[Cerita Pendek] Venganza

foto: blog.lib.umn.edu

foto: blog.lib.umn.edu

Rumah peristirahatan Los Cabos milik Juan Pablo yang berjuluk el Mata atau Si Pembunuh tampak semarak. Sebuah pesta kecil diadakan untuk memeriahkan acara ulang tahun Maria Luisa, putri kesayangan si Tuan Besar. Tahun ini usia si gadis mungil menginjak enam tahun. Kedua orang tuanya mengundang kolega dan kerabat dekat beserta anak-anak mereka untuk menikmati pesta. Para orang tua duduk santai di tepi kolam renang, mengobrol sambil menyesap segelas martini. Pelayan berseragam rapi hilir mudik membawa kue dan minuman di atas nampan perak, siap memenuhi semua permintaan tamu.

Aku menatap ke sekeliling. Rumah bergaya mediterania ini sangat indah; bertingkat dua berkelir putih dan terletak persis di tepi Danau Chapala, San Juan, Meksiko. Pagar putih berjajar melindungi rumpun-rumpun mawar putih yang mekar sempurna. Pepohonan cemara yang ditanam memanjang di tepi luar halaman menambah keasrian.

Di halaman berumput yang dipangkas rapi, gadis mungil berbaju cinderella berwarna pink dengan tiara palsu di kepala tengah berlarian bersama teman-teman sebayanya. Sesekali bocah manis itu menjerit senang saat berhasil menangkap temannya. Dari atas panggung tempat si tua Javier mengadakan pertunjukan sulap dan pantomim aku mengamati ketika seorang perempuan berusia 30-an berdiri dari kursinya. Itu Ferra Santos, istri el Mata. Tangannya melambai ke arah Maria Luisa.

“Dulce Maria, berhenti dahulu. Saatnya memukul pinata, Sayang,” perempuan berbaju terusan berwarna merah cerah dan topi jerami lebar berseru lembut. Maria Luisa berhenti berlari dan mendekati ibunya.

“Sekarang, Mama?” mata bulatnya bertanya. Ferra mengangguk.

Ferra menatap ke arahku. Tangannya terangkat. Aku mengerti maksudnya. Kuturuni tangga pendek panggung menuju ibu dan anak itu.

Ferra berjongkok di depan Maria Luisa. “Minta Tuan Badut menemanimu memecahkan pinata, Sayang.”

Maria Luisa mengangguk. “Tuan Badut, boleh tolong aku?” Mata beningnya menatapku. Mata itu mengingatkanku pada mata Rosa. Aku mengerjapkan mata, mengusir kenangan pahit.

“Tentu saja, Manis,” balasku tersenyum. Kuserahkan tongkat kepadanya dan mengarahkannya menuju kantung berbentuk keledai kecil yang terbuat dari bubur kertas dan diisi aneka permen, cokelat dan mainan mungil.

“Sebelum memukul, tutup dulu matamu, Sayang,” Ferra berseru dari tempatnya duduk. Ferra yang cantik, istri sekaligus tangan kanan Juan Pablo. Jangan tertipu dengan wajah keibuan yang dimiliki Ferra. Sama seperti suaminya, Ferra adalah wanita kejam yang mampu berbuat apa saja, termasuk membunuh. Bersama Juan Pablo, Ferra membangun bisnis kotornya – penyelundupan obat bius dan kokain – yang dibungkus dengan kedok usaha real estate.

Aku teringat kembali ucapan Javier bulan lalu.

“Pikirkan kembali anakku, yang kau hadapi bukan orang sembarangan. Dia pemilik kartel narkoba nomor dua terbesar di negara ini. Kau bisa mati konyol!”

“Padre, aku sudah memikirkannya. Mereka sudah membunuh Rosa! Rosa dibunuh sebab dia ada di tempat yang salah di waktu yang salah. Dia tak sengaja mendengar percakapan mereka,” tegasku.

Javier menghela napas panjang. Kostum badut yang sedang dibersihkannya dia letakkan di dalam lemari. Javier menutup lemari dengan perlahan.

“Lalu apa rencanamu?”

Aku tercenung.

