[Cerita Pendek] Elegi Kunang-kunang

foto : blog.ub.ac.id

foto : blog.ub.ac.id

Malam temaram sepi cahaya. Sunyi nyaris tanpa suara. Hanya hembusan napas dan nyanyi binatang malam yang tersisa. Bulan pucat di angkasa seolah tercekat memandang bumi yang tengah berduka. Di tengah hening yang terasa menyiksa, sebuah suara muncul dari bibir mungil seorang bocah. Susah payah dia berusaha lepas dari dekapan seorang perempuan berjilbab. Setelah berhasil, dia duduk bersimpuh di dekat wajah perempuan itu.

“Ummi, bangun Ummi.”

Agam, bocah enam tahun itu meraih tangan ibunya yang lemah. Mengguncangnya perlahan.

“Ummi tidurnya jangan kelamaan. Agam takut sendirian.”

Tubuh perempuan itu masih tetap diam. Agam terisak, butiran bening jatuh di pipinya yang halus. Biasanya, selelah apa pun tubuh Ummi, selelap apa pun tidurnya, jika mendengar isak Agam dia akan terbangun.

“Agam kenapa, sayang?” Begitu biasanya Ummi akan bertanya.

Agam sering sekali terdiam. Batin kecilnya tak mampu menerjemahkan perasaan apa yang sedang berkecamuk di pikirannnya. Dia hanya tahu, dengan menangis rasa tak nyaman itu sedikit demi sedikit akan pupus.

“Rindu Abi?” tebak Ummi.

Agam menatap mata teduh Ummi. Mata itu memancarkan cinta yang dalam. Dua jiwa mereka saling terhubung. Ummi mengerti isi hati putra kesayangannya.Ummi turun dari tempat tidur, menggamit Agam dan mengajaknya keluar kamar.

“Jangan menangis terus, nanti air matamu habis dan kau tak akan bisa melihat kunang-kunang lagi. Kau lihat? Di bawah lampu penerangan itu mereka sedang bercanda ria. Tidakkah hatimu ikut gembira melihatnya, Gam?”

Agam memandang ke arah yang ditunjukkan Ummi. Lampu penerangan itu terletak di seberang rumah mereka, dipisahkan oleh sebuah jalan beraspal yang tak lebar. Meski tak bisa melihat dengan jelas, Agam tahu di bawah sinar lampu jalan itu banyak kunang-kunang berterbangan.

“Agam mau lihat lebih dekat?” Agam mengangguk antusias. Ummi memperbaiki letak jilbab coklatnya dan menggandeng tangan Agam ke luar rumah. Setelah menutup daun pintu mereka berjalan ke arah lampu.

“Cantik ya, Ummi!” seru Agam. Telunjuknya terarah pada hewan-hewan mungil yang mengeluarkan binar cahaya dari perutnya. Wajah Agam pun sama berbinar.

Ummi mengangguk pelan.

“Mereka sedang apa, Ummi?”

Ummi diam sejenak mencari kata-kata yang tepat. Setelah melonggarkan tenggorokan dia menjawab, “Mencari pasangan masing-masing, Gam.”

“Ooh, pasangan,” gumam bocah kecil itu mengulangi ucapan ibunya tanpa memahami maksudnya. Ummi menghela napas, ada sesak yang mendesak di dada.Tatapannya menerawang menembus langit.

Sejak kecil Agam begitu menyukai kunang-kunang. Ayahnya yang mengenalkan hewan cantik itu padanya dua tahun lalu.

“Kunang-kunang banyak berjasa bagi para pengembara yang memerlukan cahaya. Mereka bisa menjadi pelita sehingga para pengembara tak tersesat.”

Agam kecil tak mengindahkan perkataan Ayahnya. Duduk di balai bambu dengan bertelanjang kaki, tangannya memegang sebuah botol kaca yang ujungnya disekat kain kasa. Benda itu lebih menarik baginya ketimbang penjelasan ayahnya.

