[Flashfiction] 25 Januari

foto : pixar

foto : pixar

Angin siang hari di 25 Januari yang panas meniup lewat jendela, meriapkan rambutku hingga menutupi mata. Aku masih bisu, pandanganku lurus mengabaikan Mama yang sedang menatapku.

“Maria,” tegurnya pelan, “tolong katakan sesuatu.”

Aku hanya mendengus. “Mama, aku tidak setuju. Tak akan pernah!”

Manik mata Mama membasah. “Mama hanya ingin berbahagia sebelum Mama mati.”

Aku bangkit dari kursiku dan berjalan ke arah Mama. Pelan kusingkap rambut keabuan yang menutupi dahinya. “Mama masih ingat bekas luka ini?”

“Ohh…”

Kuraih lengannya . “Lalu parut ini?”

Mama terisak.

“Semua ini perbuatan Papa!” tiba-tiba aku dikuasai emosi.

“Penduduk Armenia tahu siapa Edward Hernandez. Penjudi kelas berat, pemabuk, playboy! Mama ingin bersama lelaki seperti dia?”

“Tapi Edward sudah berubah. Dia ingin jadi suami dan ayah yang baik.”

Aku meradang. “Baik, Mama. Terserah! Ini hidup Mama, aku tidak berhak mencampuri. Tapi aku tidak mau hidup bersama lelaki itu!”

Bergegas aku naik ke kamarku di lantai dua, mengepak sebuah koper besar lalu menyeretnya turun. Mama tercekat.

“Maria, jangan pergi!”

Kunyalakan mobil meninggalkan Mama yang tergugu di ambang pintu.

**
Aku tersaruk menyusuri jalan. Puing-puing berserakan di mana-mana. Aku harus berjalan kaki dalam gelap untuk sampai ke rumah. Tangisku pecah melihat rumah yang kuhuni selama dua puluh tahun telah rata dengan tanah. Gempa berkekuatan 6 skala Richter yang melanda kawasan barat Kolombia ini pukul enam sore tadi menimbulkan duka mendalam. Ratusan orang diperkirakan telah tewas.

Seorang petugas memberitahukanku tempat seluruh korban dirawat : San Juan de Dios Hospital. Di rumah sakit, terbaring di sebuah ranjang kulihat Mama. Begitu rapuh, begitu mengibakan. Dan yang membuatku tersentak, Edward ada di sisi ranjang. Tangannya menggenggam erat jemari Mama. Bibirnya terus bergerak, berdoa. Sesekali kudengar suaranya yang lirih.

“Querida, despierta. Te quiero.”

Lelaki itu tampak menderita. Aku mengusap air mata dan berjalan mendekat. Edward tersentak menyadari kehadiranku.

“Papa, apa kabar?”

Gempa 25 Januari telah menyatukan keluarga kami.

Keterangan.
Querida, despierta. Te quiero = Sayangku, bangunlah. Aku mencintaimu.


“Ditulis dalam rangka ulang tahun Monday FlashFiction yang pertama”

Iklan

32 thoughts on “[Flashfiction] 25 Januari

  1. ranny berkata:

    te quiero por siempre, querido << diucapin ke suami wakakkakakak

    manis manisss…
    poto itu sering banget dijadiin poto PP BBM 😀 heheheh

    ini ganti themes lagi yak *udah lama banget gak ke sini* 😀 wkwkkwkw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s