Keberuntungan kadang datang pada saat benar-benar diperlukan. Javier mendengar kalau seorang temannya dihubungi oleh keluarga Juan Pablo untuk mengadakan pertunjukan badut saat pesta ulang tahun Maria Luisa. Javier membayar temannya agar aku dan dia boleh ikut sebagai badut.

Teriakan riang Maria Luisa mengembalikanku dari masa lalu.

“Hore, aku berhasil!” teriaknya girang. Beberapa bocah lain berebutan meraup permen dan coklat yang berhamburan dari “perut keledai”. Aku membungkuk memberi tanda mohon diri. Bergegas aku kembali ke belakang panggung. Kuraba rongga pada sol tebal sepatu badutku, sepucuk baretta p-x 4 storm kaliber 9 dengan 17 peluru tersimpan aman. Tak akan ada yang mengira aku menyimpan senjata di situ. Tidak juga petugas kemanan yang menggeledah kami saat memasuki areal rumah.

Masih dengan pakaian badut aku menyelinap ke balik deretan cemara, terus menuju bagian belakang rumah yang nyaris tanpa penjagaan. Sejak tadi aku tak menemukan sosok Juan Pablo di antara para tamu, jadi kuperkirakan dia ada di dalam rumah. Tunggu dulu! Bagaimana jika dia memang tak datang?

“Papa!” suara kecil melengking mengagetkanku. Bergegas aku sembunyi di balik sebuah lemari besar. Langkah kaki Maria Luisa terdengar jelas memasuki sebuah ruangan di ujung lorong. Dari pintu yang tak ditutup celotehan Maria Luisa terdengar. Gadis kecil itu akhirnya keluar setelah memberi sebuah kecup jauh dan berpesan, “Cepat sembuh, Papa.”

“Jadi, kau di dalam Juan Pablo,” gumamku pelan. Kuraih baretta dari sol sepatuku, menambahkan peredam bunyi dan menggenggamnya erat. Aku berjingkat menuju ruangan di ujung lorong. Sial! Dari ujung berlawanan seorang penjaga berseragam berjalan ke arahku. Di pinggangnya terselip sebuah pistol. Aku mencoba bersikap wajar.

“Hei, mau apa kau di sini?” tegurnya curiga.

Kusodorkan kartu tamu yang kuambil dari kantung. “Aku mencari kamar kecil,” kataku pelan.

“Oh, kesana,” dia menunjuk sebuah arah. ” kamar mandi ada di…,” lelaki itu tertegun. Di tanganku kini ada baretta yang mengarah tepat ke dahinya.

“Jangan bergerak atau pistol ini akan meledakkan kepalamu,” ancamku dingin. Pria muda itu gemetaran. Kuambil pistolnya dan kusimpan di saku kiri.

“Buka tali pinggangmu.”

Dengan tali pinggang kuikat kedua tangannya ke belakang. Kugiring dia menuju ruangan kecil tempat menyimpan peralatan pembersih. Sebuah pukulan keras kudaratkan di tengkuknya. Pria itu jatuh menggelosor. Kututup pintu dan kembali menuju ruangan di ujung lorong.

Kepalaku mengintip. Ruangan tampak kosong. Aku melangkah hingga ke tengah ruangan. Dimana Juan Pablo?

“Mencariku?” sebuah suara serak mengagetkanku. Belum sempat aku menoleh ke arah datangnya suara, sebuah pukulan menghantam tangan kananku.

“Aaah…” senjataku terlepas dan terlempar ke kaki sofa. Juan Pablo sudah berdiri di sebelahku. Tangannya menggenggam pemukul kasti.

“Siapa kau?” hardiknya tajam. Aku bungkam. Nyeri di tangan belum hilang.

“Tak mau menjawab? Baiklah.” Juan Pablo menghantamkan pemukul itu ke tubuhku. Aku menjerit tertahan. Dua pukulan menghajarku.

“Mari kulihat siapa badut lancang yang berani mengusikku.” Tangan Juan Pablo terjulur ke arah wajahku. Kesempatan! Kulancarkan sebuah tendangan ke rusuknya. Sempat kulihat kain pembebat di balik baju longgarnya. Pasti dia tengah terluka karena sesuatu.

