[Cerita Pendek] Menentang Naluri

foto : 4shared

foto : 4shared

“Paa, ayo cepetan!”

Dari dalam kamar bisa kudengar suara nyaring istriku memanggil dari teras. Sudah menjadi kebiasaannya untuk berteriak jika sedang terburu-buru. Padahal kamar kami dengan teras hanya berjarak sekitar dua meter karena letaknya paling depan.

“Iya, Maaa,” aku balas berteriak. Kusambar jaket kulit berwarna cokelat dari dalam lemari. Menyisir rambut sekadarnya lalu bergegas keluar.

“Papa, lelet banget sih?” omelnya ketika melihatku muncul di ambang pintu. “Ntar kita telat kan nggak enak,” tegasnya. “Tuh, rambutnya masih berantakan lagi!” sambungnya kesal.

Aku hanya nyengir, mengunci pintu depan lalu menuju mobil. “Ini kan bukan acara resmi, Ma,” aku membela diri. “Bahkan semestinya kita nggak usah ikut aja. Nanti Mama nggak tahan.”

Sambil menutup pintu mobil istriku menyahut singkat,”Tahan, kok.”

Aku mengedik lalu mulai menyalakan mesin mobil. Perlahan sedan hitam membawa kami ke luar garasi menuju jalan raya. Malam telah sempurna bertahta, tapi kegelapan tak mampu berkuasa. Pendar ribuan lampu telah mengalahkan keperkasaannya.

Selagi menyusuri jalan Sudirman dengan kecepatan sedang sebuah ingatan menyentakku. Botol merah di kulkas!

“Aduh!” refleks aku menepuk dahi. Istriku sontak menghentikan ocehannya dan menoleh. “Ada apa?”

Kikuk aku menjawab,” Ah, nggak ada apa-apa. Cuma nyamuk.”

Istriku menatap curiga tapi lalu memutuskan untuk tak bertanya lebih lanjut. Rumah yang kami tuju sudah dekat.

Roda-roda ban bergulir memasuki halaman luas sebuah rumah bergaya modern minimalis. Di kanan dan kiri telah berjejer rapi beberapa mobil keluaran baru. Seorang penjaga langsung mempersilakan kami masuk.

“Ehh, Mbak Ratih dan Mas Kama sudah sampai. Ayo masuk!” Nasha, sang pemilik rumah menyambut hangat. Suami Nasha berdiri di sampingnya sambil memeluk pinggang istrinya. Aku menjabat uluran tangan lelaki itu sementara istri-istri kami saling mendaratkan sebuah pelukan dan ciuman pipi kiri-kanan. Saat kaki baru dua langkah memasuki rumah berlantai marmer, tiba-tiba…

Brukk….

Istriku melihat ke bawah, memeriksa apa yang barusan menabraknya. Seorang bocah tampan berusia sekitar tiga tahun terduduk di lantai sambil mengusap dahinya. Bibir mungilnya nyengir. Bocah lain menghampiri, mengajak bermain kembali. Berdua mereka tertawa bersama.

Istriku melirik Nasha. “Kok banyak anak-anak, Sha? Janjinya kan kita-kita aja.”

Kutangkap rona gelisah samar di wajah istriku. Keringat dingin mulai terasa di punggung.

“Maaf, Mbak, mestinya sih begitu. Tapi ini teman-teman mau bawa anak-anak mereka. Nggak ada yang jaga, katanya. Ya sudah, saya bolehkan. Lagian ini kan acara santai, nggak masalah kalau ada anak-anak. Ya kan Mas Ram?” Nasha melirikku, meminta dukungan.

Aku berdeham. “Iya, Ma. Ada anak-anak kan jadi lebih rame.” Istriku menata napasnya lalu tersenyum.

“Ayo, Mas, Mbak. Teman-teman sudah ngumpul di ruang tengah. Kita ngobrol-ngobrol di sana,” ajak Nasha. Istriku melangkah duluan, aku menyusul di belakangnya. Pikiranku masih tertuju pada botol merah di kulkas.

Di ruang tengah, di sebuah sofa besar yang tampak nyaman telah berkumpul sekitar delapan pasangan muda dengan satu atau dua anak mereka. Beberapa membawa pengasuh anak, sebagian lagi tidak. Mereka yang tidak membawa pengasuh menggendong sendiri bayi atau batitanya.

Semula obrolan berjalan santai sambil duduk ditemani aneka cemilan. Kami membicarakan berbagai hal: politik, bisnis, tren, musik, bahkan gosip. Tawa sesekali berderai ketika seseorang mencoba melucu. Kulirik istriku yang tampak nyaman duduk di samping Nasha.

Entah siapa yang memulai, pembicaraan berbelok ke masalah anak. Duh!

“Eh, Mas Rama sama Mbak Ratih udah nikah berapa tahun ya?” Marika, teman Nasha bertanya. Tangannya sibuk menyuapi batitanya dengan biskuit.

“Sepuluh tahun,” aku menjawab santai. Istriku tampak menunduk. Aku tahu dia mulai merasa tak nyaman.

