[Flashfiction] Cinta, Tiga, Luka

Ivan mengerjap berkali-kali. Kegelapan mendadak sirna saat dunianya dibanjiri cahaya. Beberapa kerjap lagi dan dia melihat sosok cantik berdiri di hadapannya dengan memegang kain pembebat. Ivan mengedarkan pandang. Mereka ada di sebuah kamar berkelir putih yang diisi berisi sebuah ranjang, lemari besar, meja , dua buah kursi dan sebuah tong. Tong?

“Van.” Suara perempuan di depannya memutus keheranan.

“Lepaskan aku, Maya!” geram Ivan. Maya tersenyum. “Dengan satu syarat, Van.”

Ivan mendengus. Otot-ototnya meregang berusaha melepaskan diri dari tali yang merekatkan erat tangannya ke sebuah kursi jati. Gagal.

“Apa?”

“Kau harus meninggalkan Farah,” bisik Maya yang kini berdiri di belakang kursi sambil mengelus pipi Ivan. Lelaki itu mengelak. “Dan menikah denganku,” sambung Maya.

“Mimpi!” desis Ivan tajam.

Maya seolah tak terpengaruh sikap sinis Ivan. Ia bersimpuh bertopang tangan di paha Ivan. “Aku sangat mencintaimu, Van. Aku akan mengabdi dan setia padamu.”

Mata Maya memohon. Sejenak iba singgah di benak Ivan. Hanya sejenak sebelum wajahnya kembali mengeras. “Tak akan pernah!”

Maya bangkit memeluk lelaki pujaannya. “Aku mohon, Van. Aku akan jaga semua rahasiamu.”

Ivan terkesiap waspada. “Maksudmu?”

“Aku tahu, kau tak cinta Farah, kan? Kau ingin menikahinya saat tahu dia memiliki warisan besar. Ya kan?” Maya berjalan ke arah meja.

“Sembarangan! Aku cinta dia bukan karena warisan!” semburnya marah.

Maya tertawa getir. “Lalu kenapa kau tidur denganku?”

Ivan menjawab pendek. “Iseng.”

“Iseng katamu?” suara Maya tiba-tiba meninggi. Harga dirinya terusik. “Aku memberimu apa yang tak diberikan Farah. Dan kau bilang itu cuma iseng?”

Ivan mengedik. Tangannya menggeliat pelan di belakang kursi. Ugh, ketat sekali!

“Katamu Farah membosankan, dan kau berniat meninggalkan dia. Katamu kita akan menikah!” teriak Maya.

“Menikah? Kita cuma tidur sekali, Maya. Jangan berpikir terlalu jauh.”

“Bajingan!” Maya menjerit marah. Botol minuman di atas meja melayang. Ivan sudah bersiap. Sedikit berkelit, botol itu menghantam dinding di belakangnya dan berantakan. Beberapa pecahannya jatuh di kaki kursi.

Maya merasa sangat terhina dengan ucapan lelaki pujaannya itu. Tega! Maya meremas rambutnya, satu-satu butiran bening jatuh di pipinya. Ketika Maya menunduk, Ivan cekatan meraih satu beling besar. Tangannya segera bekerja.

Ruangan itu senyap. Hanya hela napas yang terdengar. Dan isak teredam. Ivan menajamkan telinga. Dadanya berdebar. Maya melirik Ivan sekilas lalu bangkit menuju lemari besar di sudut ruangan, membukanya perlahan.

“Farah!” seru Ivan kaget. Farah terduduk lemas dengan kaki tangan terikat dan mulut tersumpal. Air mata menggenang di pipinya. Maya menyeret tubuh itu ke dekat kursi Ivan, merenggut kain sumpalan.

“Sayang, semua itu kesalahpahaman. Aku tidak punya perasaan apapun padanya,” panik Ivan menjelaskan. Farah menatap sayu.

“Kita putus, Van. Aku tak mau kenal kau lagi,” lirih Farah.

“Sayang..”

Farah memalingkan muka. Ivan menatap Maya penuh benci. “Semua gara-gara kau!”

Murka, Ivan melompat ke arah Maya. Tangannya terayun.

“Van…” Maya terbeliak. Di lehernya menancap sepotong besar beling. Ada suara mengerikan yang teredam dari tenggorokannya.

Maya terhuyung menuju tong di sudut. Dengan sisa tenaga ia gulingkan benda itu. Cairan bening mengalir, bau bensin menyengat. Gemetar tangan perempuan terluka itu meraih saku celana, mengeluarkan pemantik. Satu kali hentak, pemantik menyala. Maya menatap Ivan untuk terakhir kali. Sekejap kemudian ruangan itu berkobar.

500 kata.

inspirasi dari Fm :

Ari Ta
CINTA MATI. Lubang kubur itu cukup untuk kita bertiga.

Iklan

19 thoughts on “[Flashfiction] Cinta, Tiga, Luka

  1. Ryan berkata:

    Farah terduduk lemas dengan kaki tangan terikat dan mulut tersumpal.
    tapi setelahnya kok Farah bisa bilang putus mas.

    Tapi ceritanya muantab mas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s