[Cerita Pendek] Menepis Jejak Luka

images22

sumber

Apa yang harus kau lakukan, jika tempat terindah yang mampu kau bayangkan tetap tak mampu redakan resah?
Alea menengadah, mengalihkan pandang dari layar Blackberry putih miliknya. Satu ‘klik’ dan cuitan itu akan terkirim ke dunia maya. Alea mendesah gundah. Jemarinya menekan tombol ‘delete’ hingga kalimat tadi lenyap. Sebuah cuitan baru dia ketikkan.

I’m in heaven!

Alea mengarahkan ponselnya ke arah pantai. Lensa kamera segera menangkap sebentuk keindahan yang mampu belalakkan mata. Hamparan pasir putih dan biru laut berpadu sempurna. Deretan cemara yang tumbuh rapi di belakang garis pantai menambah harmoni. Semilir angin dan debur ombak menyempurnakan suasana siang yang teduh sebab segumpal awan menyelubungi matahari.

Klik. Lansekap istimewa itu telah tersimpan di ponsel. Send.Tak menunggu lama, denting-denting kecil terdengar. Deretan pertanyaan dan komentar berhamburan di grup BBM Alea. Dia memilih untuk tidak menanggapi semua pesan yang masuk. Hanya sebuah smiley yang dia sematkan sebelum menon-aktifkan ponselnya. Alea membaringkan tubuh rampingnya di kursi santai yang dinaungi payung peneduh. Topi caping lebar dia turunkan lebih dalam, menutupi nyaris seluruh wajah. Dia datang kemari hanya ingin menyepi, menenangkan diri dan membersihkan pikiran. Dari segala hal tentang Frans.

Ah, Frans. Hati Alea perih setiap kali nama pria tampan itu menggema di pikiran. Kenapa kamu tega nyakitin hati aku, Frans? Dada Alea terasa sesak. Ingin rasanya dia teriakkan semua penat yang membuat dadanya pepat.

“Hei!”

Alea tersentak. Topi caping dia angkat sedikit. Siapa yang tadi menegur?

“Halooo!” Suara bernada kesal itu terdengar lagi. Di sebelah kanan, seorang lelaki bertampang kesal sedang menatapnya.

“Bisa dipelankan suaranya, Mbak? Ganggu!” semburnya ketus. Alea terperangah. Sebelah alisnya terangkat, bertanya, emang suara gue kenapa?

“Mbak tuh dari tadi ngoceh terus. Yang terakhir malah teriak-teriak. Saya kemari ini buat nyantai, nggak pengen diganggu teriakan nggak jelas,” gerutunya panjang lebar. Alea menahan gondok. Cowok ini tampangnya aja yang ganteng, tapi cerewet seperti nenek-nenek. Belum sempat bibir Alea terbuka hendak menjawab, lelaki di sebelahnya telah bangkit.

“Huh, mending tidur di kamar hotel aja!” Dia mengenakan sendal, menyesap tandas orange juice di gelas lalu beranjak menjauh. Alea menghela napas panjang. Amit-amit! Cowok kok ngambekan begitu? Terganggu sedikit saja langsung marah. Nggak seperti Frans yang penyabar. Ah… Alea mengurut dadanya yang kembali sesak.

**

“It’s time to eat. Bye diet!

Alea melangkah santai menuju Restoran Bumbu Nusantara yang malam ini menyelenggarakan Pasar Malam. Restoran yang menyajikan aneka macam hidangan asli Indonesia ini dipenuhi oleh pengunjung yang ingin memanjakan lidah. Berjejer rapi di sisi kiri halaman restoran, gerobak-gerobak makanan yang menyajikan aneka masakan yang menguarkan wangi menggoda. Sementara di bagian dalam restoran deretan lampu cantik yang digantung rapi menambah nyaman suasana.

“Sepertinya gue telat nih,” gumam Alea cemas memandang ke arah meja-meja di bagian dalam dan luar yang dipenuhi pengunjung. Tiba-tiba pandangan Alea tertumbuk pada sepasang bule setengah baya yang sepertinya telah menyelesaikan makan malam mereka. Alea menyeret kakinya gegas menuju meja yang terletak di halaman restoran tepat di bawah sebuah pohon palem.

“Dapat!” Alea sedikit berteriak ketika tangannya berhasil menggenggam sandaran kursi terdekat. Tapi kegirangannya menyurut. Sepasang tangan berbulu juga sedang mencengkeram erat sandaran kursi yang lain. Alea mendongak sebal. “Hei! Ini meja gue! Gue yang ngeliat duluan!” semburnya galak. Lelaki di depannya tak mau kalah. “Enak saja! Saya yang lebih dulu megang!”

