[Flashfiction] Menanti Narti

foto : koleksi pribadi RinRin Indrianie

foto : koleksi pribadi RinRin Indrianie

Senja belum lagi tiba. Di sebuah dipan bambu yang terpasang kokoh di dinding rumah Slamet bersila. Di hadapannya ada selembar koran lusuh. Slamet terbata berusaha mengeja salah satu judul berita.

“Te..te.. na.. ga ker..ker..ja…”

Dua kali dia mengulangi kata-kata itu. Masih kurang yakin, dia berteriak memanggil cucunya yang sedang bermain di halaman.

“Ren, ke sini dulu. Bener ndak bacaan Kakek?”

Bocah kecil yang duduk di kelas tiga sekolah dasar itu mendekat. “Coba Kek, dibaca lagi.”

Slamet mengulangi kata itu. Reno mengangguk puas. “Udah bener Kek.”

“Ya sudah, main lagi aja. Kakek mau belajar baca lagi.”

Reno segera berlalu dari beranda. Teman-temannya masih menunggu.

Setengah jam berlalu. Bocah-bocah itu kelelahan. Satu-persatu pulang ke rumah dan menyudahi permainan. Reno berjalan santai mendekati kakeknya yang masih terus belajar membaca.

“Kakek belajar baca supaya bisa baca koran yah?” Reno mencomot sepotong gorengan yang sudah dingin.

“Iya.” Slamet menjawab pendek. Matanya masih menekuri deretan huruf dan bibirnya bergetar mengeja.

Dengan mulut yang masih penuh pisang goreng Reno bertanya lagi. “Kata Wak Minah sih berita di koran banyak nggak enaknya, Kek. Bikin pusing!”

Slamet tak menanggapi. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Tapi dia tak bisa menceritakannya pada siapapun, apalagi pada bocah kecil di depannya yang sedang mengunyah gorengan ketiga.

“Sudah, mandi sana! Oh ya, ini duit buat beli koran besok ya. Jangan lupa!” Slamet mengulurkan uang. Reno menerima dengan gembira.

“Kembaliannya buat aku ya, Kek?” Matanya mengharap.

Slamet mengangguk. Reno melonjak girang.

**********

“Kek… Emak udah kirim surat? Reno kangen.”

Slamet mengurungkan niatnya membuka halaman demi halaman koran yang baru diserahkan Reno sepulang sekolah. Cucu satu-satunya itu sedang kangen ibunya, Narti. Anak tunggal Slamet. Narti ngotot menjadi TKW seusai bercerai dengan suaminya.

“Tunggu aja, Ren. Mungkin ibumu lagi sibuk.” Slamet tak memercayai kalimatnya sendiri. Narti selalu rutin mengirim surat tiap bulan. Sekarang sudah dua bulan berlalu tanpa kabar apapun dari Narti. Slamet cemas.

“Kek, aku makan dulu yah. Wak Minah kirim lauk apa ya hari ini?” Reno beranjak ke dalam rumah. Slamet melanjutkan niatnya yang tertunda. Lembar demi lembar koran harian terbitan ibukota dia buka. Slamet hanya membaca judulnya sekilas saja.

Pada halaman yang dipenuhi iklan matanya terantuk pada sebuah artikel yang diletakkan di pinggir bawah. Judul artikel itu menyengat pandangannya. Penuh debar jarinya menelusuri judul artikel:

Seorang TKW di Arab Saudi Terancam Hukuman Mati karena Membunuh Majikan yang Memerkosanya

“Ya, Allah! Jangan Narti ya Allah. Jangan anakku!”

Benak Slamet kacau. Makin terbata dia dalam mengeja. Pandangannya mengabur sebab air mata mulai memenuhi pelupuk. Rasa takut kehilangan menguasai dirinya.

“Ren…Reno! Lekas kemari!” Akhirnya Slamet menyerah. Reno bergegas datang. Tangannya memegang piring kaleng. Mulutnya penuh makanan.

“Bacakan buat kakek!”

Slamet membentangkan koran dan menunjuk berita yang dia maksud. Reno buru-buru menelan nasi di mulutnya dan mulai membaca.

“Seorang tenaga kerja asal Indonesia terancam hukuman mati. Wanita bernama Sunarti binti Slamet…”

Reno menoleh pada Slamet. Matanya mendadak perih. “I..itu nama emak kan Kek?”

Slamet tak kuasa mengangguk. Piring kaleng di tangan Reno jatuh berdentang menghantam lantai. Bunyinya begitu menyakitkan.

492 kata.

Iklan

42 thoughts on “[Flashfiction] Menanti Narti

  1. latree berkata:

    berapa lama waktu yang dibutuhkan kakek sampai bisa membaca terbata?
    I mean, belajar membaca di usia senja itu sangat sulit dan butuh waktu lama. hanya dalam dua bulan dipicu kecemasan oleh surat yang tak datang bisa nggak ya…
    kenapa kakek ngotot ingin baca koran sendiri? dari banyak ’embah’ yang kuhadapi, dalam kasus seperti ini kakek akan mencari orang yang bisa dipercaya untuk mencari dan memantau berita.

    • riga berkata:

      dalam cerita memang nggak aku sebutkan berapa lama si kakek belajar membaca sebab waktu akan jadi relatif. aku yakin seseorang yang punya keinginan – juga alasan – kuat melakukan sesuatu akan berhasil. mungkin si kakek pernah ikut paket belajar, pernah diajari anak/cucu, dan sekarang keinginan belajar muncul lagi.

      kenapa si kakek ngotot? dalam benakku justru si kakek nggak ingin tahu hanya dari orang lain. Dia nggak ingin cuma duduk diam menanti kabar -buruk.

    • riga berkata:

      Slamet ingin dia tahu lebih dulu -seandainya ada- berita buruk tentang Narti, jadi dia bisa menyembunyikan kabar itu dari Reno. Ternyata dia tak sanggup….. 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s