[Cerita Pendek] Tunas Cinta yang Patah

foto : pmisputrimaura.blogspot.com

foto : pmisputrimaura.blogspot.com

Duet with Red Carra
BAGIAN PERTAMA KLIK DI SINI

REVAN

Ini bulan ke dua Arimbi bekerja di warung baksoku. Aku senang melihat kinerjanya. Arimbi adalah pekerja paling rajin yang pernah kulihat.

“Mbi, kalau capek istirahat dulu,” tegurku saat kulihat dia masih bergegas mondar-mandir dari dapur menuju bagian depan warung sambil membawa keranjang berisi piring dan mangkuk yang baru selesai dicuci.

“Alaah, gue udah biasa kerja beginian. Tenang aja, Bos!” dia mengibaskan tangan sambil memberi aku satu senyuman. Entahlah, hatiku selalu hangat setiap menyesap senyum di bibirnya. Tangan Arimbi cekatan mengeringkan piring dan mangkuk lalu menyusunnya di rak piring.

“Van, lo beruntung banget. Gue liat Arimbi ini kerjanya dua kali lipat dari Mbak Ning,” sela Bendi salah satu pegawaiku. Aku tersenyum geli.

“Emang siapa itu Mbak Ning?” tanpa menghentikan gerakan tangannya, Arimbi melontarkan pertanyaan.

“Mantan pekerja di sini juga, Mbi. Dengar-dengar sih Mbak Ning ini naksir sama Revan tapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Patah hati, dia mutusin pulang kampung dan kawin sama lelaki pilihan ayahnya. Dan lo tahu nggak Mbi?” Bendi mengerling jahil padaku. Aku memelototinya.

Arimbi tampaknya tertarik. Piring di tangannya dia letakkan. “Gimana, Ben?”

“Bendi! Awas kalo bilang yang nggak-nggak! Aku potong ntar gajimu!” Aku mendelik. Bendi melengos.

“Setelah Mbak Ning pulang, Revan sempat jadi pendiam selama seminggu! Kayaknya dia beneran suka sama Mbak Ning, tapi gengsi aja. Nggak mau sama yang lebih tua!” Bendi terbahak. Aku meraih sendal jepitku dan melemparkannya ke arah Bendi. Dia terlambat mengelak. Sendalku mengenai tulang keringnya. Bendi meringis. Gantian aku yang tertawa.

“Enak aja bilang aku suka sama Mbak Ning. Dia itu seusia mbakku, udah aku anggap kakak sendiri.”

Kulirik Arimbi. Gadis itu hanya tersenyum sekilas lalu meneruskan pekerjaannya. Aku memutuskan ke dapur, memeriksa pekerjaan Ifan dan Nino yang sedang membereskan sisa makanan.

Baru lima belas menit aku berada di dapur, sebuah teriakan tertahan terdengar. Arimbi! Bergegas aku dan kedua temanku menuju bagian depan warung.

“Van, liat nih preman-preman kampungan. Mereka pikir kita bakalan takut sama ancaman mereka terus ngasih duit apa?” Arimbi berkacak pinggang. Tiga pria bertato dan bertampang tak menyenangkan mendelik di depannya. Arimbi tak terlihat takut sama sekali.

“Ben..” Aku memanggil Bendi dan memberinya isyarat. Bendi segera paham, bergegas ke meja kasir dan mengambil beberapa lembar uang.

“Eh..eh, apa-apaan ini, Ben? Van? Lo ngasi duit gitu aja sama mereka?” Arimbi memelototiku. Aku mendesah. Sekarang bukan saat yang tepat untuk menjelaskan.

“Bang, duitnya udah kan? Sekarang kalian pergi ya?”

Tiga lelaki bertato segera keluar dari warung dan menghilang di ujung gang. Aku menghela napas lega. Tapi Arimbi masih emosi.

“Kenapa lo lemah gitu sih, Van? Nggak ada perlawanannya sedikit pun! Jangan mau diperas gitu, Van! Lapor polisi kek! Lawan kek!”

Aku mengempaskan napas kesal.

