[Flashfiction] Panggung Kematian

foto : prahoro.blogspot.com

foto : prahoro.blogspot.com

Menur merapikan sampur hijau di lehernya. Dia mematut diri di depan cermin; kemben merah dan stagen membalut tubuh langsingnya. Penata gamelan memberi isyarat, Menur mengangguk mantap. Sejurus kemudian dia telah ada di panggung. Tubuhnya bergerak gemulai seirama kendang. Menur ada di dunianya.

“Aku mencintai pekerjaanku. Aku ingin kelak mati di panggung, ” ucap Menur suatu ketika.

Beberapa lelaki naik ke atas panggung. Menur mengalungkan sampur pada yang tertampan, mengajaknya menari. Menur tersenyum, juga pria gagah itu. Tapi senyumnya berbeda makna. Sebilah pisau dia cabut dari balik kemeja, menghunjamkannya ke perut Menur.

“Aku tak suka kau menggoda Mas Damar. Dia milikku!”

diikutsertakan dalam #FF100Kata

Iklan

18 thoughts on “[Flashfiction] Panggung Kematian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s