Juan Pablo mengerang dan jatuh telentang. Segera kuserang dia dengan tendangan. Kududuki tubuh besarnya dan menghadiahkan lelaki itu pukulan di wajah berkali-kali. Tangan pria itu menggapai-gapai menarik wig badutku. Dia berhasil merenggutnya. Rambut pirangku seketika mengurai.

“Kau… kau perempuan!” serunya kaget. “Kau… Elena!” Juan Pablo membelalak.

“Iya, ini aku, Elena,” kutarik alat pengubah suara yang kurekatkan di leher. “Kejutan,” kataku sinis.

Aku bangkit dari tubuhnya. Kakiku melangkah ke sudut sofa tempat pistolku tadi terlempar. Tanganku merogoh ke bawah, mencari-cari. Ujung jemariku menyentuh sesuatu. Logam. Dingin. Tapi bukan cuma jemariku yang merasa dingin, tengkukku juga.

“Hai, Elena.” Sebuah suara menyapa telingaku. “Berani sekali kau datang. Mengantarkan nyawa?”

Ferra!

“Tarik tanganmu perlahan-lahan. Jangan membuat gerakan mencurigakan. Kau tak mau aku kaget dan pistol ini meletus menghancurkan kepalamu, kan?” Ferra terkikik pelan. Entah apa yang lucu baginya.

“Jadi dia ini mantan kekasihmu, Juan? Mantan agen pemerintah itu?” Ferra melirik ke arah suaminya. Juan mencoba duduk dan tak memedulikan pertanyaan Ferra.

“Oh, reuni yang menyedihkan ya?” Ferra mencibir. Tangannya yang menggenggam pistol tetap lurus ke arah wajahku.

“Kalian pembunuh!” kurasakan gelegak emosi yang mendadak naik. “Kalian membunuh anakku!”

Ferra menatap suaminya. “Siapa yang dia maksud, Juan?”

Juan Pablo mengedik. Sekarang dia telah duduk di sofa sambil memegang rusuknya yang tampak merembes darah.

“Dengar Elena, “ perhatian Ferra kembali padaku,” kami membunuh banyak orang. Kami tak ingat siapa anakmu. Pasti dia berbahaya bagi kami jadi harus disingkirkan.”

Rasa benciku pada perempuan berhati dingin ini memuncak. “Demi Tuhan! Dia cuma anak perempuan dua belas tahun! Dia bahkan tak menyadari apa yang dia dengar waktu itu. Dia… dia…” Emosiku nyaris meledak. Susah payah kutahan tangis.

“Oh, gadis pirang dengan tahi lalat di atas bibirnya? Matanya indah sekali, heterochromia.”

Juan Pablo menegakkan punggungnya. “Heterochromia kau bilang, Ferra?”

Ferra melirik. “Iya. Kenapa kau tiba-tiba tertarik, Juan?”

Aku tertawa lirih. “Sebab dia sadar sekarang, itu anaknya.”

Ferra terbahak. “Astaga! Jadi dia putri harammu, Juan? Pantas saja kulihat kemiripan wajahnya denganmu. Tapi ya sudahlah, dia sudah mati,” Ferra berkata ringan. Aku geram.

“Kau wanita kejam!” aku meledak marah.

Wajah Ferra mengeras. Bibirnya meruncing. “Kau benar. Karena itulah aku dijuluki el Mata, si Pembunuh. Julukan itu buatku, bukan buat Juan.”

Aku meludah.

Ferra menggeram. “Cukup dengan basa-basinya. Sudah mengucap permintaan terakhir sebelum kukirim menemui anakmu?”

Tubuhku kaku. Menutup mata menyongsong maut. Tapi yang kudengar berikutnya bukan letusan pistol melainkan teriakan Juan Pablo yang menyerbu ke arah Ferra. Ferra mengelak, pistol meletus menembus langit-langit. Aku segera tiarap. Dari ujung sofa kulihat Juan Pablo membelalak sambil memegang rusuknya yang disikut Ferra.

“Juan…astaga.. apa yang kau lakukan? Kau membela mantan kekasihmu, hah?” Ferra mendelik marah. Buru-buru dia bangkit.

