[Cerita Pendek] Siasat Dara

foto : bamruno.blogdetik.com

foto : bamruno.blogdetik.com

Kau di mana? Cepatlah datang!

***

Temaram senja membangkitkan suasana romantis. Semburat sisa-sisa cahaya surya membentuk mosaik indah di angkasa. Suara debur ombak dan kesiur angin menambah kesyahduan. Di dalam kamar sebuah pondok yang terletak terpisah dari pondok-pondok lain, aku dan Rama duduk berdekapan di ranjang. Sedikit rasa gundah kusimpan di balik senyuman.

“Ah, aku masih kangen, Hun. Jangan pulang malam ini, yah?” Rama mengajuk. Jemarinya mengelus bahuku.

Aku tersenyum. “Aku juga maunya nggak pulang, Say. Tapi apa istrimu, eh siapa namanya? Tara? Apa dia nggak nanyain kamu nanti? Lagian besok suamiku sudah pulang.”

“Tary,” Rama mengoreksi. “Ah, kalau soal dia, tenang aja.” Ia tersenyum yakin. “Nah, tinggal gimana cara kamu ngasih alasan ke suamimu. Bilang ada reuni kek, ketemu rekan bisnis, atau apa sajalah,” usulnya.

Aku cuma manggut-manggut.

Suara piano intro lagu Someone Like You milik Adele mengalun dari ponselku. Aku menggeliat dari pelukan Rama dan bangkit meraih ponsel dari atas meja di seberang ranjang. Sebelum mengambil ponsel kulirik paras tampan Rama yang berubah waspada. Kuabaikan pertanyaan di matanya. Kubaca pesan yang tertera.

Akhirnya!

Kuketikkan pesan balasan lalu berbalik menghadap Rama dengan wajah murung.

“Sms dari siapa, Hun? Suamimu? Apa katanya? Dia segera pulang?” Rama memberondongku dengan pertanyaan. Wajahnya berubah panik. Aku tertawa dalam hati.

“ Iya, itu kabar dari suamiku,” kataku dengan wajah murung. “Dia bilang akan pulang tiga hari lagi!” Kuberikan nada riang di akhir kalimat. Lelaki di depanku terlonjak dari ranjang. Binar matanya kegirangan.

“Serius, Hun?”

Aku mengangguk, lalu duduk di kursi rotan beralas bantal empuk.

“Asyikkk…” Seperti anak kecil mendapat hadiah, Rama mengempaskan tubuh atletisnya ke ranjang dan berseru lega. Setelah itu dia bangkit dan menghadapkan tubuhnya ke arahku. Sejenak hening menggantung. Rama memandangiku lekat. Ada birahi di matanya.

Hun..”

“Ya?” Aku deg-degan.

“Aku….pengen,” Rama tersenyum malu-malu. Cengiran nakal muncul di wajahnya. “Kita kan udah kenal lama, udah sama-sama dewasa juga, jadi…..”

Rama menggantung kalimatnya. Menatapku dengan pandangan memohon. Sial!

Sejenak aku terdiam. Bukan seperti ini rencanaku semula. Pandangan Rama masih tertuju padaku. Aku mengalihkan tatapan ke arah luar jendela. Matahari mulai tenggelam.

“Say…kamu buka baju aja dulu deh. Aku mau mandi bentar. Biar segar, biar enak.” Aku mengedip. Nafsu Rama terlihat kian tinggi. Sepertinya aku bisa melihat mulutnya berliur.

“Ya, Hun. Gimana kalo barengan?” Ia mengerling. Dasar nakal!

“Iiih, nggak mau ah! Nanti aja sekalian.” Aku bergegas bangkit menuju kamar mandi. Sengaja kulepas baju luarku di depan Rama. Wajahnya bersemu menahan nafsu.

Aku mandi dengan santai sambil bernyanyi. Kadang cuma bersenandung, kadang berteriak-teriak bila menyanyikan lagu rock yang kusuka.

Hun….cepetan dong mandinya! Nggak tahan niih.” Kuabaikan permohonan Rama di luar kamar mandi.

Setelah hampir setengah jam akhirnya aku keluar dari kamar mandi dengan tubuh berbalut handuk putih menutupi separuh tubuhku. Rama sudah nyaris bugil. Hanya sepotong cawat menutupi kelelakiannya yang kini tampak penuh.