“Maaf nih, Mas dan Mbak. Sudah nyoba berobat ke mana aja?” Tammy yang duduk di dekat pajangan bunga nyeletuk. Tangannya menyorongkan kue tart ke mulut dan mengunyahnya cepat.

“Sudah banyak lah,” jawabku sambil tersenyum. Pertanyaan semacam ini yang membuatku enggan hadir dalam acara keluarga semacam ini.

“Mau coba ke dokterku, Mbak?” seseorang yang aku lupa namanya menawarkan. Istriku hanya tersenyum kecut. Belum sempat dia menjawab, seorang bayi yang baru belajar berjalan terlepas dari pengawasan pengasuhnya dan berjalan tertatih menuju sofa. Kaki kecil itu goyah dan terjatuh di dekat istriku. Dengan refleks tangan istriku menyambar tubuh mungil itu sebelum menghantam lantai. Bayi itu menangis karena kaget. Tapi segera terdiam saat tangan istriku membelai kepalanya. Pengasuhnya mendekat dan meminta maaf.

Ayah si bayi menyuruh istrinya mengambil bayi mereka dan menenangkannya. “Untung Mbak Ratih refleksnya bagus. Kalau nggak, bisa memar kepalanya Rafa,” dia melirik tajam pembantunya sekilas.

“Ah, kebetulan saja kok,” istriku menyembunyikan gelisahnya dengan senyuman.

“Eh, semuanya,” Marika tiba-tiba bangkit,”gimana kalau kita minta Mbak Ratih menggendong anak-anak kita? Sekalian jadi pancingan biar segera dapat momongan gitu. Bagus nggak idenya?”

Ide bagus apanya? Anehnya semua seperti setuju.

“Anakku dulu deh, Mbak,” Marika yang duduk paling dekat menyerahkan batita cantik di pangkuannya ke pada istriku. Bocah itu hanya terdiam saat memandang istriku. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
Istriku gamang. Tangannya perlahan naik untuk membelai rambut halus si bocah. Hidungnya seolah sedang berusaha meraup semua wangi tubuh bocah dalam pangkuan. Sempat kutangkap getaran halus di tangan istriku kala jemarinya menelusuri kulit tanpa cela. Ketika istriku mencium ubun-ubun si anak kutangkap kilatan aneh di matanya. Ah, botol warna merah! pikirku masygul.

“Sekarang anakku ya, Mbak,” Tammy meraih bayi perempuan berusia beberapa bulan dari pengasuhnya. Membawanya ke gendongan istriku. Marika segera mengambil anaknya. Terpaksa istriku menerima bayi cantik itu. Wajahnya kian panik. Tangannya kikuk membelai tubuh si bayi.

Istriku semakin gelisah. Matanya beralih padaku, memohon. Aku segera tanggap. “Eh, Ma, ada yang mau aku bicarain sebentar nih.”

Istriku mengangguk sopan dan menyerahkan anak di gendongannya pada Tammy. “Sebentar yah, semuanya. Si Papa pasti ada maunya nih,” dia mencoba berkelakar. Kikuk. Tapi semua yang hadir tertawa. Bahkan seorang lelaki muda menyeletuk,” Duuh, baru juga sebentar udah pengen berduaan lagi.”

Kubimbing tangan istriku menuju dapur setelah sebelumnya melemparkan senyum manis meminta pemakluman pada semua yang hadir.

“Mama udah nggak kuat, Pa!” napas istriku naik turun. Pintu dapur telah kukunci, hanya ada kami berdua saat ini.

“Kalau begitu kita pamit pulang aja sekarang ya, Ma?” tawarku. Aku semakin cemas melihat kondisi istriku.

Seolah tak mendengarkan usulku, istriku meracau. “Kulit halus itu, gimana bisa aku menahan diri saat membelainya? Harum tubuh mereka membuat saraf-sarafku kacau! Mas, aku udah nggak tahan Mas! Mana botol itu?”

Aku menunduk. “Aku lupa bawa, Ma.”

“Ha? Kenapa bisa lupa?” dia mendelik.

Istriku meremas-remas rambutnya. Gelisahnya makin menjadi. Kakinya mondar-mandir seperti orang linglung. Aku berusaha tenang sambil mencari jalan ke luar. Aha, di bagian belakang dapur ada pintu menuju ke halaman belakang. Bergegas kutarik tangan istriku.

“Kita pergi lewat belakang, Ma!” perintahku.

Istriku bergeming. Sebuah tawa aneh ke luar dari mulutnya. “Hihihihi.”

Oh, tidak! Aku benci jika hal ini terjadi, apalagi kalau akulah salah satu penyebabnya. Perlahan taring istriku memanjang. Rasa hausnya terpicu oleh bayi-bayi dan bocah-bocah lucu itu. Lagi-lagi aku teringat pada botol merah berisi darah segar hewan di dalam kulkas. Seharusnya aku tak pernah lupa membawanya.

“Maafkan Papa, Ma. Dari pada semuanya berantakan.” Kuambil sebuah pan dari dinding dapur.

Iklan

10 thoughts on “[Cerita Pendek] Menentang Naluri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s