[Cerita Pendek] Sampan 2 : Penolong Misterius

bagian pertama cerita ini bisa dilihat di SINI

foto : bornraisedntrap.blogspot.com

foto : bornraisedntrap.blogspot.com

Langit cerah, matahari belum lagi tinggi, udara terasa hangat menyenangkan. Tapi hari ini sama sekali tak menyenangkan buatku. Kukayuh pedal sepeda pelan-pelan. Aku diliputi ragu, cemas, takut, bahkan kesedihan. Ingin rasanya kubawa sepeda tua ini menuju arah lain. Kemana saja asal bukan ke arah rumahku. Tapi aku sadar itu hanya menunda masalah, tidak menyelesaikannya sama sekali.

Rumahku sudah dekat. Dari kejauhan bisa kulihat Lela sedang menimba air di sumur. Sudah beberapa bulan dia menerima cucian dari tetangga. Sesekali kulihat dia menyeka keringat dari dahinya. Setang sepeda kuarahkan ke sisi lain rumah. Kusandarkan baik-baik benda tua itu, lalu aku berjalan pelan menuju sumur.

“La…”

Lela menghentikan pekerjaan mencucinya lalu menoleh ke arahku. Pandangan matanya diliputi keheranan.

“Abang mau bicara.” Kuberi isyarat agar dia masuk ke dalam rumah. Mengingat sifat Lela, sangat mungkin akan terjadi keributan. Dan aku tak ingin ada tetangga yang melihat.Lela menurut. Dia mencuci tangan dan kaki lalu beranjak ke dalam. Aku mengikuti dengan resah.

“Ada apa, Bang? Kok udah pulang?” Lela tak menunggu lama untuk menuntaskan rasa herannya.

“Ehem…” Aku berdeham untuk melonggarkan tenggorokan. Lela masih memandangiku.

“Sampan kita tenggelam. Ditabrak boat.”

Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutku. Hatiku berdebar menanti reaksi Lela.

“Kok bisa?”

Hanya itu reaksi Lela setelah ada jeda beberapa puluh detik. Jeda yang menyiksa.

“Tadi pagi abang ngantuk banget, La. Jadi lupa ngikat sampan ke tiang dermaga. Sampannya hanyut….ditabrak boat.”

Aku menundukkan kepala dan menajamkan telinga. Pasrah.

Hening kembali menyapa. Desir angin yang memasuki rumah tak cukup membantu mendinginkan hati yang resah. Perlahan kudengar suara napas Lela. Semakin lama semakin kuat terdengar.

“Bang Miswar!”

Aku mendongak. Lela telah berdiri dari duduknya. Wajah istriku merah padam. Kemarahan memenuhi setiap inci tubuhnya.

“Kau…kau…” Lela menudingku. Telunjuknya bergetar. “Kenapa kau ceroboh sekali, Bang? Sampan itu buat cari makan! Kalau sampan itu nggak ada, abang gimana melautnya? Kita mau makan apa?”

Aku diam menyerap semua kata-kata Lela. Tak ada satu kata pun yang salah.

“Aku sudah usaha sana sini buat bantu kau, Bang! Terima cucian, bantuin masak, jualin barang! Semuanya udah! Tapi kenapa masih begini juga yang kejadian, Baang?”

Lela terisak. Sontak aku berdiri dan mencoba memeluknya. Lela meronta dan melepaskan diri. Hatiku terluka.

“Lama-lama aku nggak sanggup kayak gini. Nggak sanggup.” Lela menangkupkan kedua belah tangannya ke wajah. Beberapa tetes air matanya mengalir dari sela jemari. Hatiku perih.

“La…” Kuulurkan tangan hendak memegang bahunya. Tapi Lela keburu menepisnya. Cepat kakinya berlari menuju kamar. Pintu dibanting keras. Sebuah bingkai foto yang digantung di dinding ruang tamu terjatuh. Kacanya pecah berhamburan.

Aku berjalan lesu menuju ruang tamu. Tanganku meraih foto di lantai. Foto aku dan Lela yang sedang menimang Ratih. Aku menghela napas. Foto itu adalah foto terakhir yang kami buat enam tahun lalu. Kami belum sempat membuat foto keluarga baru.

“Pak?”

Suara Ratih mengagetkanku. Sigap kuhapus air mata yang sempat mengaliri pipi.

“Kok udah pulang, Nak?” Kupasang wajah ceria.

