[Berani Cerita #30] Pertemuan Senja Itu

peron

Lengking peluit kereta api memecah keheningan senja. Sejenak tadi azan maghrib berkumandang memenuhi udara seisi stasiun besar kota Medan. Seorang lelaki setengah baya duduk di bangku peron sambil mengamati sekeliling. Aku memerhatikan dari bangku panjang di sebelahnya sambil pura-pura membereskan peralatan semir.

Lelaki itu ternyata menyadari keberadaanku. Dia menoleh dan menatapku lama sekali.

“Semir, Pak?” Aku nyengir salah tingkah.

Lelaki itu melambai. “Kemari.”

Aku menurut. Sekarang kami duduk bersebelahan.

“Siapa namamu?” tanyanya ramah.

“Leo, Pak.”

“Umur?” Suaranya hangat, kebapakan. Aku merasa nyaman.

Aku mengedikkan bahu. “Dua belas, mungkin”

“Keluargamu?”

“Kata orang lima tahun lalu aku nyaris tertabrak kereta api. Saat terjatuh, kepalaku kena batu. Jadi lupa semuanya.” Kusibakkan poni yang menutupi dahi, memperlihatkan bekas luka di sana. Lelaki itu tampak terkejut. Aku hanya tersenyum.

“Bapak namanya siapa?” Kuberanikan diri bertanya.

“Martin Simbolon. Panggil saja Pak Martin.”

“Ooo..”

“Istriku meninggal di sini.”

Aku tersentak kaget. “Astaga!”

Pak Martin mengangguk. “Diserempet kereta api. Aku kesini setiap hari kematiannya”

Aku tak mengenal siapa istri Pak Martin. Tapi aku merasa berduka atas kehilangan tragisnya. Aku tak mampu sekedar mengucap kata-kata turut berduka. Aku diam menekuri lantai.

Pak Martin juga terdiam. Tangannya merogoh saku lalu menarik selembar foto. Lalu menatapku. Lalu foto itu. Sekilas kulihat sebuah senyuman terukir di bibirnya. Senyum kepuasan?

“Aku dan istri pertama kali bertemu di tempat ini. Kami pacaran, lalu menikah. Aku kagum pada semangat dan jiwa sosialnya. Dia bekerja sebagai relawan. Dia sangat menyayangi anak-anak. Terutama karena kami tak bisa memiliki anak.”

Mata Pak Martin berkaca. Dia menengadah, mencegah butiran bening tumpah.

“Lalu suatu hari dia bilang kalau dia bertemu seorang anak yatim piatu yang membuatnya jatuh sayang di sebuah panti asuhan di Langkat. Dia ingin mengangkatnya sebagai anak. Aku setuju.” Pak Martin mengusap airmatanya.

Aku hanya diam mendengarkan.

“Karena kesibukan, aku tak bisa datang ke Langkat. Aku berjanji menjemput mereka di sini. Tapi yang kutemui hanya jasad istriku. Kondisinya…..” Suara Pak Martin tercekat. Dia berusaha menenangkan diri.

Aku tak tahu harus berbuat apa.

“Saksi mata bilang istriku terserempet kereta saat mengejar anak kecil itu yang tiba-tiba berlari ke tengah rel. Dia berhasil mendorong anak itu menjauh tapi tak sempat menyelamatkan diri sendiri. Anak itu hilang entah ke mana. Hingga akhirnya aku menemukannya hari ini.” Pak Martin menatapku lekat.

“Maksudnya?”

“Ya, kaulah anak yang dibawa istriku dulu. Di dahimu ada tanda lahir. Sama seperti yang di foto ini.”

Tangan Pak Martin terjulur. Dalam foto kulihat seorang bocah kecil dalam pangkuan seorang wanita cantik. Aku terhenyak. Itu aku!

“Maafkan saya…maafkan.” Tiba-tiba aku merasa sangat bersalah. Pak Martin hanya tersenyum.

“Aku ikhlas. Yang penting sekarang kita udah ketemu. Kau mau ikut aku?”

Setelah berpikir sejenak akhirnya aku mengangguk. “Aku mau, Pak.”

Pak Martin merangkulku. “Aku sangat senang, Nak. Kau tunggu di sini. Aku mau ke toilet sebentar.”