Alea kemudian menyadari, lelaki inilah yang siang tadi mengomelinya. Rasa sebal di dadanya memuncak. Mata indah Alea membelalak. Mengintimidasi. Sayang, lelaki di depannya berkukuh tak hendak mengalah. Alea memilih mundur. Selera makannya menguap.

“Eh,” lelaki itu berseru tertahan.. Dia menggaruk kepalanya. “Mbak,” panggilnya. Alea yang telah berjalan sejauh tiga meter dari meja berhenti. Kepalanya berpaling. Tatapan matanya penuh kesedihan.

“Silakan. Mejanya buat mbak aja. Saya bisa cari tempat makan lain kok,” ada senyum manis di wajah lelaki itu. Alea balas tersenyum, memutar badannya kembali menuju meja. Yess! soraknya dalam hati. It works!

Alea menarik sebuah kursi dan duduk dengan nyaman. Sekarang saatnya mengambil makanan. Tapi sejurus kemudian Alea berpikir : Bagaimana caranya mengambil makanan dari jejeran gerobak di sebelah sana tanpa menghilangkan ‘hak milik’ atas meja ini? Bisa saja kan, saat dia beranjak, orang lain akan menganggap meja ini kosong dan kemudian menempatinya?

Duh.. Benak Alea keras berpikir. Tak ada jalan lain tampaknya. “Mas yang tangannya berbulu, boleh minta tolong?” setengah berteriak Alea memanggil. Lelaki itu menoleh. Alea melambaikan tangan sambil nyengir.

“Ada apa?” tanya lelaki itu setelah mendekat. Alea tersenyum kikuk. “Bisa minta tolong duduk di meja ini sebentar nggak? Saya mau ambil makanan. Takutnya ada yang nempatin,” pintanya sopan. Lelaki itu mengerutkan dahi. Sejenak kemudian dia mengangguk. “Boleh aja. Tapi sekalian ambilkan saya seporsi sate lilit dan mi kocok yah. Mi kocoknya jangan dibikin pedas,” pesannya.

“Eh?” Alea sedikit tersinggung sebab merasa diperintah. Lelaki itu mengedik santai. “Kalau nggak mau, yah saya pergi aja. Paling pas mbak balik ke mari, meja ini udah ada yang nempati. Gimana?”

Kekesalan Alea kembali. Tapi dia tak bisa membantah. Dengan kedongkolan yang memenuhi leher dia beranjak mengambil makanan. “Jus jeruk yaaa!” Lelaki itu berteriak lagi. Alea mengeratkan geraham. Awas, pasti gue balas tingkah songong lo!

Ketika kembali ke mejanya, Alea melihat lelaki itu sedang asyik memainkan sebuah game di ponsel pintar miliknya. Alea mengomel. “Mas, bantuin dong!”

Lelaki itu melirik tangan Alea yang kepayahan memegang nampan. Di atas benda itu berderet dua buah mangkuk mi kocok, sepiring penuh sate lilit, dua gelas jus dan kerupuk udang.

“Lagian, bukannya ambil sedikit-sedikit, eh malah sekaligus,” sambil membantu menurunkan isi nampan lelaki itu menasihati. Alea merutuk dalam hati. Cerewet!

“Eh iya, saya Pras,” lelaki itu mengulurkan tangan. Alea ragu untuk mengulurkan tangan. Sepertinya tadi lelaki itu mencolek bumbu sate lilit dan belum membersihkan jarinya.

“Alea,” Alea memutuskan tidak menyambut tangan berbulu itu dan cepat-cepat menghabiskan makanannya. Suara decap puas terdengar dari lelaki itu. “Kamu mesti coba sate ini, Le, rasanya enak banget. Eh, aku boleh manggil kamu ‘Le’ kan?” Lelaki itu menarik mangkuk mi kocok ke arahnya.

Le? Memangnya gue anak lelaki dipanggil ‘Le’?

“Iya, terserah,” Alea menenggak jus jeruk miliknya. Dia harus bergegas menyelesaikan makan malamnya dan pergi dari tempat ini. sebelum…

“Aaaaaahhh! Pedassss!” Pras memekik panik. Mukanya memerah dan keringatnya mulai menetes di wajah. Mi kocok di mangkuknya telah diberi empat sendok cabe rawit oleh Alea.

