[Berani Cerita # 21] Kolak Pisang Rasa Cinta

foto : kayuagungradio.com
foto : kayuagungradio.com

“Jadi istri itu harus bisa masak.Biarpun bekerja, perempuan harus menyiapkan sendiri makanan untuk suaminya. Memangnya mau suaminya makan masakan warung melulu?”

Nana mengingat-ingat kalimat lembut tapi menusuk yang diucapkan Rahmi, mertua perempuannya seminggu lalu kala mertuanya itu mengunjungi rumahnya – rumah Nana dan Ridho – sebulan setelah bulan madu usai. Mertuanya melirik sinis pada meja makan yang dipenuhi masakan yang dibeli dari warung makan.

“Memangnya kamu nggak sayang sama perut suamimu, Na?” sindir Rahmi. Nana menundukkan kepala. Dia berharap Ridho ada di sini untuk membelanya. Sayang sekali, Ridho sedang mengobrol dengan ayahnya.

“Ridho itu sukanya semur daging, sayur lodeh, sama sambal terasi. Kamu bisa masak itu semua?”

“Belum, Ma.” Nana pasrah.

“Agak sulit juga bikinnya. Ya sudah, nanti Mama ajari. Oya, bikin kolak pisang saja. Bikinnya gampang dan Ridho juga suka. Besok datang ke rumah Mama untuk ambil resepnya.”

Sekarang di tangan Nana sudah ada kertas berisi resep Kolak Pisang dari mertuanya. Tadi pagi dia sudah ke pasar untuk membeli bahan-bahan. Siang ini adalah waktu yang tepat untuk memasak. Ridho sedang memancing dan baru akan pulang sore nanti.

Nana sibuk memotong pisang dengan pola melintang. Merendam kolang-kaling dengan air panas.

“Rebus 250 gram gula merah, 3 sdm gula pasir, 5 sdm garam….eh… ini angka 2 apa 5 sih?” Nana berusaha keras meneliti tulisan tangan mertuanya. “Ah, pasti 5,” gumamnya meyakinkan diri.

Nana sesekali mengusap keringatnya. Setelah satu jam, akhirnya Nana berhasil menyelesaikan masakannya. Dia melirik pada jam di dinding, sebentar lagi Ridho pulang. Nana berkemas dan segera mandi.

“Wah, bau harum apa ini?”

Ridho pulang! Nana bergegas ke luar dari kamar. “Aku bikin masakan kesukaan kamu, Mas!”

“Oh ya? Kolak pisang?” tebak Ridho. Nana mengangguk sumringah. “Kamu cepetan mandi. Ntar kita makan bareng.”

Ridho menurut. 15 menit kemudian mereka sudah duduk di meja makan. Bau harum menguar.

“Sepertinya lezat nih masakan istriku,” Ridho menyanjung.

Nana tersipu, pipinya memerah. Sigap dia menyiapkan semangkuk kolak.

“Silakan, Sayang.” Nana menatap suaminya dengan antusias.

Ridho menyendokkan sepotong pisang beserta kuah ke dalam mulutnya. Dia mengernyit.

“Eh, kenapa Mas? Nggak enak?”

“Ngg…enak kok.” Ridho salah tingkah. “Kamu belum nyicipin?”

“Belum.” Nana bergegas menyendokkan kolak ke dalam mangkuknya. Ketika kolak dan kuahnya tiba di dalam mulutnya, dia tersedak.

“Asin sekali!”

Ridho melihat raut kecewa di wajah istrinya. Buru-buru dia menggeser posisi duduknya ke samping Nana.

“Maaf, Mas. Masak beginian aja aku nggak becus.” Nana menunduk sedih.

Ridho tak menjawab. Dia meraih tangan istrinya. Menggenggam empat jemari dan membiarkan telunjuk Nana mengambang.

“Sini, kolaknya aku jadiin manis.”

Nana menatap keheranan. Tapi sejenak kemudian ia mengerti. Isaknya mulai terdengar. Ridho mencelupkan jari telunjuk Nana ke dalam mangkuk berisi kolak. Dua-tiga kali adukan. Kemudian dia mengambil sendok, dan mencicipi isi mangkuk.

