[Berani Cerita #42] Saksi Bisu

foto : unikbaca.com

foto : unikbaca.com

Pohon oak di tepi muara sungai Missisippi masih seperkasa dahulu. Dahannya yang rindang seolah lengan-lengan raksasa yang menjangkau sungai lebar di bawahnya. Menjelang musim gugur dedaunnya sempurna kecoklatan, sebagian jatuh di lapangan berumput yang dipenuhi remaja yang sedang bermain frisbee dengan teman atau anjing peliharaan.

“Kau ingat janji kita lima belas tahun lalu, Tony?” tanyaku pada lelaki berjas rapi dan sepatu tersemir tanpa cela. Dia membuang rokok di bibirnya ke rerumputan. Aku menatap masygul pada kebiasaan buruknya.

“Tentu,” katanya setelah meludah.” Kita kembali ke sini, mengenang masa lalu.”

Ah, bukan cuma itu, Tony. Aku ingin merasakan kembali gairah masa remaja kita, gumamku dalam hati.

“Omong-omong, kau terlihat cantik, Darla,” pujinya. Aku tersipu. Kurapikan blazer hitam dan t-shirt putih yang kupakai. “Terimakasih.”

“Lihat,” dia menunjuk pada sisi kanan batang oak, “guratan nama kita masih ada!”

Aku mendekat ke arahnya. Ah, aku ingat. Aku yang menggurat kulit keras pohon besar ini dengan pisau lipat. Darla & Tony : Friends Forever. Aku tersenyum kecut menyadari ada ironi dalam sebaris kalimat itu.

“Oh ya, apa kerjamu sekarang,” tanya Tony antusias.

“Perawat anak. Kau?”

“Aku menjalankan perusahaan IT. Kau lihat sendiri hasilnya,” dia merentangkan tangan, memamerkan diri. Aku tersenyum sopan.

Aku tak bisa cerita tentang hidupku yang sebenarnya padamu, Tony, meskipun aku ingin. Hidupku sepi. Aku tak punya tempat berbagi. Jangankan kekasih, temanpun tidak kumiliki.

“Kau sudah menikah?” Kurasakan wajahku panas ketika mengucapkan kalimat itu. Aku menunduk malu. Dadaku gemuruh menanti jawaban.

Tony tak menjawab. Dia berjalan mendekat, merogoh saku celana dan mengeluarkan dompet.

“Lihat, “tunjukknya pada sebuah foto,” itu Anne dan dua bidadari kecil kami : Michelle dan Rosie.” Aku merasakan mataku panas.

“Oh, mereka manis sekali. Istrimu juga cantik,” kusembunyikan perih dengan sebuah pujian. Tony tersenyum.

Sebuah frisbee yang dilemparkan remaja pirang dengan muka berbintik melayang ke arah kepala Tony. Sigap kutarik tubuhnya mendekat. Tubuh kami merapat, begitu erat. Bisa kurasakan hangat napasnya di leherku.

“Wah, thanks Darla. Untuk seorang perawat refleksmu sungguh baik,” puji Tony.

Sorry, Sir! Aku tak sengaja,” remaja pemilik frisbee datang terengah. Tony tertawa ringan. Aku mengambil benda pipih itu di atas rumput dan menyerahkannya pada si wajah berbintik.

Ma’am, apa itu di pinggangmu!?” remaja itu menunjuk. Astaga! Pasti dia sudah melihatnya!

“Sudah, pergi sana!” usirku sebelum dia bertanya lebih lanjut. Remaja itu menjauh dengan sorot ketakutan di matanya.

Teleponku berbunyi. Sebuah surat elektronik mampir di inbox. “Maaf, aku lihat email ini dulu. Barangkali penting,” aku meminta izin. Tony hanya tersenyum kemudian mencoba memanjat dahan terdekat.

“Target berikut : Tony Richards, pebisnis yang menjadi salah satu penyokong dana untuk kartel heroin Don Scalvo. Tangani dengan baik.”

Ada sebuah foto yang dilampirkan di bawah pesan singkat. Gemetar jariku ketika mengeklik lampiran. Wajah lelaki yang sering mampir di mimpiku terpampang jelas.

“Darla, kau kenapa? Wajahmu pucat!” seru Tony. Aku menggelengkan kepala. Hatiku perih. Tanganku bergerak ke arah pistol berperedam di pinggang. “Maafkan aku, Tony.”

Dahan pohon oak melambai diterpa angin. Beberapa helainya gugur ke aliran sungai yang mengalir pelan. Pohon tua itu telah menjadi saksi : lahir dan matinya sebuah cinta.

500 kata

Iklan

30 thoughts on “[Berani Cerita #42] Saksi Bisu

  1. muhtarais berkata:

    Hai bang…
    Mau komen banyak ah…

    1. Kenapa lebih memilih memakai “Kau” dibanding “Kamu”? Ingin membuat jarak di antara kedua tokoh yah karena sudah lama tak bertemu?

    2. Di kalimat ketiga aku sedikit terganggu dengan penggunaan kata penghubung “Yang” terlalu dekat itu.
    3. Ada beberapa typo deh kayanya. Tunjukknya atau tunjuknya? Mengeklik atau meng-klik? Oh ya pilih kasih ih, beberapa kata asing ada yang dimiringkan dan beberapa tidak.

    4. Satu lagi biar menggenapi. Setahuku penggunaan titik dua biasanya langsung tanpa spasi di awal baru menggunakan spasi sebelum kata berikutnya. Dan huruf pertama setelah titik dua itu jadi kapital (Ex. Pohon tua itu telah menjadi saksi: Lahir dan matinya sebuah cinta.)

    Semoga membantu. Maaf kalau aku sok tahu. 😀

    • Attar Arya berkata:

      Thanks ya Tar.. 🙂

      1. Untuk penggunaan ‘kau’ dan ‘kamu’, karena lokasi cerita ini di luar negeri, rasanya ‘kau’ lebih lazim dipakai. Merujuk juga pada penerjemahan serial/film barat juga sihh 😉

      2. Sudah diedit. 🙂

      3. Di bagian yang mana ya? *males baca ulang. hehehe.

      4. Thanks yah, ntar sekalian diedit deh kalo di pc. 🙂

  2. dickoandika berkata:

    Entah kenapa cerita yang seting ‘luar’ gak menarik menurutku. Menurutku lho bang ya :). Dan sampe dia baca mail itu udah ending si bagusnya :D. Ceritanya ngalir biasa..kayak novel saduran. Tapi ciri khas kamu di cerita ini aq gak dapet.. Keep writing 😉

  3. Ryan berkata:

    uih…
    perawat tapi pembunuh bayaran? hmmm

    keren mas. berasa plotnya. tapi sepertinya tak di indonesia, itu yang saya rasakan pas baca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s