[Cerita Hati] Hape Pertama

foto : duniabrilian.blogspot.com

foto : duniabrilian.blogspot.com

“Rin… ayah meninggal.”

Halo? Kenapa? Duh, sms aja yah. Sinyal di sini kurang bagus, batere hape pun udah mau habis.

Aku menghela napas panjang, mencoba menghentikan isak yang menyesak. “Ayah meninggal mendadak tadi siang. Kata dokter karena serangan jantung,” kataku terbata. Terbayang lagi peristiwa siang tadi ketika Ayah mendadak mengeluh sesak di dadanya, lalu hanya berselang hitungan jam beliau menyerah kalah.

Ya Allah! Kamu yang tabah ya, Za. Maaf aku hari ini mungkin belum bisa datang ke rumah. Aku masih di Banda Aceh.

Suara Fajrin, karibku itu terdengar sedih. Aku bisa merasakan jika ia benar-benar ikut kehilangan. Saat baru pertama bekerja di kota ini, dia sempat tinggal di rumahku untuk beberapa bulan. Ayah dan Bunda bahkan sudah menganggapnya seperti anak sendiri.

Sesudah mendengar beberapa kalimat penghiburan darinya aku menutup sambungan. Kupandangi benda seperti kotak panjang dengan antena mencuat di salah satu ujungnya. Tertera sebuah merek asing di bagian atas layar monokrom-nya : Nokia.

Entah bagaimana caraku memberitahu berita duka jika benda ini tak ada. Akhirnya benda ini berguna bagiku. Selama memegangnya aku hanya berkirim pesan sekali dua sebab biaya kirim tiap pesan sangat mahal. Aku menggelengkan kepala. Benda ini bahkan bukan milikku. Seorang teman yang hendak menjualnya memberiku kesempatan beberapa hari untuk mencoba sementara ia pulang kampung.

Kalau minat, segera kabari aku ya. Harganya murah lho, begitu kata dia seminggu lalu.

Bunda muncul di ambang pintu. Sembab matanya menandakan ia belum berhenti menangis sejak Ayah dikuburkan sore ini. Aku meletakkan Nokia berseri 5110 itu di dalam laci dan beranjak untuk memeluk Bunda. Kutunda niat memberi kabar pada teman-teman yang lain.

***

Beberapa hari berlalu seperti tak terasa. Di hari keempat setelah penguburan Ayah, hape pinjaman itu kembali berbunyi. Itu pun setelah akhirnya aku ingat untuk mengisi baterainya. Aku mengecek beberapa sms yang masuk. Sebagian besar berisi ucapan belasungkawa dari teman-teman kantor. Dan dua pesan dari Dedek, pemilik hape ini.

Za, aku ikut berduka cita atas berpulangnya ayah kamu. Maaf nggak bisa datang. Oh ya, aku mau tanya. Gimana hapenya? Kamu minat? Kalau iya, biar aku bilang ke Andi. Dia mau juga, katanya. Balas segera yah.

Waktu pengiriman menunjukkan empat hari yang lalu. Segera kuketik balasan untuknya.

Ya, aku minat, Dek. Pas masuk kantor nanti aku kasih uangnya yah. Maaf, baru balas pesanmu.

Kirim.

Oh iya, masih ada satu pesan lagi dari Dedek. Sambil menunggu balasan, kubuka pesan itu. Wajahku yang sempat dihiasi senyum kembali muram ketika membaca barisan kalimatnya.

Maaf, Za, aku udah jadi jual hape itu ke Andi. Aku sedang perlu uang dan kamu belum ngasi kepastian apa-apa. Sekali lagi maaf ya.

Terkirim sehari yang lalu.

Lagi-lagi aku mengeluh dalam hati.

***

Ruli mengangsurkan sebuah kotak bernuansa biru muda dengan penutup plastik di sekujur penampangnya. Aku sumringah. Kotak itu berisi Nokia 2100 pesananku yang dibelikan Ruli, teman sekantorku itu di Medan. Setelah menabung selama tiga bulan akhirnya benda seharga Rp850.000,00 itu jadi milikku. Hape pertama yang benar-benar milikku. Aku mencium kotak itu penuh bahagia.

Norak, goda Ruli. Aku tertawa tak peduli.

foto : welwctronic.com

foto : welectronic.com

berminat ikutan giveaway ini? yuk, klik banner di bawah ini. 🙂

kuis istiadzah

Iklan

8 thoughts on “[Cerita Hati] Hape Pertama

  1. istiadzah berkata:

    Baru baca, nih. Ruli itu siapa? Kok aku belum mudeng ceritanya ya? 😦

    Gutlak bang, yang nilai bukan aku ini kok, hihihi.

    Makasih ya udah ikutan GA-ku :)))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s