[Flashfiction] Sirih Tanya

Belum sempat Malia menjalankan motornya, Vira sudah menyerbu ke arahnya.

“Uh, untung kau belum pergi ngantor! Lia, nanti sore temani aku ya?”

Malia mengernyit. “Kemana?”

“Rumah Mbah Ellen. Mau minta sirih tanya. Kelakuan Mas Rian makin mencurigakan. Dia jadi manis banget sama aku. Sebelum ngantor pake cium kening segala. Pulang kantor langsung peluk-peluk. Biasanya? Nggak pernah! Dia pasti selingkuh! Aku harus tahu, siapa perempuan itu!”

“Jangan nuduh gitu, Mbak. Kan justru bagus kalau Mas Rian mesra sama mbak?”

“Alaaah, pokoknya mencurigakan! Temani ya!” desak Vira. Malia mengangguk terpaksa.

**********

Vira duduk bersandar di tubuh Rian yang sedang menonton siaran berita sambil sesekali menyesap teh melati favoritnya.

“Udah ngantuk, Mas?”

“Belum!”

“Ngantuk dong. Aku udah nih.”

Rian menatap mata istrinya. Vira ‘pengen’? Vira hanya diam. Rian juga diam. Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan.

“Iya deh.”

Rian mematikan TV dan beranjak ke kamar tidur.

Vira sudah melaksanakan semua perintah dukun yang dia temui sore tadi. Seprei baru. Pewangi ruangan. Lampu temaram. Lembaran daun sirih yang dibungkus kertas koran sudah diletakkan di balik bantal Rian. Sipp! Sebentar lagi!

Rian berbaring gelisah. Ada yang aneh dengan Vira malam ini. Rian menunggu dengan hati berdebar.

“Mas…”

“Ya?”

“Oh, belum tidur. Nggak jadi deh.”

Lalu hening yang panjang menghiasi kamar.

“Mas..”

Rian memilih tak menjawab. Dia pejamkan mata dan berpura-pura tidur. Mendengar dengkur halus dari Rian, Vira merasa sudah tiba waktunya.

“Mas Rian, jawab dengan jujur. Apa Mas masih mencintaiku?”

Dalam keremangan Vira menatap lekat wajah suaminya. Sekilas dia melihat sebuah anggukan.

“Sungguh?”

Lagi-lagi sebuah anggukan samar. Vira menyiapkan perasaannya sebelum menanyakan pertanyaan paling penting.

“Jadi kenapa Mas punya perempuan lain?”

Rian tiba-tiba bangun. Vira menjerit kaget. Aaaaaah!

“Kamu bilang apa, dek? Perempuan lain?” Rian kebingungan.

Vira belum sepenuhnya pulih dari kaget tapi dia memaksakan diri menjawab, “Iya, tingkah Mas dua minggu ini aneh. Lebih wangi. Lebih mesra. Sering tersenyum. Ada apa sebenarnya? Ada perempuan lain?”

“Masya Allah! Nggak ada, Dek. Cuma kamu!”

“Ah, nggak percaya!”

Rian bangkit dari ranjang dan mengambil sebuah buku tipis dari tas kerja yang digantung dekat pintu kamar. Diulurkannya buku itu ke arah Vira.

“Baca, Dek,” Rian berkata pelan sambil tersenyum malu. Vira menerima buku itu dan membaca judulnya.

“Tips Menyenangkan Hati Istri Demi Keharmonisan Rumah Tangga.”

Rian duduk di pinggir ranjang. “Kamu kan tahu dari dulu aku itu orangnya kaku. Bilang ‘i love you’ saja susah. Dulu kamu sering protes kan?”

Vira mengangguk.

“Jadi aku belajar jadi romantis dari buku yang diberikan Malia. Dia bilang…”

“Malia?” Vira memotong. Rian menutup mulutnya. Duh, keceplosan!

“Eh, kamu jangan nanya-nanya ke dia yah. Aku udah janji nggak bilang ke kamu dia yang kasih buku ini.”

Vira terdiam. Pantas saja Malia ogah-ogahan diajak ke rumah dukun, dia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Huh, kalau tahu begini ngapain minta sirih tanya ke dukun! Bayarnya mahal! Vira membalik bantal yang tadi ditiduri Rian dan merenggut bungkusan koran. Dibukanya lembaran lusuh itu. Isinya cuma daun-daun keladi kecil. Lho? Kok berubah? Uh, ini pasti kerjaan Malia!

497 kata.

Iklan

32 thoughts on “[Flashfiction] Sirih Tanya

    • riga berkata:

      lagi banyak ide dan sedikit kerjaan, hehe. | Iya, mbak Na, dulu sempat bikin heboh. Ntah beneran “berkhasiat” ntah nggak. Makasih ya udah mampir. 🙂

    • riga berkata:

      katanya siiih, kalo ditaruh di bawah bantal suami, pas ditanyain saat tidur, si suami bakalan menjawab pertanyaan apapun dengan jujur. Beneran atau nggak? Nggak tahu. 🙂

    • riga berkata:

      dulu sih sempat ‘heboh’ dengan sirih tanya ini. Katanya bikin para suami deg-degan. 😀
      Makasih ya udah mampir Mbak Linda. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s