[Flashfiction] How I Met Your Father

foto : littleflocks.wordpress.com

foto : littleflocks.wordpress.com

Sore ini begitu damai. Sepoi angin membelai tubuh yang sedang melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Tapi teras rumah Dokter Kania justru ramai oleh celoteh dua remaja putri yang sedang berbincang seru dengan sang bunda.

“Serius, Ma?” Kinan, putri pertama Kania membelalakkan mata. Kinar adiknya menatap takjub.

Kania mengangguk mantap. “Ularnya besaaar. Tapi Mama nggak takut. Mama ambil kayu lalu Mama lempar. Syukurlah dia pergi.”

Decak kagum memenuhi udara. “Mama pemberani banget.” Kinar geleng-geleng kepala.

“Namanya juga desa terpencil ya, Ma,” sahut Kinan. Kania tersenyum.

“Tapi itu belum seberapa. Ada pengalaman lain yang lebih ‘seru’.” Kania memberi tanda petik di udara sambil mengerling. Kedua putrinya penasaran.

Kania mendekatkan wajahnya pada Kinar dan Kinan lalu berbisik. ““Tentang cowok.”

Dua putri cantiknya langsung histeris. “Ayo, Ma, cerita!”

****

Kania menyalakan mobilnya untuk kesekian kali. Satu ban belakang yang terperosok ke dalam kubangan lumpur hanya berputar di tempat. Kania mendesah kesal. Diangkatnya telepon.

“Pokoknya cepetan suruh orang kemari buat bantuin! Obat-obatannya harus segera sampai. Mobilnya kejebak lumpur!” Kania mengomel pada seseorang di ujung telepon. Di bantingnya telepon ke jok dan menunggu. Huh, seharusnya tadi aku ngotot minta ditemani!

Satu jam kemudian sebuah sepeda motor datang. Seorang pemuda dan lelaki setengah baya.

“Kania kan?” tanya si pemuda yang duduk di depan.

Kania mengangguk. “Kamu siapa?”

“Bondan. Ini Pak Juma”

Tanpa menjelaskan lebih lanjut pemuda itu memberi isyarat agar Kania menyingkir dari kursi pengemudi. Dih, gayanya sok banget sih! Meski mengkal, Kania menurut dan menanti di samping mobil.

Bondan meminta lelaki tua itu duduk di belakang setir. Pak Juma sigap melompat. “Dorong saat kuberi aba-aba ya.”

Bondan berdiri di belakang mobil dan bersiap mendorong. “Hei!” serunya melihat Kania masih di tempatnya semula.

“Apa?” tanya Kania tak mengerti.

Bondan berkacak pinggang. “Kemari! Bantu aku mendorong mobil!”

“Nggak, nggak! Masak perempuan ikut dorong?” Kania cemberut.

“Kamu mau terjebak di sini lebih lama?”

“Pokoknya aku nggak mau dorong mobil. Kalau nggak bisa bantuin, ya udah. Aku panggil temanku yang lain.”
Kania menghentakkan kaki dan mengambil ponsel yang tadi dia lempar ke jok belakang. Wajah cantiknya cemberut ketika menyadari baterai ponsel sudah habis. Aduh!

“Ayo kemari!” Bondan memanggil lagi. Kania terpaksa menurut. Diletakkannya kedua telapak tangan di belakang mobil. Pak Juma memberi aba-aba.

“Aaaww…”

Cipratan lumpur memenuhi jubah putih Kania. Menutupi sebagian rambut. Membuat wajah putihnya belepotan.

“Hahahahaha.” Bondan tergelak. Kania melotot. Melalui spion dilihatnya Pak Juma tersenyum geli. Hatinya mendongkol.

“Dasar cewek manja,” goda Bondan. Kania merengut. Manja? Enak aja!

Pada usaha keenam akhirnya ban mobil terbebas dari kubangan lumpur. Kania mengucapkan terimakasih pada Pak Juma. Dengan enggan disalaminya Bondan.

“Nggak bilang makasih sama aku?” goda Bondan.

Ugh!

“Iya, makasih ya.” Kania bergegas masuk ke mobil. Di tekannya pedal gas kuat-kuat. Asap hitam menyembur. Bondan yang masih berdiri di belakang mobil terbatuk.

Rasain!

***

“Hahaha, Mama keren deh!” Kinar tertawa keras. Dua jempolnya teracung.

“Ngomong-ngomong cowok itu cakep nggak Ma?” tanya Kinan sambil tersenyum malu.

Kania menowel hidung bangir putrinya. “Cakep dong! Makanya putri-putri Mama jadi ikutan cakep begini.”

“Ha? Jadi?” teriak Kinan dan Kinar berbarengan.

Kania mengedip jenaka.

500 kata.

Iklan

44 thoughts on “[Flashfiction] How I Met Your Father

  1. Ryan berkata:

    kayaknya baru kali ini baca tulisan bang riga kayak gini… 😀
    penggemar HIMYM juga yak… sayang itu serial endingnya dipaksakan… *comment oot*

    • Attar Arya berkata:

      yang komedi kayak gini ya? ngg, kayaknya pernah juga nulis ‘komedi’, tapi lupa yang mana. Nah, soal HIMYM, aku belum liat episode akhirnya. Kok banyak yang bilang kurang ‘sreg’ yah? *ikutan oot. 😀

  2. Helda berkata:

    Seneng bacanya apalagi pas anak2nya kaget ternyata yg lagi diceritain itu papa mereka, ngebayangin kompaknya mama dan anak, sweet 🙂

    • riga berkata:

      bagus juga gitu. jangan kayak aku, nggak tahu cerita ortu pas muda dulu. sekarang udah nggak bisa tanya-tanya lagi, dua’duanya udah meninggal. *lah, malah curhat. 🙂

  3. sulunglahitani berkata:

    suka ceritanya yang manis, bang.
    tapi kok semacam ada karakter yang berbanding terbalik, ya?
    diceritakan kalau Kania itu dokter, mau nolong orang dengan bawa obat-obata, bisa bawa mobil sendiri. berarti kesan yang saya tangkap dia orangnya mandiri dong, ya?
    tapi di bagian lain dari cara berlaku, keliatan manja. menghentakkan kaki, ga mau ndorong mobil.
    sebenarnya kalau kemanjaannya itu dia lakukan untuk mencari perhatian Bondan sih, masih berterima. tapi ga dijelaskan seperti itu.
    mungkin itu aja, bang. hehe

    • riga berkata:

      waktu nulisnya, yang kepikiran kayak gini. Kania sedang kesal sebab mobilnya mogok lalu kelamaan menunggu bantuan. eh, saat bantuan datang, orangnya nyebelin pula. jadinya dia males. hehe. | Jatah kata udah mepet neh. Tapi nanti abang usahakan edit dengan penegasan alasan kenapa Kania menolak ikut mendorong mobil. Thanks, Lung. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s