[Cerita Pendek] Mendamba Maaf

foto : ceritaayah.tumblr.com

foto : ceritaayah.tumblr.com

Aku membuka mata sambil mengernyit. Dua kelopak mataku seolah telah lama direkatkan. Saat aku berhasil melebarkan jarak di antara keduanya, serbuan cahaya menyilaukan memaksaku kembali memejam.

“Pelan-pelan saja, tak usah dipaksa.”

Sebuah suara teduh menyapa telingaku. Benakku berusaha mengenali pemilik nada kebapakan itu tapi ingatanku belum pulih sepenuhnya. Aku masih menutup mata kala sebuah sentuhan –belaian lebih tepatnya- singgah di kepalaku. Aku mengeluh tertahan, ujung jemari itu menyenggol sedikit perban di dahi.

“Oh, maaf! Maafkan Bapak nggak sengaja,” suara teduh itu terdengar lagi. Kali ini aku memaksa membentang pandangan, meski jarum cahaya berebutan menusuk kornea mata. Samar, lalu terang. Sosok di depanku memang Bapak!

“Bapak,” lirih kumemanggil. Betapa rindu telah sarat di dalam dada. Melihat sosok itu. Senyum teduh itu.

“Rani jangan khawatir lagi. Bapak nggak apa-apa kok.” Bapak tersenyum lagi, mengelus tanganku yang ditancapi jarum infus. Aku berusaha menegakkan punggung. Sakit! Bapak sigap tapi lembut membantuku duduk.

“Rani banyak salah sama Bapak. Rani ingin minta maaf. Bapak kemana aja?” Seperti seorang bocah yang memendam rindu, aku mengajuk pada Bapak. “Bapak mau kan maafin Rani?” Aku memandang mata tua Bapak dalam-dalam.

Bapak masih tetaplah Bapak. Seberapa sering pun aku menyakitinya, dia tetaplah Bapak. Dadanya selalu terbuka. Lengannya selalu siap memeluk, membagi ketenangan bagi jiwaku yang sering gelisah.

“Rani mau janji sama Bapak?” Gantian mata teduh Bapak menatapku dalam. Aku terdiam sejenak lalu mengangguk pelan.

“Mau janji nggak ulangi lagi kesalahan Rani?”

“Kesalahan yang mana, Pak?” Meski bisa meraba maksudnya, tetap saja aku meminta penjelasan dari Bapak.

Bapak menghela napas panjang. Tapi senyum itu masih melekat di bibirnya. “Rani tentu tahu maksud Bapak. Lelaki itu. Dia membuat Rani bukan lagi Rani, anak manis Bapak. Dia memisahkan kita berdua.”

Mendadak mataku merebak basah. Rasa sakit akibat penolakan itu kembali lagi. Butiran bening jatuh perlahan di pipi.

“Rani cinta Mas Banu, Pak. Rani nggak mau pisah dari dia. Meski Bapak memaksa,” aku berkeras menentang permintaannya.

Wajah Bapak keruh ditabir mendung. Sorot matanya terluka dalam. Bapak mengeluh tertahan sambil memegangi dadanya yang kurus. Dari sela jarinya merembes darah. Semakin lama semakin deras. Menggenangi baju putihnya, jatuh di atas seprai, dan sebagian lagi memerciki lantai.

“Bapak!” aku menjerit ngeri. Lebih ngeri lagi ketika kusadari sebilah pisau telah ada dalam genggamanku. Benda tajam itu terbalur cairan merah. Kusentakkan pisau itu jauh-jauh lalu menubruk ke arah Bapak. Tapi lagi-lagi aku tercekat. Sosok Bapak perlahan memudar. Tanganku seolah menyentuh asap. Hatiku tersayat perih saat imaji terakhir yang kulihat adalah raut wajah Bapak yang terluka.

“Bapaaakkk! Maafin Rani, Paak!” Aku meraung. Mencakari seprai, mencoba melepaskan jarum yang menancap di nadiku. Menjambaki rambut. Yang kuinginkan hanya satu : Bapak kembali dan memaafkanku.

**
Ada yang hilang dari ingatanku. Seolah waktu melompat begitu saja dan meninggalkan begitu banyak pertanyaan. Ketika aku menjerit-jerit memanggil Bapak, aku merasakan kehadiran sosok-sosok berbaju putih. Dua dari mereka mencengkramku erat, sementara seorang lagi menusukkan sesuatu ke kulitku. Lalu perlahan aku hilang kesadaran.

Namun saat berada di antara batas sadar dan mimpi aku seperti bisa melihat potongan ingatan yang hilang. Aku melihat diriku dan Bapak di dalam kamar kos. Aku mabuk! Teler karena ganja, benda memabukkan yang kukenal dari Mas Banu. Bapak membujukku pulang tapi aku membangkang. Bapak menarik tanganku hingga aku yang sedang duduk tersentak bangun. Tiba-tiba Bapak melepaskan tanganku dan memegangi dadanya. Meski kabur aku bisa melihat ada yang mencuat dari dadanya : ujung runcing sebuah pisau dapur. Setelah sekian detik bersarang di dada kurus Bapak, pisau itu tercabut. Aku menatap ngeri pada sosok Bapak yang perlahan tumbang.

“Bapaaaak!”

Lalu kulihat satu sosok tinggi di depanku. Matanya merah, rambutnya masai. Dia tersenyum ganjil sambil memegang pisau dapur yang meneteskan darah.

“Mas Banu?”

597 kata

Iklan

8 thoughts on “[Cerita Pendek] Mendamba Maaf

  1. vanda kemala berkata:

    entah kenapa, kali ini aku kecewa sama tulisannya Bang Riga. 😦

    feel dari Bapak kalo selalu ada buat anaknya, udah pas. raungan tangisan si anak juga bikin pilu. tapi entah kenapa, menurutku konfliknya kurang nendang, bahkan cenderung dipaksain. 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s