“Aku sudah siap, Hun,” Rama menyeringai. Sejenak aku mematung memandanginya. Kuharap aku tak harus melakukan ini.

“Aku juga, Sayang,” kataku akhirnya.

Rama mendekat, membelai rambutku dengan lembut. Lalu bibirnya mencari bibirku, melekat erat, melumat. Perlahan aku terhanyut menikmati. Lengan kekarnya merengkuh tubuhku, meremas liar, mendesak tubuhku ke dinding.

Ya Tuhan! Cepatlah! Aku sudah tak tahan!

Tubuhku menggelinjang menolak kenikmatan yang mulai merambati sekujur tubuh. Sekuat tenaga aku bertahan agar tak terhanyut dalam permainan Rama yang memabukkan. Tangan berotot itu membimbingku ke ranjang. Melucuti handuk yang kupakai. Syukurlah, masih ada pakaian dalam yang melekat. Rama kian buas. Aku memejamkan mata!

BRAKKK….

Pintu kamar terpentang lebar. Seseorang telah menendangnya dengan sangat kuat. Di ambang pintu Tary berdiri dengan wajah murka. Matanya liar menatap kami berdua yang masih saling tindih di ranjang.

“Tary!” ucapku dan Rama nyaris berbarengan. Rama menatapku heran. Tapi perhatiannya segera beralih pada perempuan yang sepertinya sudah siap mengamuk. Aku buru-buru menjauh dari Rama.

“Jadi kamu lemburnya di sini, hah!? Ngelemburin perempuan, hah?!” Tary berteriak marah. Diambilnya vas bunga di atas meja dan melempar benda itu ke arah Rama. Rama mencoba mengelak tapi terlambat. Sisi kanan kepalanya terhantam vas kaca. Rama hanya bisa mengaduh. Aku gegas meraih handuk di lantai.

“Aku di rumah mikirnya kamu sedang kerja. Cari uang buat keluarga, eeh.. nggak tahunya… Dasar bajingan!” Tangan Tary meraih asbak. Rama refleks melindungi diri. Tapi ternyata Tary hanya menggertak. Asbak itu dia jatuhkan begitu saja ke lantai.

“Apa? Kau mau tanya darimana aku tahu kau menginap di sini, hah?” Tary seolah bisa membaca pertanyaan itu di mata Rama. “Telingaku ada di mana-mana, Mas! Apa kau lupa kalau cottage ini milik orangtua temanku?” Dada Tary naik turun seakan menahan amarah yang demikian hebat.

Tary mengalihkan pandangannya padaku yang bersandar di pintu kamar mandi. Matanya berkilat. Rama juga sedang memandangku. Perkataan Tary pasti menimbulkan pertanyaan baru di benaknya. Ya, aku bisa menebak. Rama ingin menanyakan mengapa aku memilih cottage ini sebagai tempat pertemuan rahasia kami.

“Dan kau, Jalang!” suara tinggi Tary mengalihkan perhatian aku dan Rama, “Jangan kira kau bisa seenaknya merebut suami orang ya!” Dia mendekatiku, menatap tajam lalu menamparku. Aku terhuyung ke belakang. Memegangi pipi, mengaduh pelan. Kutatap mata merah Tary. Tolong, jangan tampar lagi.

Tary di atas angin. Dia menghampiri Rama yang tak berkutik berdiri di pinggir ranjang dengan separuh tubuh ditutupi seprai. Matanya menekuri lantai.

“Ughhhh…” jerit tertahan keluar dari dari mulut Rama ketika kaki Tary singgah di selangkangannya.

Tary tersenyum sinis melihat wajah Rama yang kesakitan. “Aku tunggu kau di rumah, Mas. Aku minta cerai!”

Tary berlalu setelah sekali lagi menatapku dengan tatapan sadis. Aku bergegas mengemasi barang-barangku yang sebagian besar masih ada di dalam koper. Kukenakan kemeja dan celana panjang lalu bergegas ke luar kamar.

“Hun…” Rama memanggilku. Kuhentikan langkah dan berbalik. “Mulai saat ini kita nggak ada hubungan lagi. Kita urus diri masing-masing,” ketusku. Pintu berbunyi lantang ketika kubanting.

