,” jelas Nadia. Ayah dan Ibu saling pandang sebelum akhirnya terbahak bersama.

“Ayo masuk dulu, biar Ayah jelaskan,” Ayah menggendongku dan menggandeng Nadia. Kami menurut.

Di ruang tamu Ayah menjelaskan. “Kami bukannya bertengkar tapi sedang akting.”

Akting? Aku mengerutkan kening. Belum sempat bertanya Ayah sudah melanjutkan. “Untuk acara tujuh belasan bulan depan kampung kita mengadakan semacam pertunjukan drama. Ayah dan Ibu jadi pemeran utama. Pokoknya cerita rumah tangga.” Ayah memungut kertas yang berserakan di sofa dan menyerahkannya pada Nadia. Nadia mengangguk-angguk.

Ayah melirik Ibu yang langsung melanjutkan. “Jadi tadi nggak sengaja tangan Ibu menyenggol vas hingga pecah. Saat Ibu beresin, jari Ibu kena bagian tajamnya sampai berdarah. Jadi Ayah sama Ibu pergi ke rumah Pak Burhan, Mantri Puskesmas itu. Dekat kok rumahnya.”

Nadia mengangguk paham. Sementara aku berusaha mencerna penjelasan Ayah. Sebuah pikiran melintas di kepalaku.

“Jadi Ayah sama Ibu jadi artis sinetron ya? Asyikk, nanti jadi terkenal dan adek bisa ikutan masuk tivi!” Aku terlonjak gembira dengan pikiranku sendiri. Ayah, Ibu, juga Nadia terpingkal-pingkal mendengarku.

578 kata.

Iklan

18 thoughts on “[Flashfiction] Mereka Berteriak!

  1. dian farida berkata:

    Bang, kenapa keyword ceritanya ditaruh diatas?jadi ketahuan sblm baca, kalau cuma akting untuk tujuhbelasan=(.bisa dpindah dibawah setelah cerita selesai nggak sih keywordnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s