*****

“Halo? Martin di sini. Sampaikan pada Bos Besar, anaknya sudah ketemu. Info dari orang kita ternyata akurat! Sebentar lagi kita jadi orang kaya!”

Aku berjingkat perlahan dari depan pintu kamar mandi. Firasatku mengatakan hal buruk akan segera terjadi. Aku harus segera pergi dari sini.

496 kata

http://

Iklan

28 thoughts on “[Berani Cerita #30] Pertemuan Senja Itu

    • riga berkata:

      yup, sesusah masa ‘penilaian’ dari admin, cerita ini mau aku kembangkan lagi. 🙂

      Eh, tentang kesalahan “belum kenal tapi udah tahu nama” udah aku edit kemarin-kemarin tuuuh… :p

  1. rinibee berkata:

    Bagian awal kaya sinetron, dan endingnya bikin kepala berkerut. Kakak Riga… Aku nggak mudeng.. Baru mudeng setelah baca komen… 😆

    😀

    Pikiran jelek saya si anak malah mau dibunuh karena dia target operasi ilegal. Anak yang diculik dan diambil organ tubuhnya itu.. Bwahahaha.. 😆 :mrgreen:

    • riga berkata:

      thanks Rini…

      Sepertinya terlalu kompleks yah? Banyak kisah yang mau dijejalkan dalam satu FF. Pencarian anak hilang, ambisi pribadi, konflik rumah tangga.

      Mestinya fokus sama 1 hal aja. Tapi ide kamu boleh juga nih.. 😉

  2. sulunglahitani berkata:

    Mungkin plintiran di akhirnya itu yang kurang tajem, bang.
    Saya juga agak bingung di akhir cerita.

    Satu lagi, ini pakai POV orang pertama pelaku utama, kan?
    Yang lucu di bagian ini:
    “Kata orang lima tahun lalu aku nyaris tertabrak kereta api. Saat terjatuh, kepalaku kena batu. Jadi lupa semuanya.” Kusibakkan poni yang menutupi dahi, memperlihatkan bekas luka di sana. Pak Martin tampak terkejut. Aku hanya tersenyum.

    “Bapak namanya siapa?” Kuberanikan diri bertanya.

    “Martin Simbolon. Panggil saja Pak Martin.”

    Lha, sebelum dikasih tahu namanya Pak Martin, si aku sudah tau nama si bapak yang di awal cerita cuma disebut “lelaki setengah baya” 🙂

    • riga berkata:

      kan si Leo emang anaknya bos besar yqng diceritakan hilang. Bos tentu punya foto. Yang belum terungkap adalah kenapa si Leo bisa terpisah. Mungkin di sekuel nya nanti. *php :p

      • herma1206 berkata:

        oowh..anaknya bos besar..
        waduh….maaf rada tulalit nih sekali ini, trus jadi Martin itu tujuannya apa? bos besar emang lagi nyari2 leo anaknya? aduh..punten pisan mas..nanyanya tulalit 😀

        • riga berkata:

          hehe, ceritanya memang belum lengkap, Herma. Masih bisa dikembangkan.
          Nah, jadi yang ada dalam benakku seperti ini :

          Lima thn lalu istri Bos Besar lari dari suaminya dgn membawa Leo. Penyebabnya karena tak tahan dgn ‘usaha kotor’ suaminya. Bisa jd Bos Besar ini adalah preman atau semacamnya.

          Si ibu tewas, anaknya amnesia karena kecelakaan. Lupakan cerita Martin, dia cuma memanfaatkan dan mengarang cerita.

          Bos Besar dalam kondisi ‘terdesak’. Dia perlu penerus. Anak dari istrinya yg lain tak ada yg laki2. Jadi, dia mencari anaknya. Dulu dicari atau tidak? Aku jawab : enggak.
          Dia punya istri lain. Tapi ternyata ga ada yg melahirkan putra, makanya Leo dicari lagi.

          Kira-kira gitu deh ‘rencana ceritaku’ secara utuh, Herma.

          Masih punya pertanyaan? Silakan. 🙂

    • riga berkata:

      Pertanyaannya sama kayak Mas Jampang. Jadi jawabannya juga sama yaaaa… 🙂

      *mungkin dibuatkan sekuelnya.
      *halah…macam sempat aja.
      hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s