“Abi, Abi! Tangkap lagi, Bi!” Agam kecil merengek. Ayahnya hanya tersenyum dan bangkit dari balai bambu menuju kerumunan kunang-kunang. Di bawah lampu jalan, beberapa kali lelaki sederhana itu melompat sambil menangkupkan kedua belah tangan. Agam berteriak-teriak memberi semangat.

“Lihat, Gam, Abi dapat satu kunang-kunang lagi!” Wajah lelaki itu berseri. Kedua tangannya menangkup. Agam bisa melihat di celah tangan ayahnya ada sesuatu yang bercahaya.

“Abi, bawa ke mari, Bi!” Agam melonjak gembira. Ummi yang baru selesai mencuci piring berjalan santai menuju balai bambu.

DOR!

Malam sekejap bisu. Kerumunan kunang-kunang menghilang entah kemana. Angin berdesau menggugurkan beberapa helai daun pohon besar. Mata Ummi dan Agam terpaku pada sosok lelaki kesayangan mereka. Lelaki baik hati itu perlahan tumbang serupa batang pohon yang ditebang. Matanya membelalak, bibirnya berkedut pertanda sakit yang teramat nyeri sedang menyiksa tubuhnya.

Ummi tercekat. Pemandangan yang tersaji beberapa detik sejak suara mengerikan itu terdengar adalah pemandangan yang tak akan pernah bisa dia lupakan seumur hidupnya. Agam meringkuk di tanah. Botol berisi kunang-kunangnya pecah di batu.

Apakah yang lebih sedih dari kehilangan yang tak disangka-sangka? Saat orang yang tercinta meregang nyawa di depan mata tanpa sempat mengucap kata perpisahan. Saat diri tak mengerti untuk apa seutas nyawa dikorbankan.

Ummi berduka demikian dalam. Berhari-hari dia tak berselera makan. Tak berniat pula mengurus badan. Untunglah ada tetangga dekat yang sudah seperti saudara bersedia mengurus rumah dan anaknya.

“Sudahlah, Cut, jangan seperti ini. Kasihan Agam,” bujuk Rima, tetangga yang peduli pada keluarga yang berduka itu ketika Cut menolak makan.

“Aku tak selera, Kak,” tepis Cut halus.

“Kau harus makan. Jaga kesehatan. Kau masih punya Agam,” Rima menyodorkan lagi sesendok nasi dengan lauk ikan goreng. Cut masih menolak. Rima mendesah risau.

“Agam punya dua matahari dalam hidupnya: kau dan Hasbi. Sekarang Hasbi sudah tiada, apakah kau mau seperti matahari yang padam bagi Agam?”

Cut menekuri lantai. Rumahnya sekarang sudah sepi, orang-orang yang datang berdoa pada tahlilan malam ketujuh suaminya sudah pulang semua. Cut merasa kesepian yang menusuk tulang.

“Apa sebab Bang Hasbi dibunuh, Kak? Apa salah dia? Dia cuma orang biasa, tidak berurusan dengan politik. Dia bukan orang mereka. Bukan cuak!” Cut mendadak emosi. Hasbi bukan cuak! Dia tidak mungkin menjual informasi kepada pemerintah. Mereka salah!

Rima buru-buru meletakkan piring ke atas meja dan memeluk Cut erat-erat. “Kita semua tahu Hasbi orang baik. Dia bukan mata-mata pemerintah atau mereka.”

Dua perempuan itu menangis pilu. Hasbi lelaki baik. Dia suami dan ayah yang baik, gumam hati mereka.
Kemalangan Cut tak cuma sampai di situ. Pemilik rumah sewa yang selama ini mereka tempati menolak memberi perpanjangan.

“Aku tahu Hasbi orang baik, Cut,” perempuan setengah baya berkerudung biru menyanggah. “Tapi mereka tak akan mau tahu. Di mata mereka, kedekatan Hasbi dengan orang pemerintah adalah tanda bahaya.”

“Kak Idah, tolonglah Kak,” iba Cut.

Perempuan di depan Cut menggeleng sedih. “Aku ini janda, Cut. Siapa yang akan membelaku jika mereka marah padaku?”

Idah mengulurkan sebuah amplop putih. “Ini sisa pembayaran uang sewa. Kalian baru tinggal di rumahku selama dua bulan. Jadi kukembalikan saja semuanya. Semoga membantu.”

