[Cerita Pendek] Nisan Untuk Hamidah

nisan

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Innalilahi wa inna ilaihi roji’un. Telah meninggal dunia seorang hamba Allah yang bernama Hamidah binti Rahmad Sukardi pada hari ini Jumat tanggal 23 Agustus 2013. Jenazah akan dikebumikan….”

Hamidah tersentak bangkit dari tidurnya. Mimpi itu lagi! Mimpi yang sama seperti dua hari lalu. Terbayang jelas di matanya suasana sebuah mushalla. Seorang lelaki tua berjalan perlahan menuju pengeras suara. Menghela napas panjang lalu mulai membaca kertas kecil berisi berita kematian di tangannya. Lalu Hamidah mendengar namanya disebut. Dia sudah mati!

Perempuan tua berusia 58 tahun itu mengusap dahinya yang basah keringat. Ketika tangannya tiba di depan mata dia baru menyadari jemarinya gemetar. Takut. Tak percaya. Atau mungkin gabungan keduanya.
Hamidah meraih gelas di atas nakas di samping tempat tidurnya. Meneguk air bening hingga tandas. Dalam keremangan diliriknya weker yang masih menunjukkan pukul 2.30 dinihari. Hamidah berbaring dan mencoba untuk kembali tidur. Tapi hingga suara orang mengaji dari mushalla yang letaknya di gang sebelah mulai sayup terdengar, mata Hamidah masih enggan terpejam.

**********
Pagi kembali lahir. Sama seperti pagi hari-pagi hari yang telah berlalu. Seiring jemari cahaya mentari mulai menggelitiki bumi, riuh kicau burung dan lalu lalang kendaraan, Hamidah memulai kegiatan rutinnya. Meski mimpi semalam masih merusuhi pikiran, kehidupan tetap harus dijalankan.

“Hei, Abdul!”

Lelaki kurus berkulit hitam yang sedang menyapu halaman depan toko menoleh. “Ya, Bu?”

Hamidah melambaikan tangan, menyuruh lelaki itu mendekat.

“Itu kenapa semen-semen yang datang kemarin belum dipindahin, hah?” Hamidah mendelik. Abdul mengkerut.

“Maaf, Bu, belum sempat. Badan saya masih sakit.”

“Maaf, maaf. Kalau kerja yang bener dong. Kamu kan saya gaji buat bekerja yang bener. Ayo, cepat bereskan! Lah, mana si Mursal? Kenapa belum kelihatan anak itu? Huh, pekerja kok nggak ada yang bener. Minta dipecat aja!”

Hamidah gusar memasuki bagian dalam toko bahan bangunan miliknya. Tangannya meraih telepon di atas meja kasir lalu menekan sederet tombol. Tak lama kemudian terdengar suara omelannya memarahi seseorang. Hamidah membanting gagang telepon dan berlalu ke dalam rumah. Abdul menahan kekesalannya dalam hati.

“Huh, pagi-pagi udah ngomel aja.”

Abdul meneruskan pekerjaannya. Dalam sepuluh menit ada dua tumpukan zak semen yang selesai dirapikan. Abdul menegakkan badannya. Terdengar bunyi derakan dari tulang-tulang yang beradu. Di kejauhan dilihatnya seorang pemuda berbadan gempal tergopoh menuju ke arahnya. Mursal.

“Hoh…hoh… maaf aku telat bang. Semalam nonton pertandingan bola.” Mursal nyengir.

“Apa kata Ibu tadi di telepon?”

“Katanya kalau aku nggak nyampe kemari dalam sepuluh menit, aku dipecat. Makanya nggak pake ba-bi-bu aku langsung kemari. Bahkan nggak sempat mandi. Hahahaha.”

Mau tak mau Abdul tersenyum. “Ya udah, bantuin aku yah.” Mursal mengangguk dan mulai bekerja. Sebentar kemudian Toko Bahan Bangunan “Tangguh” milik Ibu Hamidah siap untuk menerima pelanggan.

**********
Hamidah sedang menghitung uang di laci meja ketika Abdul mendekatinya. “Ada Pak Haji Usman, Bu.”

“Eh, iya suruh masuk aja ke rumah.” Hamidah membereskan laci, menguncinya dan bergegas keluar dari pintu belakang toko yang menyambung dengan bagian depan rumahnya. Di ruang tamu dilihatnya seorang lelaki berpeci putih berwajah teduh sedang menunggu.

“Assalamualaikum, Ji.”

Lelaki yang dipanggil “haji” menoleh dan menyahut. “Alaikumsalam.”

Hamidah duduk di depan tamunya dengan wajah berseri. Haji Usman berujar pendek. “Sedang senang hatimu, Dah?”

