[Flashfiction] Terimakasih, Papa, Aku Membencimu

foto : weheartit.com
foto : weheartit.com

Kapten Polisi Sumarno mencibir ketika mengetahui anaknya kembali gagal dalam tes menembak untuk mendapatkan izin menggunakan senjata.

“Tes begini saja tak bisa. Mau jadi kapten sepertiku? Mimpi!” Sumarno menikam sepotong rendang dengan garpu.

Radit membisu di sebelahnya. Sumarno bangkit menuju kamar. Ketika kembali, sepucuk pistol ada di genggamannya.

“Jangan-jangan cara memegang pistol pun kau tak tahu?” dia tertawa menyakitkan.

“Kuberitahu kau, saat membidik target, anggap itu orang yang kau benci dan ingin kau pecahkan kepalanya,”sambungnya.

Tangan Radit bergerak cepat, merenggut pistol dan tanpa menoleh menembakkannya ke dinding seberang ruangan. Sebuah foto hancur berantakan, foto Sumarno.

“Seperti ini, Pa?” tanya Radit dingin.

diikutsertakan dalam #FF100Kata

12 komentar pada “[Flashfiction] Terimakasih, Papa, Aku Membencimu”

    1. iya… aku bayangin sekian lama si anak tertekan oleh sikap bapaknya…dan akhirnya punya ‘kesempatan’ untuk melepaskan… 😐

    1. obsesi seorang anak untuk jadi seperti ayahnya, sebagai pembuktian diri. sebab si ayah selalu menganggapnya tidak mampu. 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s