“Kamu belum pernah berbisnis kan, Mbi? Yang aku lakukan barusan buat kelangsungan usaha ini. Kita mesti adaptasi sama keadaan.” Arimbi tampaknya tak puas dengan pembelaanku.

“Lo tahu gue gimana, Van? Gue juga selalu berusaha adaptasi dengan hidup gue. Bokap gue kabur entah kemana, nyokap sakit-sakitan sambil jualan, adik gue ada tiga. Dan gue berusaha buat ngadepin itu semua. Gue beradaptasi. Belajar keras, nyari beasiswa, jualan apa aja sampe jadi kernet! Itu karena gue nggak mau nyerah pasrah. Iya, gue belum pernah berbisnis kayak gini. Tapi kalaupun gue bikin usaha, gue nggak mau hasil keringat gue diambil gitu aja sama orang-orang brengsek kayak tadi!”

Aku terdiam mendengar omelan Arimbi.

“Ah, udahlah! Ini warung lo. Lo yang ngejalanin. Gue cuma kerja di sini. Kerja dapat duit. Selesai.”

Aku masih terdiam.

“Sudahlah! Gue pulang aja!” Arimbi membanting kain lap ke meja dan bergegas pergi. Aku terkesiap. Sekarang sudah hampir pukul sebelas malam. Biasanya aku yang mengantar Arimbi pulang ke kosannya setelah warung ditutup.

“Mbi, aku antarin Mbi. Jangan pulang sendirian.” Aku bergegas menyusul langkahnya. Tapi tatapan dingin yang diberikan Arimbi menghentikan kakiku.

“Gue bisa sendiri.”

Kalimat itu demikian singkat. Ketus. Tak bisa diganggu. Kakiku terpaku menyaksikan dia pergi begitu saja melewati ambang pintu.

“Van, mending lo susul dia deh,” Ifan memberi saran. Bendi mengangguk-angguk mendukung.

“Tapi Van, lo udah ngerti kayaknya gimana sifat Arimbi. Kalo dia bilang nggak mau, ya artinya nggak mau,” Nino memberi pendapat.

“Ya udah, lo sms dulu deh. Barangkali abis jalan kaki kena angin malam bikin kepala Arimbi mendingin.” Akhirnya Bendi memberi saran yang bisa kuterima. Kuraih ponsel dan mengetikkan sebaris pesan.

Sepuluh menit berlalu tanpa ada balasan pesan dari Arimbi. Beberapa kali kucoba menelpon Arimbi, tapi tak diangkat. Pada usaha keempat, ponselnya mati.

“Aku nyusul Arimbi deh. Perasaanku nggak enak. Fan, Nino temenin aku ya. Bendi jaga di sini dulu.” Aku memberi perintah. Dalam semenit kami sudah menyusuri jalan menuju rumah Arimbi dengan dua sepeda motor. Pada setiap warung di pinggir jalan kami bertanya. Pada warung ke empat seorang penjaga warung memberitahu kalau dia melihat seorang gadis didekati empat orang pemuda di dekat sebuah gedung pemerintahan. Sebentar kemudian mereka semua tak terlihat lagi.

Benakku bergemuruh. Bergegas kuajak Nino dan Ifan mencari di sekitar gedung yang ditunjuk pemilik warung. Berkali-kali kami berteriak memanggil nama Arimbi. Sampai pada panggilan yang entah ke berapa kali, sebuah jeritan menyentakkan pendengaran.

“Revan! Toloong!”

Sedetik kemudian kami sudah berlari menuju arah suara. Ada suara gemerisik dan langkah kaki berlari ketika kami sampai. Beberapa orang telah melarikan diri ke belakang gedung. Di atas tanah kulihat Arimbi berusaha duduk. Sebagian bajunya robek dan kancing celana panjangnya terbuka. Arimbi menangis tersedu.

Malam itu kuputuskan menemani Arimbi di kosannya. Dia masih belum bisa menyingkirkan kejadian buruk tadi dari benaknya. Aku masih setia mendengarkan kesahnya. Nino sudah tidur di sofa ruang tamu sejak tadi.

“Tingkah gue kayak laki-laki ya, Van?” Arimbi menatapku dalam-dalam.

