[Berani Cerita #33] Demi Burung

foto : weheartit.com

foto : weheartit.com

Darma melonjak kegirangan melihat Delia, ibunya membuka dompet dan menarik beberapa lembaran biru. Sejenak Darma tertegun menangkap sinar resah di mata ibunya, tapi perasaan itu seketika sirna ketika penjaga toko menyerahkan sangkar mungil dengan burung kenari cantik berwarna kuning dan hijau cerah berlompatan riang sambil berkicau riuh di dalamnya.

“Burungnya cantiiiikk,” serunya riang. Delia menggandeng tangan Darma keluar dari toko sambil berkata panjang lebar.

“Kalau kamu nggak ngancem mau nangis sambil guling-guling, ibu nggak bakal beliin burung mahal itu.”

Perhatian Darma tak sedikitpun tertuju pada ibunya. Dia masih asyik memandangi burung dalam sangkar.

“Karena burung ini harganya mahal, ibu akan mengurangi uang jajan kamu setiap hari, lalu…. lalu….”

Delia terus mengoceh sepanjang jalan hingga kemudian berhenti bicara saat tiba di pinggir jalan untuk menghentikan becak. Darma sudah sejak tadi tak memperhatikan.

***

“Darma, ayo sarapan!”

Darma bergegas keluar dari kamar sambil menggendong tas sekolahnya. Di meja makan dia tertegun. “Bu, kenapa nasi gorengku telur dadarnya cuma setengah?” protesnya.

“Kamu kan udah janji mau berhemat supaya bisa beli burung itu. Jadi jatah kamu mulai hari ini ibu kurangi. Sudah, makan saja.” Delia memutus percakapan. Darma bersungut-sungut.

Sesudah makan, Delia menyerahkan tiga lembar seribuan. “Buat jajan.”

“Kok cuma tiga ribu, Bu? Ongkos angkot aja udah dua ribu. Masak jajan cuma seribu?” Darma protes lagi.

“Katanya rela berhemat? Kan burung kamu itu mesti dibelikan makanan juga.” Delia mengangkat piring kotor ke dapur. Darma cemberut.

***

Sepulang sekolah Darma langsung berganti baju dan makan siang. Pukul dua nanti Andi teman sekolahnya akan datang mengajaknya bermain bola. Darma menunggu Andi di teras. Dari kejauhan Darma melihat Andi datang dengan sepedanya. Darma berdiri hendak menyongsong Andi, tapi suara ibu menghentikannya.

“Kamu udah nyari kroto buat burungmu, Darma?”

Darma terdiam sejenak. “Belum, Bu. Besok saja. Darma mau main bola sama Andi.”

Delia duduk di teras dengan keranjang berisi kain yang akan diseterika. “Sejak kemarin burungmu belum diberi makan, Darma. Kalau mati bagaimana?”

Wajah Darma memerah kesal. Dia sayang pada kenari peliharaanya, tapi dia sudah telanjur berjanji pada Andi.

“Bu…” Darma berkata takut-takut. Delia menoleh.

“Kalau ibu yang carikan krotonya gimana?” Darma menunduk.

“Lho, itu kan kenari kamu. Kamu yang harus mengurusnya. Lagian, saat membeli dulu kan udah janji sama ibu, akan memeliharanya dengan baik.” Delia mengingatkan.

Darma tercenung. Andi sudah tiba di teras. “Yuk, Darma. Teman-teman udah nungguin di lapangan.”

Darma menatap ibunya. Delia cuek. Darma menatap Andi. “Aku nggak jadi ikut. Mau cari kroto untuk burungku.”

Andi mendesah kecewa. “Tapi kamu kan udah janji.” Andi berbalik dan mengayuh sepedanya dengan cepat.
Darma menatap penuh penyesalan.

“Sayang…” Delia menegur.

“Ya, Bu..”

“Kamu sadar kan sekarang kalau memelihara hewan itu adalah sebuah tanggung jawab?”

Darma mengangguk.

“Kebersihannya, makanannya, pengobatannya, semua jadi tanggung jawab kita.”

Delia menarik tangan Darma mendekat. Bocah itu tak menolak. Delia membelai rambut anaknya. “Ibu yakin kamu udah mengerti. Ya sudah, biar makanan kenari ibu yang urus. Sekarang, susul Andi.”

Darma memeluk ibunya. “Makasih, Bu. Makasih.”

Delia tersenyum. “Sama-sama, Sayang.”

488 kata.

*ingin ikut Berani Cerita? Klik saja banner di atas 🙂

Iklan

46 thoughts on “[Berani Cerita #33] Demi Burung

  1. hana berkata:

    lurussss gitu ya bang aku juga ga bisa nulis begini jadi aku kok ga bisa nulis apa2 ya hihi
    ngomong sendiri 😦

  2. syifarah03 berkata:

    kapan hari ada anak kucing suka tidur di depan rumah. Anakku seneng banget, dia dikasi susu, diberi selimut untuk tidur, diberi makan. Eh, esok pagi dan pagi-pagi berikutnya, si pus pup di depan pintu rumah, baunyaaa. Hahaha, kapok deh anakku, ga mau lagi ada kucing liar di rumah.

  3. Teguh Puja berkata:

    Setelah memutuskan untuk memelihara sesuatu, banyak yang harus dilakukan ya mas. Gak bisa didiamkan begitu saja. Apalagi pelihara binatang. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s