[Flashfiction] Jiwa-jiwa Terluka

foto : myreaxns.com

foto : myreaxns.com

Aku tersentak dari tidur. Pelipis kananku terasa disengat sesuatu. Refleks kutepuk binatang –yang aku yakini nyamuk – yang sedang mengisap darahku.

Plak!

Luput. Nyamuk yang merasa terganggu berdenging di telinga lalu menghilang. Kuusap kulit wajah yang gatal. Lalu hening. Aku mencoba mengingat-ingat sudah berapa lama aku terlelap. Mungkin satu atau dua jam, pikirku. Pantas saja kepalaku terasa sedikit pusing. Biasanya aku tidur siang hanya setengah jam. Eh, benarkah sekarang siang hari? Aku tak tahu. Hanya gelap yang ada di sekeliling.

Perutku bergejolak hebat. Ah, rupanya aku belum sempat makan tadi. Aku harus bangun dan menyiapkan makanan sebelum Papa pulang atau dia akan marah besar, benakku mengambil keputusan.

Dugg!

Dahiku terasa sangat sakit saat membentur benda keras. Tengkukku dingin, perasaan aneh yang tak menyenangkan merambati pikiran. Jemari ku menelusuri permukaan benda keras. Benda itu memanjang hingga ke bawah. Perlahan kuangkat kaki. Lagi-lagi sebuah benda keras yang disentuh oleh ujung jari kaki.

Apa ini? pikirku panik. Mataku liar menoleh ke kanan kiri, mencari secercah cahaya, sebuah jalan keluar. Sungguh tak menyenangkan bila tubuhmu tak bisa bergerak bebas sebab dibatasi. Sekuat tenaga aku menendang, mendorong, menghantam.

Nihil.

Tempat yang mengurungku ini hanya bergeser sedikit. Tapi tak ada lagi yang terjadi selain itu. Napasku mulai sesak. Aku ingin menangis.

Papa, aku akan jadi anak baik. Aku minta maaf jika masih saja berbuat salah, batinkumemohon. Papa sudah sering mengurungku di lemari peralatan semalaman bila aku berbuat salah. Atau bila Papa sedang mabuk dan kalah judi, hukuman itu akan didahului dengan beberapa pukulan di wajah dan tubuh.

Tanpa sengaja jemariku menyentuh sebuah permukaan sebuah benda lembut di arah kepala. Kain! Kucoba mengorek benda itu hingga robek. Secercah cahaya dan semilir udara dingin menerobos lubang yang berhasil kubuat. Jemariku terus meraba dan menemukan tiba buah lubang lagi. Susah payah kugeser tubuh ke atas untuk mengintip.

Ini bukan rumahku, bisik hatiku resah. Dan lelaki di ujung sana bukan Papa!

***

Pisau kuasah lebih tajam. Bibirku menyeringai. Sesuatu yang aneh bergejolak di dada. Ekstasi. Sensasi. Sudah lama aku tak melakukan hal ini. Aku harus terus sembunyi hingga orang-orang mulai lupa kejadian sadis itu. Entah mengapa aku ingin terbahak. Aparat goblok! Ah, ya ya. Bukan mereka yang goblok, tapi aku yang terlalu pintar. Dan sekarang waktu yang tepat. Aku menggelengkan kepala sambil terus mengasah. Sampai kudengar suara berisik dari peti di belakangku.

Dia sudah bangun? Baguslah, pikirku. Saat aku memulai pekerjaan ini dengannya aku akan merasa puas melihatnya menjerit memohon ampun, bahkan mungkin memaki. Dan aku akan membalas tiap makian dengan satu goresan menyakitkan.

Kuhampiri peti jati bercat hitam, kubuka selot dan gemboknya. Sebentar lagi wajah memelasnya akan kulihat. Pemandangan yang memilukan tapi aku suka, girangku. Penutup peti terbuka lebar. Di dalamnya terbaring seorang remaja yang kuculik dari sebuah rumah. Matanya memancarkan rasa ngeri melihat pisau mengilat di tanganku.

Berteriaklah, umpatku dalam hati. Dan aku akan dengan senang hati merobek mulutmu.

“Aaagghh… uuughhh.”

Aku tertegun. Dia…bocah ini bisu? Kurenggut wajahnya mendekat. Kasar kubuka mulutnya.Hatiku terasa sesak melihat di dalam mulut itu hanya ada separuh lidah. Aku teringat lidahku sendiri.

500 kata
Keterangan.
Sebenarnya mau pakai Klaustrofobia alias ketakutan berada di tempat sempit/terbatas sebagai tema sentral, tapi malah jadinya kayak begini. :p

Iklan

31 thoughts on “[Flashfiction] Jiwa-jiwa Terluka

    • Attar Arya berkata:

      Ini cerita tentang jiwa-jiwa yang tergores luka. Si bocah yang mendamba kasih sayang ayahnya, dan si lelaki dewasa yang menderita gangguan kejiwaan. Begitulah, La. 🙂

  1. missrochma berkata:

    gpp bang riga, cerita ini tetap mengena di hati saya. dan kesadisan itu ngga melulu berdarah-darah. cukup rangkaian kalimat yang menyayat-nyayat *komen apaan sih?*

  2. dian farida berkata:

    Beneran deg2an ini mah, dapet sih fobia tmpt sempitny.tapi mmg yg bkin penasaran yg nyulik itu kyny juga berpenyakit apa gitu,senang menyiksa orang?istilahlah apa ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s