“Maksudnya?”

Arimbi memperbaiki posisi duduknya. “Yah, seperti tadi. Ngelawan preman, ngotot pulang sendirian padahal udah tengah malam. Semacam itu lah.”

Aku menggaruk-garuk kepalaku.

“Gue kayak gini udah terbentuk sejak dulu, Van. Di rumah gue harus berperan sebagai kepala keluarga. Gue harus bisa ngelakuin apa aja. Jadinya ya kayak gini.” Arimbi mengedik. Wajahnya terlihat lebih santai sekarang.

“Oh.” Kebiasaanku kumat lagi.

“Tapi herannya dengan tingkah seperti ini, masih ada lelaki yang mau jadi pacar gue.” Arimbi tertawa miris. “Tapi ya gobloknya gue emang kadang kelewatan. Laki-laki baik dan perhatian kayak Danang gue putusin cuma gara-gara gue males dikekang. Sebenarnya masih sayang sih, tapi ya udah lah. Palingan juga dia udah dapat cewek baru. Yang lebih cantik, lebih anggun. Lebih mirip cewek lah.”

“Oh.” Sial. Kenapa aku jadi nggak mampu ngomong kayak gini ya?

“Van, badan gue masih sakit. Gue izin tiga hari ya?”

Aku mengangguk. “Boleh, Mbi. Kamu kerjanya kalau udah sehat aja.”

“Thanks, Van. Ya dah, gue tidur dulu ya.” Arimbi beranjak ke dalam kamarnya setelah sebelumnya memberiku sebuah senyuman manis. Hatiku menghangat lagi.

***

Hari ini hatiku sedang buncah. Aku akan mengadakan penyambutan kecil untuk Arimbi. Seluruh bagian warung sudah dibersihkan. Selembar kain bertuliskan ‘Selamat Datang Arimbi’ sudah dipasang di dinding belakang. Tart istimewa juga sudah siap. Kami akan sedikit berpesta sebelum mulai bekerja.

Kuraih ponsel dan menekan nomor Arimbi. “Mbi, kamu jadi masuk hari ini, kan?”

“Jadi, Van. Ini gue udah ada di ujung jalan. Gue…”

Tubuhku gemetar kesenangan. Sambil menutup speaker ponsel, aku berteriak memberi perintah pada teman-teman untuk segera bersiap.

“Ben, kuenya udah disiapin kan? Ifan, liat tuh kainnya miring dikit. Nino mana Nino?”

Tak kusadari di ujung saluran Arimbi masih berbicara. Ketika aku kembali berbicara di telepon, suara di seberang telah lenyap. Ah tak mengapa. Toh sebentar lagi dia sampai.

“Hai, semua!”

“Mbi!”

Dadaku berdebar kencang. Gadis itu tampak manis dengan kemeja putih, jeans, dan jaket. Pakaian kebesarannya. Tapi ada sesuatu yang beda. Rambut sebahu Arimbi tergerai dan tersisir rapi, tidak seperti biasanya yang dikuncir kuda. Bahkan ada jepit cantik menyelisip di antara rambut hitam berkilau itu. Tubuhnya pun wangi, tak seperti biasanya yang selalu berbau matahari.

“Eh, apa tuh?” Arimbi menunjuk kain di dinding.

Ifan sigap membuka ikatan di kain. “Taraaaa.”

Arimbi terbeliak.“Apa ini, Van? Lo bikin beginian buat menyambut gue? Gue merasa kayak pejabat!”

Arimbi tertawa. Tapi kali ini dia tertawa sambil menutup mulutnya. Arimbi benar-benar berbeda. Mendadak hatiku dipenuhi kegugupan.

“Mbi, duduk bentar yuk.” Aku mengambilkan sebuah kursi untuknya. Kulirik tiga lelaki di ruangan itu. Mereka segera tanggap dan berlalu ke dapur.

“Mbi…“Aku mencoba berdeham melonggarkan tenggorokan.

“Hmmm?”

Aku salah tingkah. Aduh! Harus aku nyatakan sekarang! Harus!

“Sebenarnya gue itu…ehm…gue itu sama lo…”

“Mbi!”

