[Berani Cerita #28] Maaf Untuk Bunda

memaafkan bunda
“Bagaimana Abangmu sekarang?” Bunda melepas pandangan dari jalanan.

“Baik saja. Tak apa-apa,” kubilang. Aku menarik nafas, sambil terus melaju di jalan tol. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku nanti?

Mata Bunda membasah. “Bunda kangen abangmu.” Lirih bisikannya menghantar haru ke dadaku. Kulirik Bunda di sebelah kiri. Tangan keriputnya meraba-raba tas dan menarik sapu tangan. Bunda membuka kaca mata hitamnya dan mengeringkan sudut-sudut mata.

“Apa abangmu sudah memaafkan Bunda?” Batinku tercekat. Abang bahkan belum tahu kalau aku datang bersama Bunda.

“Kuharap sudah, Bun.” Pandanganku lurus menekuri jalanan. Aku tak berani menatap mata Bunda. Benakku mengulang-ulang kalimat Abang saat kami berbincang di telepon.

“Entah kapan aku bisa memaafkan Bunda.”

Ah, kuharap tindakanku ini benar. Aku tak ingin mereka bermusuhan lebih lama.

Sepuluh menit kemudian mobil pinjaman yang kukendarai telah keluar dari jalan tol dan memasuki jalan kecil sebuah perkampungan. Mobil kulajukan perlahan hingga berhenti di depan sebuah rumah dengan sebatang pohon mangga kecil di sampingnya.

“Kita sampai, Bun.”

Kubuka pintu mobil dan membimbing langkahnya menuju teras. Bunda duduk di sebuah kursi dan mengenakan kacamata hitamnya. Kutekan bel dan sesosok jangkung membuka pintu.

“Zian! Kok bisa sampai ke mari?” Abang merangkulku. Wajahnya terkejut sekaligus tampak senang. “Kau datang sama si…..”

Abang tak menyelesaikan pertanyaannya. Pandangannya kaku tertuju pada Bunda.

“Bunda mau apa datang ke mari?” Suara ramah Abang berubah ketus dan getas. “Mau melihat kehancuranku ya?”

Bunda tercekat. Terbata bibirnya berucap. “Ma..maafkan Bunda, Abang. Bunda lakukan semua itu untuk kebaikan Abang.”

Abang mendengus. “Baik apanya? Karena Bunda menggagalkan pernikahanku dengan Ratna, hidupku berantakan. Ayah Ratna membatalkan niatnya memodali usahaku bahkan menagih semua utangku. Ratna memutuskan nggak mau kenal lagi denganku. Aku bangkrut.”

Susah payah Bunda menahan isaknya. “Maafkan Bunda, Abang. Maafkan.”

“Aku nggak habis pikir, kok bisa ya Bunda bikin rencana seperti itu? Menyewa perempuan lain untuk berpura-pura jadi pacarku yang sedang hamil. Merekayasa foto. Hebat!” Ada nada sarkasme dalam kalimat Abang.

Aku tak tega melihat Abang memojokkan Bunda. Bergegas kuhampiri Bunda, memegang bahunya. “Bang, yang dilakukan Bunda demi kebaikan Abang. Abang tahu kalau sekarang ayah Ratna ditahan polisi? “

Abang menggeleng. Wajah kerasnya mengendur. “Kok ditahan?”

“Kekayaannya itu hasil menipu. Juga korupsi. Sekarang semua hartanya disita. Polisi juga sudah mulai menyelidiki kepada siapa saja uang haram itu mengalir. Abang tahu kan artinya?”

Abang tercenung. Aku melanjutkan pembelaanku. “Dan aku yakin, Abang sebenarnya nggak cinta sama Ratna. Ya kan?”

“Aku…aku…” Abang terbata. Kalimatku mengunci bibirnya. Ya, aku tahu hal itu Bang.

“Jadi, dalam hal ini Abang mesti berterimakasih sama Bunda. Oh ya, juga minta maaf karena sudah memutuskan hubungan selama setahun ini.”

Bibir Abang bergetar, matanya membasah. “Bunda, ternyata Abang yang salah. Maafin Abang.”

Bunda merekahkan senyum. “Abang udah Bunda maafkan sejak dulu.” Tangan Bunda terjulur ke samping, menyenggol vas bunga hingga jatuh.

“Oh, Bunda nggak sengaja. Maaf.”

“Bunda! Mata Bunda kenapa?”

Bunda hanya menggeleng sambil tersenyum. “Mata tua.”

Bibirku mengucap tanpa suara. “Rabun.” Abang mengangguk maklum. Diraihnya tangan Bunda, diciumnya penuh sayang.

“Maafin Abang, Bunda.”

Bunda mengangguk sambil tersenyum. Sebutir air mata jatuh di pipinya.

Iklan

24 thoughts on “[Berani Cerita #28] Maaf Untuk Bunda

  1. syifarah03 berkata:

    Nasehat orang tua yang seringkali tidak didengar anaknya, ntar kalo udah kejadian, baru deh si anak menyesal kenapa dia tidak mendengarkannya, biasanya sih gitu ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s