[Flashfiction] Penunggu Kamar Mayat

foto : uniknya.com

foto : uniknya.com

“Nek, aduh akika susah jalannya niih. Banyak pecahan batu,” Tammy menggerutu pelan. Lelaki gemulai bergaun merah menyala yang dipanggil ‘nek’ menempelkan telunjuknya di bibir.

“Ssst, yeyy jangan berisik deh. Mau itu petugas trantib nemuin kita?” Mantili mengintip ke luar jendela. Berkas-berkas sinar senter tampak berkelebat. Derum mobil terdengar meningkahi. Sebuah berkas sinar tepat lurus mengarah ke jendela. Sigap Mantili menunduk.

“Ssst, pindah! Pindah!” Mantili berbisik pada Tammy. Tammy yang sedang berjongkok di pojok mendelik. Matanya bertanya, “Kemana?”

Mantili tak menjawab. Masih dengan menunduk dia bergerak makin ke belakang bangunan tua yang telah lama ditinggalkan ini. Tammy mengikuti sambil menenteng high heels.

“Capcus!” Mantili berdesis. Tammy cuek.

“Eh, kita di mana nih?” bisik Mantili ketika mereka sampai di sebuah ruangan. Tammy cemberut. “Akika mana tahu? Yeyy yang bawa kita ke mari.”

Mantili melangkah melintasi ruangan yang cukup bersih menuju dinding di mana menempel sebuah lemari kayu berbentuk aneh. Terdiri dari delapan kompartemen dengan liang memanjang ke dalam. Sebagian pintu terbuka, sebagian sedikit tertutup. Pintu-pintu itu sudah rapuh. Beberapa bahkan hampir terlepas dari engselnya. Mantili mengendus. Bau aneh menguar dari kompartemen panjang tersebut.

“Nek, capek banget nih! Akika mawar tidore ah,” Tammy mengeluh lagi. “Ih, dipan batunya bersih. Cucok deh,” dia nyerocos. Setelah mengibaskan sedikit debu yang menempel, Tammy merebahkan diri di dipan yang terbuat dari beton dilapisi keramik. Ketinggian struktur tersebut sekitar satu setengah meter dari lantai dan berukuran sekitar satu kali dua meter.

“Duh, nyamannya! Dingiiin,” Tammy berceloteh. Mantili masih memerhatikan sekeliling ruangan. Kini dia berdiri di depan lemari kaca. Tangannya terjulur ke balik pintu kaca. Sebuah papan nama dia raih. Dibantu sinar lampu jalan di seberang yang menerobos jendela tak berdaun Mantili berusaha membaca.

“Ihh, lucu ya nek. Dipan ini ada kerannya! Kayak tempat mandiin mayat aja,” Tammy terkikik sebelum kemudian terdiam. Bersamaan dengan itu mata Mantili berhasil membaca tulisan di papan nama : Kamar Mayat. Seketika wajahnya memucat, serupa pula dengan Tammy yang melihat bayangan besar mendekati jendela.

“Mantooo! Ada hantu di belakangmuuuu! Lariiiii!” tanpa memedulikan high heels yang dia letakkan di lantai, Tammy sontak lintang pukang berlari. Mantili alias Manto masih terpaku gemetaran di tempatnya berdiri meski bayangan itu kian dekat. Tiba-tiba telinganya mendengar derit pintu lemari kayu yang mulai membuka. Tanpa ba-bi-bu dia mengangkat rok dan mengambil langkah seribu menyusul temannya.

“Tomiiii! Tunggu akuuu!”

***

“Siapa orang-orang tadi, Pak?” seorang bocah kecil bertanya sambil mengunyah nasi dengan secuil ikan goreng. Bapaknya hanya mengedik, “Orang gila. Sudah, makan saja terus.”

400 kata.

Akika : Aku
Capcus : (menyuruh) Cepat
Akika mawar tidore : Aku mau tidur.

Iklan

38 thoughts on “[Flashfiction] Penunggu Kamar Mayat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s