[Berani Cerita #36] Amba Menekan Jiwa

foto : nopindra.files.wordpress.com

foto : nopindra.files.wordpress.com

Malam mencekam, kelam seperti warna darah yang mengering hitam. Amba ringkuk menggigil di balik pintu. Tangannya yang menggenggam parang penyabit rumput lunglai di samping tubuh. Rambutnya berantakan meriap di dahinya yang basah. Keringat dingin mengalir di punggung.

Sunyi.

Mata Amba mendadak terpentang lebar ketika telinganya menangkap suara keras dari luar rumah. Suara menyayat seorang lelaki yang memilukan jantung. Teriakan perempuan memohon ampun. Jerit-jerit kematian. Amba memejamkan mata. Mencoba berdoa pada Yang Maha Kuasa. Bibirnya bergetar dalam harap yang dalam. Sekilas, ada damai menelusup batinnya.

Tapi tak lama.

Jantung Amba memukul keras ketika pintu depan rumah diketuk garang. Lamat telinganya mendengar seseorang memanggil.

“Ibu…Ibu…”

Itu Ridho, anak tertuaku!

Amba bangkit dari tempat persembunyiannya, melangkah ragu menuju pintu. Benarkah itu Ridho? Bagaimana jika itu bukan dia? Amba teringat cerita seorang tetangganya beberapa waktu lalu perihal kerusuhan etnis yang melanda kota sebelah.

“Penyerang keluarga itu menirukan suara Imam Kampung. Begitu mereka membukakan pintu, segerombolan bengis menyerbu. Mengayunkan parang dan pedang. Darah muncrat kemana-mana…”

Amba menutup mata. “Sudah, Bu! Jangan diteruskan ceritanya. Ngeri!”

Amba, perempuan empat puluhan, janda berputra tiga yang berhati lemah tak sanggup mendengar cerita kesadisan gerombolan bengis. Entah apa yang akan terjadi padanya jika harus menyaksikan kejadian serupa cerita. Mungkin dia akan pingsan.

Tapi sekarang Amba tak boleh pingsan. Amba harus berjuang demi selembar nyawa yang melekat di badan. Kakinya diseret perlahan menuju ruang depan. Dari pintu pembatas Amba mengamati suasana.

“Ibu…ini Ridho mau jemput Ibu. Cepatlah, Bu!”

Benar! Itu suara Ridho! Batin Amba membuncah senang. Anaknya menjemput dia yang pulang ke rumah untuk mengambil surat-surat penting yang ketinggalan. Semula Amba akan langsung kembali mengungsi, tapi keadaan memburuk dengan cepat. Dan Amba terjebak di rumahnya sendiri. Gegas Amba membuka pintu. Di remang beranda tegak seorang remaja pria. Wajahnya cemas, napasnya memburu.

“Ibu seharusnya tidak pergi sendiri! Tidak aman!” Ridho menyembur kesal.

“Maaf, Do. Ibu nggak tahu bakal seperti ini. Ya sudah, Ibu ambil map suratnya dulu. Ada di kamar,” Amba berbalik menuju kamar.

“Nggak perlu, Bu! Kita harus segera pergi sebelum mereka….” kalimat Ridho terputus oleh suara muncrat yang mengerikan.

Langkah kaki Amba terhenti. Suara apa itu? Amba memutar badan. Pemandangan mengerikan terpampang di depan matanya. Tubuh Ridho ambruk ke tanah tapi kepalanya masih ada di posisi semula. Sebuah tangan memegang rambut anak kesayangannya.

Amba histeris. Anakku! Anak kesayanganku! raungan Amba memekakkan telinga.

Entah mendapat kekuatan dari mana Amba mengamuk serupa singa betina. Parang di tangannya menyabet, memenggal, membelah. Beberapa orang pembunuh anaknya tumbang tak bernyawa. Sebagian lagi kabur karena jeri melihat amuk Amba. Amba bersimpuh di depan tubuh tanpa kepala milik anaknya. Amba meraung. Jerit pilunya membelah udara.

****

Seperti ribuan orang lain yang hari-hari itu ketakutan, Amba harus tidak lagi punya masa lalu.

Dia harus berjuang melanjutkan hidup. Tapi Amba tak pernah bisa. Sepuluh tahun berlalu, dia masih hidup di masa itu. Amba menatap hampa pada perempuan muda berwajah menyenangkan di depannya.

“Sudahlah, Dokter. Aku tak akan bisa lupa. Selamanya.”

Amba menarik selimut menyelimuti seluruh tubuhnya. Ingatannya kembali ke masa itu.

500 kata

Iklan

20 thoughts on “[Berani Cerita #36] Amba Menekan Jiwa

          • jvtino berkata:

            agak gila sih ideku, mungkin bisa di coba di draft dulu.

            ini >> bagian cerita tetangga, dipindah ke bagian awal. tujuannya, ‘bom’ cerita sebagai pembuka.. secara keseluruhan cerita, rasa ngeri dan mencekan sudah menyebar ke seluruh alinea, jadi, bom diawal [menurutku] justru semakin menyeret pembaca lebih mencekam lagi..

            kira-kira seperti ini >>

            Amba menutup mata dan teringat cerita seorang tetangganya beberapa waktu lalu perihal kerusuhan etnis yang melanda kota sebelah.

            “Penyerang keluarga itu menirukan suara Imam Kampung. Begitu mereka membukakan pintu, segerombolan bengis menyerbu. Mengayunkan parang dan pedang. Darah muncrat kemana-mana…”

            “Sudah, Bu! Jangan diteruskan ceritanya. Ngeri!”
            ——-

            Malam mencekam, kelam seperti warna darah yang mengering hitam. Amba ringkuk menggigil di balik pintu. Tangannya yang menggenggam parang penyabit rumput lunglai di samping tubuh. Rambutnya berantakan meriap di dahinya yang basah. Keringat dingin mengalir di punggung.

            Sunyi.
            ……[dst]

            demikian bang, kira-kira 🙂
            semoga berkenan sarannya 😀

  1. dian farida berkata:

    Deg-deg, inget cerita temenku dari pulau sebrang.bahkan bayipun jadi korban.hiks. eh,aku comment ada kalimat yg terasa janggal dibagian
    Amba histeris.
    Dulu dia selalu beranggapan bla bla…….Entah mendapat kekuatan dari mana Amba mengamuk serupa singa betina. Menurutku “pas”an kalo kalimat Dulu dia selalu beranggapannya ga ada disitu, tapi langsung entah mendapat kekuatan dari mana. Rasanya kaya hampir klimaks tapi ga jadi. Tapi selera sih, soalnya kan aku baca sambil ngebayangin,histeris,teriak,eh tiba2 balik kepikiran Amba,bukan langsung ketindakan membalas bacokan. Semoga ngerti mksdku,hehe

    • riga berkata:

      makasih, Junior. Aku menghindari petunjuk yang mengarah ke satu kelompok atau kejadian. Walaupun pastinya saat nulis ini aku ngebayangin kejadian sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s