Juan Pablo tersengal. “Kau membunuh anakku, Ferra.”

Ferra mencibir. “Cengeng! Kau bisa buat anak lebih banyak. Apa susahnya?”

Ferra berbalik ke arahku, ” Saatnya mati, Elena.”

Ferra kalah cepat. Aku telah berdiri menggenggam pistol milik penjaga yang tadi kulumpuhkan. Pistol itu menyalak garang. Mengirimkan sebutir peluru yang meluncur cepat menembus kulit dahi Ferra, menghancurkan tulang tengkoraknya dan membuyarkan otaknya. Ferra terkapar. Darah menggenangi kepalanya.

“Tidak, Ferra. Sekarang waktumu,” kataku dingin.

Aku berjalan tertatih. Kubiarkan Juan Pablo yang masih bersandar di meja kopi memegangi rusuknya yang berdarah. “Aku pergi Juan. Urusanku sudah selesai.”

Kulangkahkan kaki keluar dari ruangan berdarah itu. Kubuka pakaian badut yang bebercak darah dan kusut masai. Di baliknya sudah kukenakan baju santai dan rok pendek. Kuhapus riasan badut di wajah dan merapikan rambut. Aku keluar dan berbaur bersama tamu-tamu, lalu menyelinap pergi.

1498 kata.
Venganza = Dendam.
Heterochromia = kelainan pada mata dimana masing-masing mata memiliki warna yang berbeda.

PESTA NULIS : ULANG TAHUN KAMAR FIKSI MEL ke 1

Iklan

25 thoughts on “[Cerita Pendek] Venganza

  1. ranny berkata:

    vote voteeeee
    gag usah dihilangin dah suasana yang panjang..saya suka setting cerita dan idenya *pemuja setting dan yang berbau spain (meksiko 11-12 ma spain)* hehehehhe
    kek salah satu adegan csi, yang kartel itu..

  2. eksak berkata:

    Gue suka aja settingnya! Mexicana! Gue kira bakal cerita ttg penyihir pas nyampe di pinata. Pinata kan latar belakangnya horor? Tp trnyata ttg kartel narkoba …

    Dpt ide dari berita ea, Rig? Hehe

  3. sulunglahitani berkata:

    seperti gabungan Machette Kills dan X-man, bang 😀
    cuma menurutku sih, waktu mau menembak si Ferra, ga perlu ngomong segala.
    kan mereka berdua berpacu dengan waktu siapa yang bisa membunuh duluan.
    kalau pakai konfirmasi segala, ntar keburu kebunuh. hihi

  4. istiadzah berkata:

    apa yg mau dikritik? aku lupa, bacanya udah dari tadi pas lagi pake hp. aku cuma mau ralat ini aja, penulisan dialog yg benar.

    Di ceritamu, entah di paragraf keempat, ada tulisan begini:
    “Dulce Maria, berhenti dahulu. Saatnya memukul pinata, Sayang.” Perempuan berbaju terusan berwarna merah cerah dan topi jerami lebar berseru lembut.

    Kalau bacanya sesuai dengan tulisan di atas, dialognya itu bukan si perempuan berbaju terusan blablabla, tp orang lain.

    “Dulce Maria, berhenti dahulu. Saatnya memukul pinata, Sayang,” perempuan berbaju terusan berwarna merah cerah dan topi jerami lebar berseru lembut.

    Nah, kalau seperti di atas, yg aku tulis, itu baru deh bener yg berkata itu si perempuan berbaju terusan blablahbla.

    Lihat bedanya? :))))

  5. Sigit Raharjo berkata:

    Dulce Maria…!! Kenapa kamu lakukan itu. Sungguh aku tak menyangka…

    Hehehehe…keren ga. Cuma agak kepanjangan aja sih. Mungkin ilustrasi-ilustrasi suasana bisa dipangkas.

    • riga berkata:

      thanks, mas… 🙂
      aku sih mikirnya gimana cara supaya pembaca percaya dan bisa ngebayangin suasana saat itu.Masih ada waktu sehari besok buat sunting. Aku liat lagi deh.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s