Hamidah mengibaskan tangannya. “Sebenarnya nggak, Ji. Aku senang aja ketemu kau. Walaupun biasalah, itu anak-anak kerjanya pada nggak beres. Bikin kesel aja pagi-pagi begini. Kalau nggak becus gitu ya nggak usah kerjalah. Mana bisa punya banyak duit. Lihat aku ini, kalau nggak kerja keras mana bisa jadi seperti ini. Biar udah ditinggalin suami sejak lama, nggak ada ceritanya Hamidah putus asa terus luntang lantung nggak kerja. Biarpun nggak dibantu sama anak-anak yang durhaka itu, Hamidah tetap bisa usaha sendiri. Ya nggak, Ji?” Hamidah mengakhiri cerocosnya dengan sebuah tawa kecil. Haji Usman hanya tersenyum.

“Eh, iya Ji, mau minum apa?”

Belum sempat Haji Usman menjawab, Hamidah keburu berteriak. “Mursaaal! Kemari dulu!”

Mursal bergegas datang. “Ya, Bu?”

“Belikan kopi buat Haji Usman. Sekalian gorengan.” Hamidah mengulurkan selembar uang. Mursal bergegas pergi.

“Eh, iya Ji. Kok mukamu keruh gitu sih?” Hamidah baru menyadari sejak tadi sahabatnya itu hanya tersenyum sekadarnya.

“Ada berita duka, Dah.” Haji Usman mengesah. Hamidah tercekat. “Ada yang meninggal?” Haji Usman mengangguk.

“Si..siapa Ji?”

“Si Rusnah. Kawan kita di Sekolah Rakyat dulu, yang tinggalnya di Kampung Rambe. Kena DBD katanya.”

“Innalillahi….”

“Nggak nyangka yah. Padahal Rusnah itu lebih muda dari kita, tapi dipanggil duluan sama Allah.”

“Namanya juga umur, Ji. Kita nggak ada yang tahu. Yang aku sayangkan, si Rusnah itu tinggal sendiri. Suami udah lama meninggal, anaknya entah dimana.”

Dua manusia berusia senja itu terdiam. Ada keheningan yang menekan di antara keduanya. Hamidah teringat mimpinya semalam. Mungkin dia bisa berbagi cerita itu pada Haji Usman sahabatnya sejak puluhan tahun silam.

“Ji… aku mau cerita.” Hamidah berkata pelan. Haji Usman mengangkat kepalanya dan memerhatikan.

“Aku mimpi buruk, Ji. Aku…..”

Kalimat Hamidah terputus oleh suara Mursal yang memasuki ruang tamu.

“Bu, kopinya ada, tapi gorengannya nggak. Ini aku beliin roti aja. Nggak apa-apa ya?” Mursal menanti dengan cemas. Biasanya majikannya akan mengomel panjang lebar jika dia membeli sesuatu yang tidak disuruh. Biasanya dia akan diomeli dengan kalimat, “Kalau nggak ada ya cari di tempat lain! Kan saya nggak suruh beli ini! Kamu harus ganti duitnya!”
Tapi Hamidah hanya tercenung.

“Ya udah nggak apa-apa. Kembaliannya ambil aja buat kamu.” Mursal kaget. Ambil saja kembaliannya? Nggak salah nih? Tapi dia hanya mengangguk sopan, mengucapkan terimakasih dan berlalu. Hamidah kembali diam.

“Mimpi apa kau semalam, Dah?” Haji Usman memutus keheningan.

“Oh, itu Ji. Aku mimpi…..”

Hamidah menceritakan semua mimpinya. Dia ceritakan tentang perasaannya sekarang yang tak karuan. Haji Usman mendengarkan tanpa menyela.

“Apa itu tandanya aku mau mati ya, Ji?” Hamidah mengakhiri ceritanya dengan sebuah pertanyaan. Haji Usman mengusap wajahnya. “Aku nggak tahu, Dah. Bisa ya, bisa nggak. Saranku yah kita perbanyak amal aja, Dah.”

Hening.

“Ya udah, aku kemari cuma mau menyampaikan kabar itu saja. Kalau kau mau melayat, ikut saja sama rombongan istriku dan ibu-ibu pengajian. Tadi Rahmi yang mau datang kemari, tapi kakinya masih sakit karena terkilir.”

Haji Usman bangkit. Menepuk gamis putihnya dan membetulkan letak pecinya. Tak lupa selempang kain dia rapikan di bahunya.

“Aku pamit, Dah. Assalamualaikum.”

“Alaikumsalam.”

Haji Usman melangkah ke luar ruang tamu. Tiba-tiba ia ingat sesuatu. “Kau mau menyumbang buat pemakaman Rusnah, Dah? Sumbang nisan barangkali?”

