[Berani Cerita #24] Vivi Jangan Pergi

foto : echieychant.wordpress.com

foto : echieychant.wordpress.com

Vivienne menatapku dengan mata yang basah. Untuk waktu yang lama kami berpelukan tanpa kata-kata.

“Maafkan Vivi, Ma.” Akhirnya Vivi bersuara. Butiran bening mengalir di pipi putihnya. Aku mengangguk kuat-kuat. Aku tak boleh menangis di hadapannya. Tidak saat ini.

“Mama sayang Vivi.” Kugenggam tangan anak gadisku yang berbaring lemah di kasur putih rumah sakit. Mencoba memberi kekuatan.

“Vivi takut, Ma.”

Aku tercekat. Mata anakku menyiratkan kegelisahan yang dalam. Ya Tuhan, apa yang harus kukatakan?

“Dokter akan mengusahakan yang terbaik, Sayang. Mama akan selalu berdoa buatmu.”

“Andai Papa ada di sini, Ma….” Mata basah Vivi menerawang. Hatiku perih. Vivi sudah tahu kalau aku dan Papanya yang warga negara Inggris itu sedang mengurus perceraian. Lelaki itu ternyata sudah menikah lagi di London.

“Sudahlah, Vi. Kita berdoa saja semoga semuanya lancar. Semoga tumor di lehermu itu bisa diangkat.”

Seorang dokter berseragam biru mendekati kami. “Maaf, Ibu. Sudah waktunya.” Dia tersenyum menenangkan.

Aku menyisih. Sigap lelaki muda itu bersama dua orang perawat memindahkan tubuh kurus dan lemah Vivi ke brankar lalu mendorong benda itu menuju ruang operasi. Aku mengiringi mereka. Tanganku masih menggenggam jemari Vivi.

“Silakan Ibu menunggu di luar, ya. Kami akan usahakan yang terbaik.” Seorang dokter setengah baya yang tampak berpengalaman menghentikan langkahku, lalu menutup ruang operasi.

**********

Sudah lima jam Vivi dioperasi. Aku berjalan mondar-mandir dari ruang tunggu kamar operasi ke toilet. Akhirnya kuputuskan untuk shalat dan berdoa di mushalla. Seorang kerabat kuminta mengabari jika operasi telah selesai.

Di dalam mushalla kubasahi sajadah dengan airmata dan doa. Tak putus kumohon pada Tuhan agar Vivi diberi kesembuhan. Entah berapa lama aku larut dalam permohonan hingga sebuah dehaman menyadarkanku.

“Operasi sudah selesai, Bu. Dokternya mau ketemu Ibu

Bergegas kulipat mukena dan setengah berlari menuju ruang tunggu kamar operasi. Dari lorong rumah sakit bisa kulihat dokter yang mengoperasi Vivi sedang tersenyum. Hatiku sedikit terangkat. Setelah aku mendekat, ternyata dia sedang berbicara dengan seorang perawat.

“Dokter!”

Lelaki separuh baya berbaju biru itu menoleh ke arahku. Senyum di wajahnya menghilang dalam sekejap. Ya Allah!

Cuma kata ‘maaf, kami sudah berusaha, ada komplikasi…’ yang sempat kudengar keluar dari bibirnya. Selebihnya aku tak tahu. Duniaku gelap berputar.

346 kata.

http://

Iklan

24 thoughts on “[Berani Cerita #24] Vivi Jangan Pergi

  1. _menikdp berkata:

    jadi inget cerita tentang penyakit tiroid hashimoto di majalah karima kalau ada cerita penyakit di leher gitu.
    tapi kok yang ini agak datar ya bang ceritanya? *ampun bang jangan dikeplak (-/.\-)* hehehe

        • riga berkata:

          gimana kalo ditambahi ceritanya? jadi, ucapan dokter belum kelar, vivi masih bisa diselamatkan, tapi perlu darah golongan O. Darah ibunya nggak cocok, perlu donor lain. Ayahnya tiba2 datang, tapi ternyata darahnya juga nggak cocok. Ayah Vivi marah, menuduh ibunya Vivi selingkuh. Kacau! Sampai akhirnya Vivi secara mengejutkan tersadar dan minta orangtua nya berdamai. Lalu Vivi meninggal dengan tenang. Gimana? *dih, ceritanya nggak banget yah? hehehe

  2. eksak berkata:

    Padahal masih ada lanjutannya, tuh “Maaf, kami sudah berusaha. Ada komplikasi yang keren di dalam tubuh Vivienne. Tapi kami tak tau apa itu. Akhirnya operasi berjalan lancar dan anak Ibu selamat!”

    hehe..

    • riga berkata:

      sippp…padahal kan belum tentu tentang kematian. bisa aja kelumpuhan atau apalah, yang penting masih hidup. hmm…barangkali bisa diceritakan di sekuelnya niih. *kemaruk bikin sekuel. Hahahaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s