“Pras, gue duluan yaaa. Byeee!” Alea berseru puas. “Moga lo nggak diare besok,” dia bergegas pergi menuju hotelnya meninggalkan Pras yang sibuk meminta segelas es campur dari sebuah gerobak.
“Awas lo, Le!” geramnya. Bahasa santun yang kemarin dia pergunakan, malam ini telah hilang.

**

“Pras, gue minta maaf,” Alea berdiri di samping kursi pantai yang dipakai Pras. Lelaki tampan itu hanya melirik acuh. Sesekali bibirnya mengernyit kala perutnya yang masih terasa panas tiba-tiba bergolak.

“Gue beneran nyesel deh, Pras. Nih, gue beliin lo cheese cake sebagai permintaan maaf,” Alea menyodorkan sepotong kue yang menggoda selera. Pras menelan ludah, tapi masih gengsi.

“Makasih, Le,” akhirnya Pras membuang gengsinya. Godaan kue lezat itu tak mungkin dia tolak.

“Ngg, boleh panggil aku Alea, atau Lea aja? Le nggak enak dengarnya,” pinta Alea. Pras tersenyum.
“Iya, deh Lea.”

Alea menarik kursinya lebih dekat ke sebelah Pras. “Lo lagi liburan di sini, Pras?”

“Iya.”

“Gue juga.”

Pras menyelesaikan gigitan terakhir cheese cake-nya dan menyeruput jus jeruk. “Bukannya ingin melipur sakit hati ditinggal kekasih?”

Alea terhenyak. “Kok lo bisa ngomong gitu?” Matanya menyelidik.

“Ingat kemarin lo ngoceh apa aja? Lo nyebut-nyebut soal Frans dan kenapa dia tega ninggalin lo. Gue dengar semuanya,” Pras tersenyum dan balas menatap. Alea tertunduk. Kesedihan kembali menyerbu dadanya. Dan seolah maling yang telah tertangkap basah, Alea menumpahkan rasa sakit di hatinya.

“Gue dan Frans udah tiga tahun pacaran. Bahkan rencananya tahun depan kita mau nikah. Tapi Frans ninggalin gue gara-gara Ibunya yang sedang sakit parah menjodohkannya dengan anak rekan bisnis papanya Frans. Mamanya Frans memang nggak pernah benar-benar suka padaku. Katanya aku terlalu modern, tidak keibuan, terlalu mandiri. Entah, apakah itu alasan sebenarnya atau hanya dibuat-buat.”

Alea menghentikan ceritanya. Menelisik reaksi Pras. Lelaki di depannya masih memancang perhatian penuh. Sebuah senyum pengertian tersungging. Alea merasa hatinya nyaman.

“Dan mereka akan menikah bulan depan,” Alea menekan perih di hatinya. Pras menegakkan kepalanya.

“Bulan depan?”

Alea mengangguk. “Kenapa?”

“Lo punya foto mereka? Frans dan calon istrinya itu?” Pras mendesak. Meski diliputi keheranan, Alea mencari foto-foto di memori Blackberry-nya. Sebentar kemudian dia menunjukkan sebuah foto.

“Bangsat!” tiba-tiba Pras berteriak marah. Alea terkesiap. “Lo kenapa marah, Pras?”

“Jadi lelaki ini yang akan menikahi calon istri gue!” Tubuh Pras bergetar. Alea bangkit dengan gusar.

“Maksud lo apa, Pras?”

“Perempuan ini,” Pras menata emosinya. Giginya gemeletuk,” namanya Rasya. Kami udah pacaran tiga tahun. Tapi nggak tahu kenapa dia tiba-tiba minta putus. Katanya dia nggak mau kelamaan nunggu dilamar. Dia didesak keluarganya untuk cepat-cepat nikah. Dan keluarganya menyodorkan sebuah nama : Frans.”

Alea mendengarkan dengan perasaan miris. “Ternyata nasib kita sama. Merana ditinggalkan cinta.”

Ada hening yang ditingkahi debur ombak serta semilir angin senja. Dua anak manusia yang merasa senasib sependeritaan diam meresapi kesedihan.

“Gue dengar di Pirates Bay ada acara seru ntar malam,” suara Pras memecah sunyi. Alea masih diam menunggu lanjutan kalimat Pras. “Dewata Getaway Project. Ada DJ Vicky dan lain-lain. Kita senang-senang aja di sana.” Pras memperhatikan raut wajah Alea.

“Ayolah, Lea,” bujuknya melihat Alea masih terlihat ragu. Ketika Alea mengangguk, Pras sumringah.