Hamidah tergeragap. Haji Usman menatap lurus ke matanya. Hamidah mengangguk enggan. Haji Usman mengucap hamdallah, lalu kembali pamit. Hamidah menatap kepergian Haji Usman hingga bayangannya menghilang di ujung gang.

Mendadak Hamidah menepuk dahinya keras. Menyumbang nisan! Astaga! Berapa pula itu harganya? Tergopoh Hamidah masuk ke tokonya.

“Abdul! Berapa harga satu set nisan?”

**********
Hamidah melihat-lihat nisan di rumah Pak Roji yang menggunakan sepetak tanah di samping rumahnya sebagai bengkel kecil pembuatan nisan. Semula dia akan menyuruh Abdul memesan nisan untuk kuburannya Rusna, tapi sebuah pikiran singgah di kepalanya.

“Ah, nanti Abdul curang. Bisa saja harganya cuma tiga ratus ribu tapi dia bilang lima ratus. Mending aku sendiri yang datang.”

“Udah ada yang cocok, Bu?” Suara serak mengagetkan Hamidah. Seorang lelaki berwajah ramah berdiri di belakang Hamidah.

“Eh.. itu…sebelum nyari yang cocok, saya mau tanya harga dulu. Berapa ya?” Hamidah bertanya takut-takut. Takut jantungnya kaget mendengar harga yang terlalu mahal.

“Kalau model bongkar pasang begini sekalian dengan kepala nisan dan bikin namanya kena lima ratus.”

“Lima…lima ratus ribu?” Hamidah tercekat. Abdul ternyata nggak bohong.

“Iya. Tapi masih bisa kurang lah?”

“Berapa? Tiga ratus?”

Lelaki berwajah ramah itu tertawa kecil. “Nawarnya jangan begitu dong, Bu.”

Wajah Hamidah terasa panas memerah. “Yah, namanya juga nawar.”

“Empat setengah deh. Diluar ongkos angkut yah.”

Hamidah berpikir sejenak. Ya sudahlah, tak mungkin dia membatalkan janji. Mau ditaruh dimana mukanya?

“Iya deh, Pak. Modelnya yang kayak gimana aja ya?”

Lelaki itu menunjukkan beberapa model yang ada di ‘katalognya’. Hamidah memilih satu model yang sederhana. Buat orang mati ngapain yang bagus-bagus amat?

Ketika membayar uang panjar, mata Hamidah terantuk pada sebuah nisan yang terletak di sudut bengkel. Nisan yang indah berwarna kuning gading. Dari jarak dua meter Hamidah bisa melihat bentuk kepala nisan yang seperti kubah mesjid, melengkung sempurna. Ada sedikit ukiran berwarna emas di pinggirnya.

“Eh, Pak, kalo nisan yang itu berapaan ya?” Hamidah menunjuk. Pak Roji menoleh. “Oh, itu pesanan khusus, Bu. Sejuta.”

Hamidah menelan ludah. Ngapain sih buat orang mati aja bayarnya segitu mahal? Meski mengomel dalam hati tak urung kakinya melangkah mendekat. Jemari Hamidah menelusuri ukiran yang dipahatkan pada pinggiran kepala nisan.

Cantik, gumamnya dalam hati. Bagian tengah nisan belum diberi plat nama. “Ini nisan buat siapa, Pak?”

Lelaki itu masuk ke dalam bilik kecil dan mengambil sebuah lempeng marmer berbentuk persegi. “Kebetulan namanya baru selesai saya ukir. Sebentar saya pasang, biar ibu bisa lihat sendiri.”

Cekatan tangan Pak Roji mengambil sejumput semen putih, membaurkannya dengan sedikit air dan mengulaskannya di bagian belakang lempeng marmer. Lempeng itu kemudian ia lekatkan pada ceruk datar di bagian tengah kepala nisan.

“Nah, sudah selesai. Ibu lihat sendiri deh.” Lelaki itu menyisih memberi ruang pada Hamidah.

Hamidah mendekat dan membaca nama yang tertera. Matanya membelalak. Ada nyeri yang teramat dalam menyengat kepalanya. Kesadarannya perlahan hilang. Sebelum kegelapan menyelimuti dunia Hamidah, benaknya melayang pada mimpi kematiannya, lalu pada tulisan indah lempeng marmer.

innalillahi

Hamidah binti Rahmad Sukardi
Lahir : Tahun 1955
Wafat : 23 Agustus 2013.

(Bersambung)

Bagian kedua bisa dibaca di SINI

Iklan

15 thoughts on “[Cerita Pendek] Nisan Untuk Hamidah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s