[Flashfiction] Tangga Menuju Surga

foto : portalserbaada.blogspot.com

foto : portalserbaada.blogspot.com

Kabut menggantung tipis di udara. Kegelapan masih menyelimuti bumi meski sebentar lagi pagi tiba. Kulirik jam di tangan, hanya tersisa beberapa menit lagi sebelum sinar matahari pertama menepis lapisan serupa asap itu. Aku memandang ke atas, ke arah deretan lempeng besi kecoklatan yang tersusun rapi. Entah sudah berapa ribu undakan yang kujejaki. Dengus napasku terdengar kian keras, butiran keringat berhamburan di dahi. Usia telah menggerogoti kekuatanku. Kutepuk-tepuk celana untuk mengusir titik embun yang hinggap. Topi di kepala kueratkan. Setelah mengambil napas dalam dan menguatkan tekad, kakiku kembali melangkah.

Dan lihatlah di ujung anak tangga sana, sesosok tubuh semampai telah berdiri tegak. Berbalut jaket tebal, topi dan syal pengusir dingin, menatap lurus kejauhan : Alamea.

“Kai?” Dia menyadari kehadiranku. Tapi kakinya tak beranjak, tangannya masih memegangi pipa besi.

“Alamea, kau di sini rupanya,” sahutku berbasa-basi. Bagaimana tidak, aku tahu ini sudah menjadi kebiasaannya. Setahun sekali mendaki ‘Tangga Menuju Surga’ hingga ke puncak pada saat…

“Ini hari kematian Nahele, Kai,” katanya tanpa kutanya. Aku mengangguk-angguk. “Meski dua puluh tahun berlalu, aku masih begitu rindu padanya, Kai.”

Aku terpaku. Bibirku kelu diserbu pilu. Alamea masih sangat mencintai suaminya.

Kaki perempuan itu beranjak ke arahku. Tangannya terulur. Aku menyambutnya dengan perasaan teraduk. Sementara di ufuk sana sinar matahari pertama telah lahir, menerangi puncak bukit Puu Keahiakahoe

“Bumi Hawaii begitu indah ya, Kai.”

Aku memilih tak menjawab. Pikiran yang sejak malam tadi melompat liar dalam kepala harus kusampaikan. Pikiran yang mampu memaksaku menyeret kaki mendaki 3.992 anak tangga menemui Alamea.

“Alamea, ada yang ingin kusampaikan padamu.”

Dia memutar seluruh tubuhnya menghadapku. Mata indahnya tak berkedip. Aku berdeham melonggarkan tenggorokan, mencari kalimat yang tepat untuk kusampaikan.

“Jika ini tentang keinginanmu menghabiskan masa tua bersamaku, maaf Kai, aku tak bisa.”

Aku terperangah. Alamea telah menebak dengan tepat rasa yang berkecamuk di benak.

“Tapi, Alamea…aku mohon pertimbangkanlah. Aku mencintaimu sejak dulu. Aku menunggumu, bahkan rela melajang demi kamu!”

Alamea menggelengkan kepalanya dengan sedih. “Cinta bukan untuk dipaksakan, Kai. Aku menyayangimu, tapi cintaku hanya milik Nahele.”

Aku berteriak putus asa. “Tapi Nahele sudah mati, Alamea! Dia sudah dua puluh tahun mati!”

Aku terperanjat mengutuki kelancangan lidahku dan berharap Alamea tak berubah murka. Tapi Alamea tetaplah Alamea. Alamea adalah wanita berharga. Suaranya tetap lembut saat bibirnya menyahut.

“Tapi dia tetap hidup dalam diriku, Kai. Sampai kapanpun. Waktu dapat memamah usia, kecantikan, kesehatan. Tapi waktu tak akan mampu menepis rindu juga sayang. Bukankah itu yang dulu kau bilang padaku, Kai?” Alamea menatap lurus menembus jantungku. Aku menunduk dalam. Kalah.

Hening merajai pagi di puncak tertinggi ‘Tangga Menuju Surga’. Cahaya lembut matahari telah sempurna menerangi alam. Semilir angin menelusup ke tubuh.

“Kai, kau tahu, ini adalah kali terakhir aku ke mari,” ujar Alamea. Aku mendongak, mencari maksud kalimatnya barusan.

Mengabaikan pertanyaan di mataku, Alamea kembali bicara. “Kau tahu ‘kan kenapa tempat ini diberi nama ‘Tangga Menuju Surga’?”

Aku diam.

“Sebab di sini, di puncak tertinggi ini kita bisa bertemu dengan orang-orang yang kita kasihi, orang-orang yang mendahului. Tak peduli telah berapa lama mereka pergi. Dan aku percaya Nahele selalu menemuiku setiap aku kemari.”

Alamea berhenti sejenak dan mengawasi reaksiku. Aku masih duduk di undakan terakhir, menekuri lempeng besi sambil membelakangi matahari.

“ Dan hari ini aku yang akan pergi menemuinya,” lanjut Alamea.

Jantungku berdebum keras. Telingaku masih riuh mencerna makna yang tersirat. Otot-otot kakiku sontak melemah oleh sebuah perasaan yang meremas hati. Ketika kesadaranku kembali hadir, semua sudah terlambat. Alamea telah berdiri di pagar pembatas, merentangkan tangan dengan mata terpejam dan berbisik lirih, “Kekasihku, aku datang.”

Masih sempat kulihat senyum manis di bibirnya sebelum tubuhnya melayang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s