“Nah, gitu dong. Ntar gue jemput jam tujuh ya.”

**

Venue Dewata Getaway Project terlihat ramai meski hari baru beranjak malam. Kerumunan muda-mudi tampak di sana- sini. Ada yang berkelompok, ada pula yang berpasangan. Mengenakan outfit santai semua siap untuk menikmati musik menghentak. Seorang DJ yang juga pemain sinetron mengajak semua pengunjung untuk bergoyang. Pras dan Alea juga tak ingin ketinggalan. Mengikuti irama sebuah lagu dance house yang di mix apik oleh DJ.

“Gue suka yang ini : Recess dari Skrillex,” Pras setengah berteriak di dekat Alea, mencoba mengalahkan dentuman musik. Alea hanya mengangguk-angguk. Mencoba menikmati suasana meski sebetulnya dia tak terlalu suka. Selama ini preferensi musiknya sebatas genre pop.

DJ memainkan sebuah lagu baru milik Tiesto, DJ kenamaan dunia. Crowd kian semangat menggerakkan badan. Pras sampai melompat-melompat di tempatnya berdiri. Sebuah benda jatuh dari celananya. Alea memungut dompet di lantai.

“Pras, dompet lo nihh!”

“Apaa?”

“Dompet lo jatuh!” Alea berusaha mengimbangi suara musik. Pras berteriak pendek. “Pegangin deh.”

Alea menepuk pundak Pras dan memberi isyarat ke luar venue. Pras tak menanggapi, masih asyik bergoyang. Alea memutuskan untuk beristirahat sendiri.Di sebuah bangku nyaman dengan bantalan empuk Alea merebahkan tubuhnya yang terasa penat. Saku jinsnya terasa penuh oleh dompet milik Pras. Dia mengambil dompet itu dari saku.

“Penuh amat ini dompet. Apa aja sih isinya?” Alea melemparkan benda itu ke meja kecil di depannya. Benda berwarna cokelat dan terbuat dari kulit itu terbuka. Sebuah foto terpampang di bagian yang dilapisi plastik bening. Alea tergelitik untuk mengintip foto itu. Di bawah remang lampu, foto itu terlihat demikian jelas. Mendadak Alea merasa pusing. Dia menuntut penjelasan. Sekarang juga!

“Lea, ada apa sih?” gerutu Pras yang merasa kesal sebab Alea menariknya dari kerumunan saat seorang DJ cantik tengah beraksi.

“Apa ini?” Alea mendelik memampangkan sebuah foto: Frans dan Pras berangkulan akrab. Pras pias.

“Lo dan Frans ternyata saling kenal! Lalu apa maksud sandiwara lo tadi, hah?” Wajah Alea merah padam. Lalu sebuah pikiran merasuki benaknya. “Apa lo emang sengaja buntutin gue? Lo disuruh Frans?”

Melihat Pras masih bungkam, Alea meradang. “Jawab Pras!”

“Lea, “Pras akhirnya buka suara. Dia terdiam sejenak mencari kata-kata.” Iya gue teman Frans dan sengaja disuruh buat buntutin lo sampai kemari. Frans juga yang minta gue temenin lo di sini.”

“Buat apa!” Alea menjerit kesal. Dia tak peduli seandainya ada orang yang melihat. Dadanya perih.

“Karena Frans masih sangat mencintai lo. Dia terpaksa menuruti kemauan ibunya karena tak ingin dicap sebagai anak durhaka. Dia ingin membahagiakan ibunya yang sekarat, Lea.”

“Buat Frans, kebahagiaan Ibunya diatas segala-galanya. Dia rela menderita batin untuk menuruti keingingan Ibunya,”lanjut Pras. Sebuah getaran halus dan panjang di saku celana jins-nya dia abaikan. Ponselnya sedang dalam mode silent.

“Tidakkah lo bakal ngelakuin hal yang sama jika ada dalam posisi Frans? Akankah lo tega ngebiarin orang tua lo satu-satunya sakit hati karena lo kukuh menolak permintaannya?” Pras berkata lirih.

Alea masih diam. Pras melanjutkan, “Apa artinya kebahagiaan lo jika orang tua lo sakit hati? Seandainya orang tua gue masih hidup, apapun permintaan mereka bakal gue turutin, Lea. Sayang gue dulu pembangkang. Dan kesempatan berbakti itupun hilang,” Pras menundukkan kepala. Wajahnya sendu. Alea merasa ada aliran sejuk yang memenuhi dadanya. Sebuah kerelaan?