“Guru-guru sedang rapat, Pak. Anak kelas 2 disuruh pulang cepat.” Ratri melepas sepatu dan memasuki rumah.

Mendadak Ratih berbalik. “Bapak abis nangis ya? Oh ya ampun! Tangan Bapak berdarah! Kenapa, Pak?” Ratih meletakkan tas dan sepatunya di lantai lalu bergegas ke arahku.

Kualihkan pandangan ke tanganku. Ada darah yang mengalir di sela jari. Rupanya tanpa kusadari, pecahan kaca dari bingkai foto melukai tanganku. Baru kurasakan sedikit perih di tangan.

“Sebentar, Pak.” Ratih merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sapu tangan. Cekatan dia membalut tanganku.

“Ratih diajarin pas ikut Pramuka, Pak.” Jelasnya sambil tersenyum. “Nah, selesai!” Ratih tersenyum puas.

“Makasih, Sayang.” Aku terharu.

“Sama-sama, Pak. Eh, jadi Bapak nangis karena tangannya kena pecahan kaca ya? Iiih, Bapak cengeng!”

Bibir mungilnya merekah. Senyuman nakal terukir di sana. Aku hanya tertawa dan merangkulnya erat. Sejenak pertengkaranku dengan Lela terlupakan.

**********

Siang itu aku kembali ke dermaga. Beberapa teman langsung mendekatiku dan mengucapkan rasa penyesalan mereka. Aku menerima perhatian mereka dengan terharu.

“Maafin kami, Mis. Mestinya sesama kawan ikut saling menjaga. Mengingatkan kalau ada yang terlewatkan.” Bang Ramon, pemancing paling senior di sini menepuk pundakku. Aku mengangguk.

“Aku sudah cerita sama kawan-kawan kita di sini. Kami mengumpulkan duit sekadarnya buat bantuin kau, Mis. Mudah-mudahan bisa lah dipakai buat makan.”

Bang Ramon memberi isyarat pada salah satu kawan. Seorang lelaki muda mendekatiku. “Ini, Bang. Tolong diterima ya.”

Aku menyambut amplop putih yang disodorkan Dodo dengan hati bergetar. bibirku tak henti mengucap terimakasih. Mereka sungguh baik!

Satu-persatu kawanku menyalami. Ucapan mereka cukup membuatku terhibur. Satu-dua menawariku untuk memakai sampan mereka untuk memancing. Mirwan, seorang mahasiswa yang sering meminjam sampanku ketika dia ingin memancing menyalamiku lebih lama.

“Saat ini aku nggak bisa bantu pakai uang, Bang. Tapi aku pasti bantu dengan cara lain.” Dia tersenyum.

Aku kembali mengangguk. Terimakasih semuanya. Tadinya aku kemari mencari Bang Rojak untuk pinjam uang. Syukurlah hal itu tak perlu aku lakukan. Tapi, ngomong-ngomong, Bang Rojak kemana ya? Kok tidak kelihatan?

**********

Lela sedang duduk termenung di dapur ketika aku kembali ke rumah. Rambutnya kusut, wajahnya merengut. Gerak-gerik tubuhnya menandakan dia masih marah. Aku meraih kursi di dekatnya.

“La…”

Lela tak menanggapi.

Kukeluarkan amplop dari saku. Kuletakkan tepat di depannya. Lela melirik sekilas, lalu bertanya tak acuh. “Apa itu? Pinjaman? Gimana cara bayarnya ntar?”

“Bukan, La. Itu bantuan dari kawan-kawan abang. Abang belum lihat berapa isinya. Mudah-mudahan cukup membantu sampai abang dapat kerjaan lainnya.”

Tangan Lela bergerak meraih amplop. Sejenak dia meneliti isi benda putih itu. Senyum kecil merekah di bibirnya.

“Kawan-kawan abang memang orang-orang baik.” Lela memutar tubuhnya dan menghadapiku. Raut wajahnya melembut.

“Lela minta maaf, Bang. Mungkin ada kata-kata Lela tadi yang nyakitin hati abang.”

Aku meraih tangannya. Kuremas pelan jemari Lela yang terasa kasar. “Abang juga minta maaf, La. Selama nikah abang belum bisa bikin kamu senang. Susah melulu.”

Lela tersenyum. Senyuman manis yang sejak dahulu selalu membuatku jatuh cinta. Kupeluk tubuhnya erat-erat.

“La… “ kataku setelah sekian menit berpelukan.

“Ya, Bang?”

“Abang lapar. Kamu ada masak?”