“Wah, sudah manis rasanya sekarang!” Wajah Ridho sumringah. Nana tersenyum menahan tangis haru. Dipeluknya mesra lelaki kesayangannya itu.

“Makasih ya, Mas.”

Ridho tersenyum.

“Nah, karena sekarang kolaknya udah manis, yuk kita habiskan semua. Sayang kalau dibuang.” Nana berkata sambil mengedip. Ridho gelagapan.

“Eh…?”

Nana menjawil pipi suaminya. “Bercanda, Sayang. Ntar kamu sakit perut lagi. Yuk, beli aja di warung.”

Ridho tertawa.

496 kata

78 komentar pada “[Berani Cerita # 21] Kolak Pisang Rasa Cinta”

  1. Mestuanya sewot ya.
    hahahahha.

    Tapi seru juga kalau ngak bisa masak ngak direwelin suami. 😀
    kami yang anak lajang ngak bisa masak dicerewetin mamak. =.=
    nasib anak perempuan suka makan diluar. Hahahaha

    1. pendapat umum kan bilang kalo masak sendiri lebih irit. mungkin untuk masakan rutin yah, kalo yang insidental (halah bahasanyaa) kayak bikin kolak gini, lebih baik beli,

      oya, makasih loh pujiannya tadi. aku juga mau muji, kalo masuk ke blognya Nella, aku jadi dapat wawasan baru, tentang Jerman, budayanya, atau ‘sekedar’ tentang tanaman-tanamannya. 🙂

  2. Wah kolak pisang plus kolang-kaling, saya paling suka tuh,,,tetapi istri saya gak pernah membuatnya , karena gak sempet, dia bekerja! jadi saya selalu membelinya,,jadi gak tau cara membuatnya,,! Makasih Resepnya, mba!

        1. hari ini udah ada 2 orang yang manggil ‘mbak’ ke aku, Nella. Ini pasti salah satu cobaan pada saat puasa. Aku harus lebih banyak sedekah kayaknya. :p

              1. Tadinyaaa…saya juga mengira Mbak…hehe…Tapi kalo baca komen2nya…oooh, ternyata Mas…

        1. Iya, Yang adegan di buku. di filmnya gak ada. cuma klo dibukunya kata fahri “minumannya pasti jadi manis kalo abis dijilatin bidadari” kayaknya. lupa2 inget jugak. :))

  3. jadi ingat drama radio Ibuku Malang Ibuku Sayang dulu. Anak gadis memasak nasi goreng. Nasi segenggam, garam segenggam.

    btw so sweet banget ya

    1. eh iya…dulu pernah tahu ada film “Ibuku Sayang Ibuku Malang” tapi nggak tahu ada sandiwara radionya. Hm… jadi kangen sandiwara radio “Misteri Gunung Merapi”. Ketawanya Farida Pasha nyeremiiiinn…

      btw..makasih ya Mas Ryan. 🙂

      1. Farida bukannya masih mengisi suara Nenek Lampir pas di salah satu tv swasta itu (kalau gak salah malah dia yang jadi NL-nya kan?)

          1. banget. dulu pas kecil denger suara dia tuh dah yang langsung ngumpet.

            eh tapi bener ya. skrg gak ada lagi ya drama radio?

            1. kayaknya aku sering liat di akunnya motion578FM (kalo nggak salah) sering di twit soal #SilatAndTheCity dan #AsalUsulPandawaKurawa. Mungkin itu juga contoh sandiwara radio dengan citarasa modern. 🙂

                  1. wkkkkk…*ngakak gulang guling menyimak percakapan ini. kenapa larinya jadi ke ketawanya mak lampir ya 😀
                    betewe, ceritanya manis banget. jadi inget pengalaman pribadi tentang masak memasak 😀

                    1. laki-laki kadang emang suka ngelantur. : D
                      eh eh, ceritakan dong pengalamannya Rika. Gimana? Apa niat awalnya masak sayur lodeh, eh jadinya malah blackforest? * lah, jauh amaaaat? : D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s