[Flashfiction] Penyesalan Cinta

Aku terengah mengejar waktu. Keringat bercucuran di dahi dan seluruh tubuh. Kupaksakan dua tungkaiku terus berlari dan berlari. Motor kutinggalkan di sebuah warung di ujung gang sana: bensinnya habis tanpa sengaja.
Di sepanjang jalan gang sesekali aku berpapasan dengan sejumlah ibu yang berbaju rapi dan saling bercanda. Raut wajah mereka ceria, berbanding terbalik dengan wajahku. Ketika mereka menyadari aku sedang berlari dengan rusuh, mereka menghentikan langkah dan menatapku heran. Aku tak memedulikan tatapan penuh tanya di mata mereka. Aku kehabisan waktu.

Memasuki halaman sebuah rumah sederhana dengan jejeran bugenvil di sepanjang pagar aku melambatkan langkah. Kuatur napas yang menderu. Kuusap keringat yang meruap di dahi, merapikan anak rambut. Langkahku pelan menuju pintu depan. Ada sejumlah orang sedang berkumpul di ruang tamu.

“Eh, coba lihat siapa yang datang! Barangkali penghulunya!” sebuah suara menyeruak. Aku menoleh ke belakangku. Kosong.

Seorang remaja tanggung melongok ke luar pintu. “Bukan, Bu. Nggak tahu siapa,” lapornya.

Wajah seorang perempuan setengah baya terlihat, diikuti beberapa wajah lainnya yang penasaran.

“Cari siapa, Mas?” tegurnya.

“Boleh ketemu mempelainya, Bu? Sebentar saja,” pintaku.

“Mas ini siapa?”

“Temannya,” jawabku singkat.

Perempuan itu berbalik. Aku gelisah menanti detik-detik yang menegangkan. Aku punya sebuah permintaan di benakku. Sebuah rasa yang harus disampaikan sebelum terlambat. Tentang cinta yang tak sempat dinyatakan.
Perempuan tua itu kembali dengan seorang perempuan muda berkebaya hijau. Riasan lengkap dan jilbab senada menghiasi kepalanya.

“Cari saya, Mas?” tegurnya.

Sejenak aku terdiam. Kuberanikan diri menatap matanya. “Sebenarnya saya ingin bicara dengan mempelai prianya.”
Dua wanita itu terperangah. Ada hening yang menggantung di udara. Lalu kemarahan terbit di wajah mereka.

“Eh, mas jangan sembarangan aja ya? Maksudnya apa, hah?” si pengantin wanita meradang. Perempuan tua di sebelahnya menahan diri untuk bicara meski tak urung wajahnya merah.

“Aku…eh…” gugup aku mencari kata. “Aku cuma…”

Kalimatku terpotong umpatan si perempuan muda. “Pergi! Pergi sekarang juga!” Matanya melotot dan tangannya menuding jalan keluar.

Aku gontai berbalik menjauhi rumah. Harapanku bertemu dengan lelaki itu musnah. Sedikit keributan yang terjadi di sini tak membuat dia muncul. Aku tak menyalahkan jika dia enggan bertemu aku. Aku hanya ingin menjelaskan isi hati. Sedikit penyesalan terbit di ujung kalbu. Semestinya rasa ini kunyatakan sejak dahulu. Aku tak berani berharap dia punya rasa yang sama. Entah dia jadi benci atau murka, tak mengapa. Ini cinta. Aku bersyukur memilikinya.

Iklan

12 thoughts on “[Flashfiction] Penyesalan Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s