Lela melepaskan pelukannya. Wajahnya meringis. “Nggak masak, Bang. Tadi Lela suruh Ratih beli gado-gado. Makan pake itu aja nggak apa-apa ya?”

Aku menggeleng dan tersenyum. “Nggak apa-apa, asal disuapin.”

“Duuuh, manjaaa!”

Lela mencubit pipiku. Aku mengaduh kesenangan.

**********

“Assalamualaikum.”

Sebuah salam terdengar dari luar. Aku bergegas keluar dari kamar dengan masih mengenakan sarung sehabis shalat Isya. Di pintu kulihat Bang Rojak berdiri dengan raut wajah gelisah.

“Ayo masuk, Bang.”

Bang Rojak menurut, kemudian duduk di kursi tamu.

“La, ada Bang Rojak nih. Tolong bikinkan minum ya.”

“Iya, Bang.” Sahut Lela dari dapur. Tak lama Ratih keluar sambil menating nampang. “Mamak lagi ngaduk santan, Pak.” Kata Ratih tanpa ditanya. Cekatan dia meletakkan gelas-gelas berisi teh panas di atas meja.

“Eh, Uwak Rojak rupanya! Uwak ada bawa buku ceritanya?” Ratih mencium tangan Bang Rojak.

Bang Rojak memeriksa tasnya dan mengeluarkan sebuah buku bergambar yang cukup tebal. Ratih terlonjak kegirangan. “Makasih, Wak!”

Ratih segera berlalu ke dapur sambil mendekap buku dongeng yang rupanya dijanjikan Bang Rojak.

“Ayo diminum, Bang. Mumpung masih panas.”

Bang Rojak tak menyentuh gelasnya. Dia merogoh saku dan mengeluarkan amplop tebal. “Ini buatmu.”

“Eh, apa itu Bang?”

“Duit.”

“Dipinjamin buat aku?”

“Bukan, itu buatmu.”

“Lho?”

“Pokoknya aku pengen bantu kamu. Duit itu juga sebagian dari juragan besar.”

Kuraih amplop di atas meja. Lembaran kertas merah bergambar proklamator terlihat jelas.

“Kurasa itu cukup buat beli sampan baru yang lumayan bagus. Jadi kau bisa melaut lagi, bisa cari duit buat keluarga.”

Bang Rojak mendadak berdiri. Aku refleks mengikuti. “Aku pamit, Mis. Assalamualaikum.”

Tanpa menunggu jawabanku, tanpa menghiraukan keherananku Bang Rojak terus saja keluar dari ruang tamu. Cekatan dia mengambil sepeda yang disandarkan di pohon depan rumah dan terus melaju menjauh.

“Lho, katanya ada Bang Rojak?” Suara Lela mengembalikanku dari rasa heran. Lela sedang menggendong bayi kami. Ada Ratih di sampingnya.

“Nggak tahu. Abis ngasi duit dia langsung pergi.” Aku menunjuk amplop di atas meja. Lela menghampiri meja. Sebentar kemudian dia menjerit kegirangan.

“Banyak banget, Bang! Bang Rojak ngasi ini buat kita?” Lela memegang uang itu dengan kedua tangan. Rasanya dia belum pernah memegang uang sebanyak itu.

Ratih yang duduk di samping Lela ikut kegirangan. “Mak, nanti Ratih dibelikan buku dongeng ya? Kayak buku yang dipinjamin Wak Rojak ini.” Ratih menunjukkan buku tebal di tangannya. Lela menjulurkan tangan hendak mengambil buku dari tangan Lela, tapi gerakannya membuat buku itu terjatuh.

“Eh!” seru Ratih. “Ada foto!”

Lela hanya melirik sekilas. Perhatiannya masih terpusat pada uang di tangan. Ratih mendekatiku dan menunjukkan foto itu. Kupandangi foto Bang Rojak yang sedang duduk santai di sampanku. Ini foto kapan ya? Kubalik foto itu. Hanya ada sebaris kalimat yang tertera :

“Aku tahu yang kamu lakukan, Bang. Aku tahu.” 

Belum usai keherananku, pintu depan kembali diketuk. Aku beranjak membuka pintu.

“Lho, Bang Rojak? Ada yang ketinggalan?”

Bang Rojak membuka mulutnya, tapi bibirnya kembali mengatup melihat tanganku memegang foto dirinya. Dia menghela napas panjang.