Cut terdiam. Dadanya naik turun menahan sedih.

“Aku mohon, bulan depan rumah ini sudah dikosongkan. Aku pamit, Cut. Assalamualaikum,” Idah bangkit dari kursi kayu yang didudukinya. Sesampainya di ambang pintu dia berhenti.

“Aku minta maaf, Cut,” Idah menyusut air matanya dan berlalu. Cut masih membisu. Dia terbayang suaminya. Terbayang ketika pertama bertemu lima tahun lalu di Jakarta, tempat keduanya kuliah. Hasbi lalu melamarnya dan memboyongnya ke bumi Serambi Mekkah. Hasbi bahkan memberinya nama panggilan “Cut” meski tak setitik pun darah Aceh mengalir di tubuhnya.

“Tapi kan namaku Dian, Bang!” protesnya kala itu. Hasbi hanya tersenyum manis dan menjawab singkat. “Kau perempuan tangguh, kuat seperti Cut Nyak Dhien.”

Sekarang Cut mengerti alasan Hasbi. Dia harus sekuat dan setabah Cut Nyak Dhien dalam menghadapi semua cobaan. Sekarang ini adalah saat yang tepat untuk membuktikannya. Cut mengusap air matanya dan bangkit menuju kamar.

“Kita akan pindah, Nak,” katanya lembut sambil mengusap dahi Agam yang tengah pulas.

Agam membuka matanya. Dia merasa seolah Ummi telah bangun dan mengusap-usap dahinya. Rupanya rasa lelah yang menyerang berhasil membuatnya lelap. Agam melihat ke sekeliling. Ada cahaya kecil yang menyeruak ke dalam ruangan gelap tempat dia dan ibunya berada sepanjang malam.

“Kunang-kunang,” bisiknya pelan. “Ummi, ada kunang-kunang.”

Agam menggenggam tangan ibunya. Mengguncangnya pelan. Masih tak ada jawaban. Diusapnya dahi ibunya yang kotor sambil memperbaiki letak jilbab biru muda yang dipakai.

Bumi bergoyang kencang. Agam menangis ketakutan.

“Ummiiii!”

Raungan Agam terdengar kian keras. Lalu berkas-berkas cahaya menelusup masuk ke ruangan berdinding batu itu. diikuti dengan suara-suara teriakan.

“Hooi, di sini ada korban lain!”

Riuh. Gaduh. Suara langkah kaki mendekat terdengar. Agam tak lagi peduli. Bahkan dia mengabaikan beberapa ekor kunang-kunang yang terbang tak beraturan di sekitarnya. Perhatiannya tertuju hanya pada sang ibu.

“Ya Allah!” seorang lelaki berseru di belakang Agam.

“Ada yang selamat?” tanya seseorang yang tiba berikutnya. Cahaya senter besar menyoroti tubuh Cut yang tertimpa reruntuhan tembok. Hari ini, 26 Desember 2004 sebuah gempa dahsyat mengguncang bumi Aceh. Meski tak terkena tsunami, daerah Pidie mengalami getaran yang hebat hingga menghancurkan banyak bangunan. Salah satunya ruko tempat Cut dan Agam menumpang selama beberapa hari terakhir.

Seorang lelaki maju dan memeriksa denyut nadi. Dia menggeleng. Lelaki lain segera memeluk Agam yang langsung mengerti apa yang terjadi. Jeritnya memilukan hati. Satu lagi kehilangan harus dia hadapi.

“Ummmiiiiiiiiii!”

Catatan:
Cuak : Orang yang dicurigai sebagai penjual informasi dari Gerakan Aceh Merdeka ke Pemerintah Pusat atau sebaliknya.

Iklan

10 thoughts on “[Cerita Pendek] Elegi Kunang-kunang

  1. Mel berkata:

    Bagus, Bang. Tapi mungkin penulisan Ummi diganti saja dengan Umi karena keduanya memiliki arti yg berbeda. Ummi buta huruf. Umi adalah Ibu. Semoga aku tak salah ingat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s