[Flashfiction] Malam Pertama Untuk Selamanya

kerudung-malam1

sumber

Iring-iringan pengantar telah sampai di tempat yang dituju. Lelaki dan perempuan. Tua dan muda. Beberapa dari mereka adalah anggota keluargaku. Beberapa lagi kerabat atau kenalan. Dan beberapa lagi adalah orang yang tak kukenal. Sungguh baik sekali mereka mau beramai-ramai berjalan di sampingku yang ditandu. Mirip seperti ketika aku menikah dulu. Iring-iringan yang panjang diselingi dengan sejumlah ibu-ibu yang menaburkan kelopak bunga. Pakaian indah berwarna warni. Rentak rebana menambah meriah suasana. Kemeriahan yang pernah kukenang sedemikian lama. Tapi kini semua tak sama lagi. Tak ada pakaian indah. Tak ada suara rebana. Bahkan bukan bunga yang kali ini mereka siramkan ke tubuhku. Ah, tak mengapa. Aku tak perlu lagi semua itu.

Rombongan pengantar satu-persatu mulai meninggalkanku. Mata sebagian dari mereka memerah. Ada yang masih mengisak tangis. Seperti dulu, ibu bahkan tak bisa berhenti menangis melihat aku bersanding. Tentu saja itu tangisan bahagia. Sayang, sekarang beliau tak ada untuk sekedar meneteskan satu atau dua air mata. Kini suasana sunyi. Hanya ada satu dua sanak saudara yang bertahan menemani. Anak kesayanganku malah sudah pulang lebih dahulu. Anakku sakit, begitu tadi katanya. Sedangkan suamiku, oh aku lupa! Kami sudah lama berpisah. Tentu saja dia tak akan berada disini sekarang. Tempat ini terasa mulai sunyi. Hanya ada kicau burung-burung di dahan pohon mangga besar yang meningkahi desir angin sepoi kala senja. Suasana terasa begitu hening.

Tak perlu menunggu lama, dua orang terakhir pun beranjak dari tempat duduk mereka. Sebelum berlalu, mereka memandang ke arahku. Ada yang tersenyum, ada pula yang mendesah dengan suara pelan. Entahlah apa arti desah dan senyuman itu. Aku tak mampu mengartikan pun membalas. Ketika mereka benar-benar telah menjauh, aku merasa benar-benar sendirian.

Hening. Keheningan yang begitu menyengat. Rasanya aku ingin segera bangkit dan pergi dari tempat ini. Tapi aku tak bisa. Tanganku terikat-meski tak erat. Aku tak mampu membukanya. Aku berbaring dalam diam. Seperti dulu setelah acara pernikahan selesai, aku juga berbaring menunggu. Menunggu suamiku datang dan menghabiskan malam pertama kami dengan penuh cinta. Malam ini juga malam pertama untukku. Malam pertama yang sungguh berbeda makna.

Entah berapa lama aku menunggu, aku tak tahu. Yang kutahu tempatku berada sekarang kian dingin. Angin berkesiur meniup seluruh tubuh. Entah dari mana datangnya. Aku menggigil. Tanganku yang sedari tadi mendekap dada kian kurapatkan. Dan tanpa kutahu kapan dan dari mana datangnya, mereka telah berada di hadapanku. Tubuhku gemetar. Ibu, Ayah, bantu aku! Aku merasa panik luar biasa. Pandangan mereka seolah menembus jantungku.

β€œMan rabbuka?”

Lidahku kelu. Gemetar tubuhku seolah diamuk lindu.

414 kata.

keterangan :
Man Rabbuka? = Siapa Tuhanmu?

Iklan

63 thoughts on “[Flashfiction] Malam Pertama Untuk Selamanya

  1. istiadzah berkata:

    mbaca ini, bukan berharap apa yang akan aku temui di twisted endingnya, soalnya udah ketahuan dari awal cerita. tapi adalah, apa yang aka nterjadi jika aku seperti “aku” dalam cerita ini.
    *langsung ambil air wudhu, solat tahjjud*
    *tpi lupa, lagi dapet* -___-

    • riga berkata:

      betul, cerita ini nggak punya twist. Rata-rata pembaca tahu seperti apa akhir kisah. Tapi mereka bertahan membaca sampai akhir, sbb mereka membayangkan seperti apa rasa nya berada pada posisi “aku”. Terimakasih sudah mampir. πŸ™‚

  2. me_maemunah (@SuperMumun) berkata:

    Rig, harusnya paragraf pertama biarkan pembaca mengira-ngira sendiri dg yg dialami si pelaku. Salah satunya adalah dg menghilangkan tandu, juga bunga-bunga dan pakaina yg dikenakan si pelayat.. agar bisa lebih jleb terakhirnya… #saran

    • riga berkata:

      saran yang menarik, Mi. Tapi aku masih ‘blank’ apa yang kira-kira akan kuceritakan jika elemen-elemen tadi kuhilangkan. Ada saran? πŸ™‚

  3. chiemayindah berkata:

    Hmm, dari awal udah tahu maksud malam pertamanya. tapi jadi lebih mengingatkan bahwa malam pertama itu pasti akan dilewatin dan semoga bisa menjawab pertanyaan itu… aamiin

    • riga berkata:

      terimakasih kembali, Sri. πŸ™‚ | mengenai suasana di alam kubur, tentu cuma imajinasiku. yang pasti adalah kita semua akan ditanyai dengan pertanyaan yang sama : Maa Rabbuka?
      πŸ™‚

  4. Helda berkata:

    Rasa dari cerita ini adalah di endingnya, “Maa Rabbuka”. Tapi dari awal udah enak dibaca, tahap demi tahap perjalannya menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Terima kasih sudah diingatkan πŸ˜₯

  5. irfanaulia berkata:

    Anti mainstream ah… Kurang Bang. Endingnya kebaca. :p
    Hehehe, becanda. Endingnya memang kebaca, tapi prosesnya enak banget.
    Mantep dah.

    • riga berkata:

      aku juga abis nulis ini terus mikir sendiri : seberapa siap kelak aku menghadapi hal ini?
      dan, aku udah tahu jawabannya. Sekeras apapun berusaha, aku nggak akan pernah benar-benar siap…
      Makasi udah mampir, Carra. πŸ™‚

  6. Titik Asa berkata:

    Saya tak tahu, entah haru entah sedih baca post ini. Tapi hal inilah yg pasti akan dialami setiak kita. Hanya sendiri, hanya amal perbuatan baiklah yg akan menjadi penolong disaat itu…

    Salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s