“Pras, lo temen yang baik. Gue rasa gue mulai bisa mengerti alasan Frans ninggalin gue. Mungkin gue juga salah nggak berusaha mengambil hati Mamanya. Gue cuma fokus sama Frans dan ngelupain kalau gue jadi nikah sama dia, keluarganya juga bakal jadi keluarga gue,” sebuah senyum terbit di bibir Alea. Tangannya menepuk-nepuk paha Pras.

“Kayaknya ponsel lo bergetar terus tuh. Angkat gih, barangkali ada telepon,” ujar Alea memberitahu.

Pras tersenyum jahil. “Iya, sebenarnya gue juga udah ngerasa. Cuma rasanya nggak sopan angkat telepon pas ada orang sedang curhat, kan?”

“Sialan, lo!” Tangan Alea melayang ke perut Pras dan mencubit kulitnya. Pras mengaduh jenaka sambil mengangkat teleponnya. Air mukanya berubah mendadak.

“Ada apa,Pras?” Alea merasa khawatir ada kabar buruk.

“Mamanya Frans meninggal dunia jam delapan tadi tadi.”

“Oh,” Alea menutup mulutnya. Kabar kematian tak pernah mengenakkan.

“Frans bilang dia sudah mencoba hubungi kamu tapi nggak berhasil.”

Alea teringat ponselnya yang dia biarkan tak di-charge seharian tadi.

“Frans bilang Mamanya akhirnya mau merestui hubungan kalian berdua. Calon istrinya yang membuat Mamanya Frans sadar bahwa mereka berdua tak saling cinta. Bahwa Frans hanya mencintai lo,” tutup Frans.

Alea tak tahu harus bersikap apa. Dua kabar yang saling bertolak belakang dia terima berbarengan. Pras memegang tangannya. “Gue rasa kita mesti segera pulang dan temui Frans.”

Alea mengangguk setuju. Perasaannya campur aduk. Di satu sisi dia lega telah mendapat restu dari Mamanya Frans. Di sisi lain dia juga sedih karena tak sempat bertemu lagi dengan perempuan itu.

Di pesawat dalam perjalanan kembali ke Jakarta Alea teringat ada sesuatu yang terasa aneh dan mengganjal pikiran.

“Btw kalo lo emang disuruh deketin gue selama di sini, kok lo jutek amat sih pas pertama kita ketemu?” tanya Alea.

Pras tertawa ringan. “Soalnya gue udah dikasih tahu Frans, lo ini orangnya suka curigaan sama orang asing yang baik-baikin lo. Jadi yah, gitu deh,” Frans nyengir.

“Dasar, lo!” Alea menonjok bahu Pras dengan gemas. Tak urung dia ikut tertawa lebar.


Iklan

16 thoughts on “[Cerita Pendek] Menepis Jejak Luka

  1. dicko (@dicko_andika) berkata:

    Sinetron. Mana ada semua kejadian berurutan kayak gitu, baang!!!
    Terlepas dari itu, Sampe cerita di Pasar Malam aku suka ceritanya dan suka karakter Prass.
    Tapi part selanjutnya, – setelah di Pasar Malam – ceritanya jadi terasa panjang dan mengada2. Hehehehe. Maap ya bang, it’s for your own good. G’Luck… :).

    Please mention me, in every new story u’ve shared.. Thank’s

  2. coretanmpit berkata:

    mirip kisah cintaku dahulu, bang, cuma bedanya… berakhir karena nggak dapat restu. :3 cerita yang abang tulis menarik dan sangat mengalir. (y) suka.

    • Attar Arya berkata:

      semula sih saya berpikiran seperti itu juga, Mbak Uwien. Asyik nih kalo ada cikal bakal rasa suka Alea sama Pras. Tapi lalu saya kepikiran, rentang cerita kan cuma sekitar 1,5 hari. Rasanya terlalu cepat bila ada rasa yang tumbuh. 🙂 | Terimakasih udah mampir yaa 🙂

  3. Blogs Of Hariyanto berkata:

    Alea, Pras dan Frans..kisah yang tak terduga,,dan mungkin saja kisah ini terjadi dalam kehidupan di sekitar kita…nice story….
    keep happy blogging always…salam dari Makassar 🙂

    • Attar Arya berkata:

      ahh, makasih Uniek udah mampir baca. iya, karena temanya memang ‘bahagia’ jadi cerita pun diakhiri bahagia dan tanpa tokoh antagonis di dalamnya. makasih sekali lagi yah 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s