[Flashfiction] Angkara Sang Dewi

foto : seribuji.blogspot.com

foto : seribuji.blogspot.com

Dewi Kadru bungah. Dewi berwajah buruk itu menari-nari. Sebuah kendi mungil yang menguarkan bau harum ada di genggaman.

“Bunda Dewi, mohon tepati janji,” sebuah suara menyadarkannya. Garuda, Si Burung Perkasa berdiri menatapnya.

“Oh, tentu saja, Anakku. Kau membawakanku Tirta Amerta dari istana Dewa Wishnu, maka aku akan penuhi janji. Mulai saat ini, kau dan ibumu Dewi Winata bukan lagi budakku,” Dewi Kadru mengulas senyum. Garuda menghela napas lega.

“Terimakasih Bunda Dewi. Aku pamit.” Seusai memberi hormat, Garuda mengepakkan sayapnya dan membumbung ke udara. Sinar keemasan menyelubungi tubuhnya. Dewi Kadru menyipitkan mata lalu kembali menatap kendi di tangannya. Diendusnya bau harum itu, senyumnya melebar.

Tiba-tiba suara desisan terdengar di sampingnya. Dewi Kadru berseru, “Taksaka! Jangan mengejutkanku!”

Taksaka, Sang Naga adalah anak Dewi Kadru yang menetas dari sebutir telur. Tubuhnya bergelung hormat di depan ibunya. Sisiknya berkilauan terang.

“Jadi Garuda berhasil, Bunda Dewi?”

“Ya.”

“Bolehkah aku minta sebagian air suci itu agar hidupku abadi?” pintanya sopan. Dewi Kadru menolak. “Tak boleh!”

Taksaka menggeser tubuh panjangnya ke hadapan Dewi Kadru. “Tapi bukankah Bunda Dewi akan hidup selamanya setelah Dewa Brahma menganugerahi keabadian?”

“Aku membutuhkannya untuk mandi. Aku dewi berwajah buruk. Meski hidup abadi dan bisa mengubah diri menjadi cantik, wujud asliku tetaplah buruk,” Dewi Kadru menjelaskan. Taksaka tak berani membantah. Bagaimanapun, kesaktian Dewi Kadru ada di atasnya.

“Jadi, di manakah Bunda Dewi akan melaksanakan upacara mandi itu?”

Dewi Kadru menjawab mantap. “Sendang Swargaloka.”

***

Sendang Swargaloka adalah tempat mandi para dewi. Berbentuk persegi empat hasil pahatan para dewa dan dialiri air sejuk pegunungan. Dewi Kadru menuangkan isi kendi hingga tuntas. Perlahan air sendang mengeluarkan uap hangat. Harum kesturi memenuhi udara. Dewi Kadru melepas seluruh pakaiannya dan mulai memasuki air. Pesan Taksaka terngiang di telinganya.

“Menyelamlah sebanyak tujuh kali, dan Bunda Dewi akan secantik dewi di kahyangan. Ingat, cukup tujuh kali.”

Dewi Kadru melaksanakan amanat Taksaka. Setelah tujuh kali dia menatap bayangan wajahnya di bening air. Gigi taringnya telah hilang, sisik-sisik putih di kulitnya lenyap. Wajah buruknya tak ada lagi, berganti paras secantik bidadari.

Bukan main girangnya Dewi Kadru. Tapi tak lama keserakahan muncul di pikirannya. “Jika aku menyelam tujuh kali lagi, pasti kecantikanku menyamai Dewi Uma, istri Dewa Brahmana. Alangkah bahagianya aku.”

Dewi Kadru menyelam tujuh kali lagi. Ketika dia menatap wajahnya di air dia terkejut bukan kepalang. Wajahnya kembali buruk seperti sediakala. Gemetar tubuh Dewi Kadru. Dia menyelam lagi, dan lagi, dan lagi, tapi wajahnya tetap buruk. Dewi Kadru meratap pilu.

400 kata.

Iklan

21 thoughts on “[Flashfiction] Angkara Sang Dewi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s