***

Dalam senja yang kian tua sinar matahari perlahan sirna. Aku masih berjalan menyusuri pantai tanpa alas kaki. Koper aku letakkan di dekat sebuah pos penjaga pantai. Suara merdu Adele mengalun lagi. Kubaca pesan yang masuk. Aku tersenyum, mengetikkan balasan.

“Ah, nggak sakit kok.”

Iklan

17 thoughts on “[Cerita Pendek] Siasat Dara

  1. me_maemunah (@SuperMumun) berkata:

    hiks…. #gagalpaham….kakaaa… apa krn gw bacanya ikut panas ya?
    menyikapi komen sebelum ini:
    soal dialog sitri yg dikhianati, it’s fine kok, ga perlu terlalu kasar juga gpp krn karakter tiap wanita itu beda, tidak semua wanita bisa berkata kasar atau sarkasme meski dia dikhianati…
    soal suara mendayu laki-laki yg sudah birahi pun juga sama… bahwa intinya karakter tiap orang dalam mengekspresikan diri itu berbeda meski dalam situasi yang sama.
    sekian dari saya kaaak….

  2. jvtino berkata:

    untuk cerita yang emosional kayak gini, kamu kurang menaruh emosimu di cerita ini, Bang.
    setting ceritanya, rapi, tapi ‘gejolak’nya kurang terasa.

      • jvtino berkata:

        hahaha… oke.. aku membaca ada beberapa situasi emosional: 1. selingkuh, 2. birahi, 3. dikhianati, 4. penipu (sorry, aku berasumsi, perempuan teman selingkuhannya, ternyata menjebak si lakilaki).

        untuk setting, aku rasa, di cerita ini tidak ada masalah. nah, kendala di cerita ini adalah dialognya, yang [aku rasa] kurang melampiaskan emosi di setiap adegan.

        selingkuh: setiap perselingkuhan itu pasti waspada, curiga, dan ‘kepepet’.
        birahi: setiap orang yang sudah ‘tertutup napsu birahinya’ kemungkinan besar akan lupa atau khilaf (bayangkan kalau birahi dalam perselingkuhan).
        dikhianati: setiap orang yang dikhianati, kemarahannya pasti meletup-letup, bahkan kemungkinan besar khilaf, emosi meledak-ledak, dan tak terbendung.
        penipu: setiap penipu, bisa dipastikan ‘tanpa emosi’ atau berdarah dingin. mereka fokus pada target yang ingin dia capai, dan tidak terbawa arus disetiap situasinya.

        nah, berdasarkan seting emosi diatas, kamu bisa menyesuakan dialognya… misal:
        – ringtone >> setiap orang yang sedang asik selingkuh, pasti waspada terhadal apa pun yang ‘mengagetkan’, salah satunya rington hape. bikin dia terkejut dan curiga tentang apa isinya, dari siapa, kenapa, dll…
        – “aku… pengen…” >> birahi datang di saat sedang asik selingkuh, biasanya membuat lupa, menggebu, tidak bisa mengontrol. jadi, minimaliskan dialog dari si laki-laki.. dialog perempuannya sudah ok. selebihnya, ceritakan saja cerita kebuasan si laki laki ini, sedangkan si perempuan berusaha mengalihkan (karena ternyata dia yang membuat jebakan) dan si perempuan tetap cool.
        – istri rama >> nah, disini dinamika dialognya dibuat maksimal saja. keluarkan makian. jangan tanggung tanggung. di ceritamu ini, sekasar kasarnya, cuma ada ucapan, “cihhh”. kurang nampol. buat kalimatnya lebih lugas. macam orang berantem di pinggir jalan ajah, hahaha… bila perlu, setiap satu kalimat omelan, langsung bumbui kata kata makian… misal: “Jadi kamu lemburnya di sini? hah!? BAJINGAN…!! Bilangnya dinas? BANGSAT…! nggak tahunya main gila… KAMPRET KAU…! berani main gila sama perempuan lain? LAKI LAKI NGGAK GUNA..!!”

        sekian, maap cuma sharing aja ya.. ga bermaksud nggurui.. semoga bermanfaat. tapi kalau kurang sreg, anggap aja, aku tetep fans tulisanmu, bang… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s