[Berani Cerita #20] Rekaman Rahasia

foto : sumartono.ucoz.com

foto : sumartono.ucoz.com

Hening malam seolah menenggelamkan semua keriuhan. Orkestra para binatang melengkapi kesunyian. Marsha sedang bersiap melakukan ritual hariannya sebelum menulis : mendengarkan lagu keroncong. Setumpuk kaset milik kakeknya yang diambil dari lemari tua di gudang dia letakkan di samping pemutar kaset milik Mang Diran. Marsha memilih secara acak sebuah kaset dari kotak, memasukkannya ke dalam pemutar musik, serta menekan tombol ‘play’. Suara merdu seorang lelaki mengalun.

“Hm… Mus Mulyadi.” Marsha bergumam sembari meneliti daftar lagu. Tak lama kemudian, Marsha sudah ikut menyanyikan lirik lagu Romo Ono Maling yang jenaka.

Kesukaan Marsha pada musik keroncong ditularkan dari kakeknya, Armadi. Ketika dia berumur enam tahun, saat teman sebayanya mengakrabi lagu milik penyanyi cilik semisal Chicha Koeswoyo atau Adi Bing Slamet, Marsha malah lebih familiar dengan suara Mus Mulyadi, Waldjinah, atau Soendari Soekotjo.

“Musik keroncong itu menenangkan jiwa, Aca,” ujar Kakek suatu ketika. Marsha kecil yang lincah, berubah tenang ketika suara merdu penyanyi keroncong mengalun dari pemutar kaset. Dia akan duduk manis di kursi rotan dan ikut bernyanyi. Kakek sangat suka pada Mus Mulyadi. Ia memiliki koleksi lengkap kaset milik penyanyi berjuluk “Buaya Keroncong” itu. Koleksi yang kini ada di kamar Marsha.

Irama keroncong memenuhi ruangan kamar. Marsha merasa batinnya nyaman. Dia siap mengolah ide dalam kepala menjadi sebuah tulisan. Tanpa terasa side A kaset itu telah habis diputar. Giliran lagu-lagu yang terdapat di side B yang mengalun. Marsha terus mengetik. Jemarinya lincah menari di atas tombol. Ketika lagu ke dua mulai mengalun, mendadak suara Mus Mulyadi terhenti. Marsha menoleh heran.

“Kasetnya rusak? Sayang sekali, padahal lagunya bagus,” pikirnya. Marsha menunggu. Terdengar derik yang tak jelas.

Tiba-tiba pemutar kaset mengeluarkan suara tangisan seorang perempuan. Bulu kuduk Marsha meremang. Jemarinya mengambang di atas papan ketik. Marsha menajamkan telinga. Pemutar kaset sekarang hening.

“Jangan pak! Ampuni kami!”

Jeritan histeris seorang perempuan memenuhi ruangan. Sebuah tawa membahana, disusul sebuah bentakan.

“Ini akibatnya kalau berani menikamku dari belakang!” Suara seorang lelaki menggelegar.

“Kami minta maaf, Pak.” Kali ini suara lemah seorang lelaki lain yang terdengar.

“Aku hampir tertangkap polisi. Bisnisku nyaris hancur. Gara-gara kalian!”

Suara hantaman kembali terdengar. Disusul jeritan dan tangis melengking seorang bocah. Anak kecil? Marsha terpaku.

“Hei! Anak itu menekan tombol rec! Kasetku pasti rusak!”

Samar terdengar suara lelaki meminta maaf. Lalu suara rengekan. Lalu teriakan bocah yang kesakitan.

“Astaghfirullah! Dia jatuh, Tuan. Saya nggak sengaja. Pelipisnya luka, Tuan. ”


“Mang Diraaaan!”
Jeritan perempuan itu terdengar mengiba. Lalu hening. Suara berat lelaki yang dipanggil ‘Tuan’ tak terdengar lagi. Pita kaset telah berhenti berputar.

Mang Diran? Luka di pelipis?

Tanpa sadar Marsha meraba pelipisnya. Gundahnya buncah. Dia bangkit dan bergegas menuju pintu. Ketika pintu terbuka, Marsha terkesiap. Mang Diran sudah berdiri di depan pintu. Matanya basah, memohon dimaafkan.

“Mamanglah penyebab luka di pelipismu, Aca. Mamang minta maaf.”

“Jadi, Kakek Armadi bukan kakek kandung Aca?”

Mang Diran mengangguk.

“Orangtua Aca masih hidup?” Marsha bertanya lirih.

“Sudah meninggal, Aca.” Mang Diran menjawab pilu.

“Kakek yang menyebabkan mereka meninggal?” Marsha tak ingin bertanya, tapi kalimat itu meluncur begitu saja. Ketika Mang Diran mengangguk, tangis Marsha pun pecah.

497 kata.

Iklan

38 thoughts on “[Berani Cerita #20] Rekaman Rahasia

    • riga berkata:

      thanks, Mas Sigit. Iya, masih ada bagian yang bisa dikembangkan, tentang apa yang terjadi pada orangtua Marsha, bisnis Armadi, dan apa peran Diran dalam semua hal ini. 🙂

    • riga berkata:

      *melayang-layang karena dapat pujian*
      .
      Ah, rahasianya sih biasa aja Ade. Cuma rajin berlatih dan makan so….. aaaakkk…. * ditimpuk kaleng sosis* : D

  1. lampumerah berkata:

    Wow….
    berputar-putar penokohannya di kepalaku…
    twisting dari suasana yang mendayu keroncong, berubah menjadi suasana memcekam sebuah pembungkaman. ^_^
    salam kenal…
    senang menyaksikan tulisan dari juara beberapa #beraniCerita. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s