“Aku mau buat pengakuan, Mis. Sampanmu hanyut karena aku. Setelah kau pulang, aku berniat memakai sampanmu buat mancing. Tapi baru saja aku mulai mengayuh, hapeku bunyi. Juragan manggil aku. Penting katanya. Jadi aku bergegas naik ke dermaga dan lupa apakah aku sudah mengikat sampanmu atau belum. Waktu aku kembali kawan-kawan sudah ramai bicara tentang sampanmu yang ditabrak boat. Aku jadi takut disalahkan. Sebab itu ketika kau datang buru-buru kukabari kau. Maafkan kepengecutanku, Mis. Aku berusaha menghindari tanggung jawab. Siang tadi foto yang sekarang ada di tanganmu sudah berada di mejaku. Aku tahu, aku tak bisa mengelak lagi. Aku harus minta maaf padamu, juga mengganti sampanmu.”

Aku terpana mendengar penjelasan panjang lebar Bang Rojak. Ternyata semua ini bukan kesalahanku.

Kupandangi lelaki yang usianya sepuluh tahun diatasku. Matanya menatapku penuh harap. Aku tersenyum.

“Aku nggak dendam, Bang. Aku maafin.”

“Alhamdulillah, makasih Mis.” Mata Bang Rojak berair. Kelegaan terpancar jelas di matanya.

“Ayok, masuk Bang. Tadi tehnya belum sempat diminum kan?” Aku menyilakan dia masuk. Lela dan Ratih menyambut dengan hangat. Mereka mungkin mendengar pengakuan Bang Rojak tadi. Mungkin juga tidak. Tapi sekarang tidak ada masalah lagi.

Berempat kami duduk mengobrol santai di ruang tamu sederhana. Bicara kesana-kemari hingga sebuah pikiran melintas di kepalaku.

“Kira-kira siapa ya yang ambil foto ini, Bang?”

Bang Rojak menggeleng dan mengedikkan bahu.

Ingatanku tiba-tiba melayang pada ucapan Mirwan tadi siang.

“Saat ini aku nggak bisa bantu pakai uang, Bang. Tapi aku pasti bantu dengan cara lain.”

Mungkinkah dia?

14 thoughts on “[Cerita Pendek] Sampan 2 : Penolong Misterius

    • riga berkata:

      hahahaha…thanks yah udah mampir lagi. bagian kedua ini semula juga disertakan dalam tantangan menulis. tapi karena nggak puas dengan hasilnya, maka ditarik dari tantangan itu dan akan direvisi ulang. Nah, supaya nggak kepanjangan barangkali akan ada Sampan 3. Hahahaha, udah kayak sinetron aja. :p

      • dickoandika berkata:

        Kayaknya perubahan karakter Lela agak aneh si bang, Tapi memang si karakter Lela di cerita ke 2 ini lebih ‘disuka’.

        buku yg dipinjem sama Rojak buku apaan ya??
        trus fotonya bang Rojak di sampan itu yg foto Miswar ya pas mereka bersampan berdua? #eaa #salahfokus #kusut

    • riga berkata:

      mungkin akan diceritakan dibagian ketiga. hehehe. enggak ding. karena cerita ini sudah ditarik dari MFF, maka akan direvisi jadi lebih panjaaaaaaang. Sekaligus menjelaskan tentang foto itu. 🙂

    • chocoStorm berkata:

      Eh, ada perubahan karakter ya? Dari Lela yang cerewet, penuntut, menjadi Lela yang manis dan penuh pengertian 😀
      Sorry Bang, komennya susul menyusul. Komen sekali lagi dapet piring yak :mrgreen:

      • riga berkata:

        karakter Lela nggak berubah. Tadi pagi dia sedang kesal jadi banyak bicara (alias cerewet). Tapi pada saat dia dengar kalau sampan suaminya rusak, dia jadi nggak tahu lagi mesti bilang apa. Dadanya sesak. Dia cuma bisa nangis.

        Sepertinya cerita Sampan 2 ini mau ‘dicabut’ dari Prompt 22, biar bisa dilengkapi dengan keterangan tambahan. Karena itu pasti jumlah katanya melebihi 300, dan udah nggak memenuhi persyaratan. Thanks ya Choco…. 🙂

    • riga berkata:

      ada sesuatu dengan foto itu….. barangkali akan diceritakan di sekuel berikutnya, Hehehe.
      Lanjutan cerita nisannya ntar yaaa… belum nulis buat Berani Cerita nihh… 🙂
      Thanks udah mampir…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s