Aku dan Arimbi sontak menoleh. Seorang lelaki tampan dan gagah sudah berdiri di depan pintu warung.

“Duh, kamu itu ya, sudah aku bilangin nungguin bentaaar aja, eh malah ngilang. Nambal ban kan cuma lima belas menit. Nggak sabaran amat siiih?”

Lelaki itu mendekat dan menyalami Revan. Sebelumnya dengan mesra dia mengecup pipi Arimbi. Aku terpaku. Lidahku kelu.

“Van, ini Danang. Nang, ini Revan. Revan yang nolongin gue pas kejadian itu. You know, Van. Kita udah balikan loh.”

Danang mengulurkan tangan. Kusambut tangan kokoh itu dengan enggan.

“Makasih, udah nolongin Arimbi, Van.” Danang tersenyum tulus.

Aku tergagap. “Iya, syukur kami tiba tepat waktu. Eh, bentar. Aku ke dapur dulu. Kita mau bikin perayaan kecil-kecilan untuk menyambut Arimbi.”

Aku bergegas bangkit menuju dapur. Hatiku perih.

“Tartnya dikeluarin sekarang?” tanya Bendi yang belum mengerti situasi.

“Nggak jadi. Fan, siapin enam mangkok bakso. Kita kedatangan tamu,” perintahku.

“Tamu?” dahi Bendi mengerut. Dari balik tirai pintu dapur dia mengintip.

“Lho, Van, itu si Arimbi sama siapa kok mesra amat?”

Pandangan mata Bendi bertemu mataku. Tanpa perlu kujawab, Bendi telah mengerti.

“Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Nino dan Ifan segera paham.

Aku kembali menemui Arimbi dan pacarnya ditemani Nino yang membawa satu nampan berisi enam mangkok bakso, Ifan yang membawa enam botol minuman beraroma teh, dan Bendi yang membawa botol-botol saos serta sambal.

“Khusus buat kesempatan ini, Bendi bikin daging baksonya lebih besar dari bola tenis!” kataku mencoba memeriahkan suasana. Tiga temanku tertawa dengan sopan. Syukurlah mereka sangat membantu menyamarkan keadaan. Arimbi tampaknya tak menyadari perubahan air mukaku tadi.

Pesta kecil ini berlangsung hangat. Kami berenam saling bercerita, melontarkan lelucon, sesekali saling mengolok. Tertawa bersama seakan kami semua adalah teman lama yang bertahun-tahun tak bertemu.

Kupandangi wajah cantik Arimbi yang tak hentinya tertawa mendengar lelucon demi lelucon. Akupun berusaha untuk tertawa dan terlihat gembira. Saat ini cinta memang telah patah, tapi ada saatnya cinta yang patah itu akan menumbuhkan tunas-tunas cinta yang baru. Aku percaya itu.

Iklan

14 thoughts on “[Cerita Pendek] Tunas Cinta yang Patah

  1. dickoandika berkata:

    Aku sukaaa ceritanya, tapi… (lagi-lagi, always) kok karakter Revan agak berubah dari cerita pertama ya, berubah dikit menurutku. Kayaknya di cerita pertama dia cowok cool, di cerita ini jadi agak gak cool.. halahh..

    Satu lagi, endingnya kayak dipaksain, maaf :D. dialog2 terakhirnya juga biasa banget bang….

    Kalo ceritanya sih aku suka 🙂

    • riga berkata:

      banyak sisi dari seorang tokoh kok.. di awal Revan kan baru ketemu dengan Arimbi, masih malu-malu sebab dia memang kurang gaul dengan cewek. Seiring waktu mereka jadi lebih akrab, jadi lebih ‘cair’.

      Tentang ending, kami berdua sepakat nggak happy ending. Biar jadi kejutan. Maaf, kalo hasilnya malah sebaliknya buat Dika. 🙂

  2. ajenn08 berkata:

    Aku harus bilang *gayaAnang* kalau cerpen ini bagus usul dipanangin jadi novel aja karena untuk cerpen terlalu luas Mbak Cara sama Mas Arga mengeksp tokoh2 nya.. So coba bkn novel duett 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s