[Flashfiction] Ilusi Dosa

foto : kompasiana.com

foto : kompasiana.com

Bayi lelaki itu merangkak mendekatiku. Dia berhenti di beberapa langkah dari tempatku berdiri. Pandangan kami beradu. Kurasakan kedua matanya seperti sebilah pedang yang mengoyak-ngoyak pikiranku dan meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah kulakukan.

Aku tercekat ngeri sambil berusaha mundur. Bayi itu masih memandangku tajam. Mata beningnya menghakimiku telak.

“Pembunuh!”

Sebuah suara mendengung. Siapa yang berbicara?

“Pembunuh!”

Bayi itu berbicara? Oh, Tuhanku, bayi itu berbicara! Aku meremas rambutku hingga kurasakan nyeri di kepala.

“Tidak! Aku tak sengaja. Maafkan aku!” aku memohon. Mataku mendelik ketika tubuh bayi itu mulai membesar, semakin besar. Napasku tersengal. Kini wajah mungil itu ada di depan mataku, menatapku tajam. Lalu tanpa peringatan, tubuh itu pecah serupa balon yang digembungkan lalu ditusuk jarum. Wajahku basah cairan.

“Hei, Dave! Bangun!”

Aku tergeragap. kulihat Robert, teman sepeleton berdiri gusar. Tangannya memegang gelas kosong.

“Kau menganggu tidurku!” omelnya kesal.

Aku mengusap wajah dan meminta maaf. Robert melemparkan gelas sembarangan dan melanjutkan tidurnya. Aku termenung di ranjang.

***

“Mimpi buruk, Dave?” May, satu dari sedikit prajurit wanita yang dikirim ke Irak menegurku.

Aku meneguk bir hingga tandas. Sesudah disiram oleh Robert, aku memutuskan ikut berjaga bersama May dan pasukan lain.

“Pada penyerbuan kemarin aku menghabisi sebuah keluarga.”

“Lalu?” May mengedik. Bukannya itu sudah biasa, bahasa tubuhnya mengisyaratkan.

“Aku tak sengaja menembak seorang bayi,” kutelan ludah yang kesat. Kepala kutundukkan dalam-dalam.

“Maksudmu bayi seperti ini?”

Aku mengangkat kepala. Bayi seperti ini? Apa maksudmu May?

Jerit kengerian keluar dari mulutku. Dari balik seragam ketat May sesuatu seolah berusaha menerobos keluar. Kancing baju May terlepas ketika sebuah tangan menembus kulitnya, disusul tangan kedua, lalu sebuah kepala muncul. Napasku sesak. Kuraih pistol dan menembak makhluk itu. Lagi. Dan lagi.

“Dave! Kau menembak May! Kau gila!” suara Robert terdengar. Tapi saat aku menoleh yang kulihat adalah wajah bayi itu. Kulepaskan sebutir peluru ke arah kepala bayi itu.

300 kata

Iklan

36 thoughts on “[Flashfiction] Ilusi Dosa

  1. dickoandika berkata:

    Bisa jadi Schizo kalo kayak gini. Tapi Schizo itu gak bisa jadi tentara. Dan Schizo itu bukan tumbuh karena rasa bersalah. Dalam cerita ini lebih ke rasa bersalah dan halusinasi. Kayak cerita hantu atau azab kubur :D. By the way..like always, setingan di luar kurang menarik menurutku.

    Bang, sebelum baca cerita ini aku baru pengen bilang kalo aq pengen abg buat cerita ttg seorang personality disorder :). Boleh apa aja, tapi kalo kalo Schizo ceritanya akan keliatan gak masuk akal. Mudahnya si multiple personality. Memang udah ada Billy dan Sybil. Tapi kalo cerita kamu menarik, gak masalah si menurutku…BERANI???

    • Attar Arya berkata:

      iya, menurutku ini cuma tumpukan rasa bersalah, halusinasi padang pasir
      cerita dengan karakter bermasalah seperti itu butuh riset, but hey challenge’s accepted! *tapi ga pake tenggat yah. hehe

          • dickoandika berkata:

            Haha..enggak kok. Kapan kamu sempet dan punya waktu aja bang. #Kemudian Berlalu.

            Setelah dipikir-pikir, Kalo Multiple Personality itu memang bisa dikaitkan dengan ciri khas cerita kamu banget. But wait, aku tarik balik ya kata2ku kalo ceritanya boleh tentang personality disorder apa aja. Untuk lebih mudahnya, disorder personalitynya aku tentuin dan ceritanya boleh digabung dengan ide awal cerita yang pesenan lalu itu :). Jadi satu cerita aja. hehehe…

            so, ide ceritanya dari aku deh. nanti bang Riga yang sadisin..ehh..kembangin :).
            Eh, gak jadi deh ntar malah gak kreatif atau terkekang jadinya :D.
            emm..pilih ini deh, Bipolar Disorder atau Short Term Memory Lost sampe Alzheimer :).

            Good Luck bg 🙂

    • riga berkata:

      mengedik : menggerakkan bahu, pertanda tidak tahu, atau masa bodoh. | bergidik : perlambang rasa ngeri, takut. Kurang lebih begitu, belum cek KBBI. Hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s