[Flashfiction] Rumah Kenangan

foto : inforumah.net

foto : inforumah.net

“It’s always good to come home”

Robin menatap tulisan yang tertera di mug putih yang dipajang di sebuah toko pecah belah. Bergegas ia masuk dan membeli setengah lusin benda itu. Sambil sesekali meneliti sebuah foto, Robin terus berburu barang-barang.

Satu demi satu benda peralatan rumah tangga memenuhi troli. Robin mendorong barang belanjaannya menuju kasir. Setelah membayar, dia mengambil sebuah mug dan mematahkan pegangannya. Dibandingkannya dengan gambar mug yang ada di dalam foto. Dia mengangguk puas.

“Cukuplah untuk hari ini,” gumamnya sambil memberi tanda centang pada selembar foto. Robin membalik-balik beberapa foto. “Giliran ruang tamu mulai besok.”

Robin membuka pintu belakang mobil dan meletakkan barang belanjaan. Segera setelah itu dia berlalu.

**********
Di rumah yang baru selesai dibangun sebulan lalu, Robin duduk sendiri di dapur ditemani secangkir kopi. Robin memegang cangkir kopi sambil mengedarkan pandangan ke seluruh isi ruangan. Sesekali ditelitinya selembar foto ruangan dapur yang tergeletak di meja. Ada perbedaan kecil.

“Ah, penata ruang kurang teliti!”

Robin bangkit dari kursinya dan berjalan ke sudut ruangan. Di tangannya tetap tergenggam cangkir kopinya. Dia menyadari di sebelah kanan meja makan berbentuk oval mestinya ada rak sepatu bertingkat empat dari kayu yang dicat kuning. Tapi benda yang terletak di sana hanya bertingkat tiga dan berwarna oranye. Robin mengangkat telepon.

“Pak Bryan, sepertinya ada yang tak sesuai. Tolong diganti.” Robin menjelaskan detil yang dimaksud. Setelah yakin lawan bicaranya mengerti, dia memutuskan panggilan. Robin terus meneliti detil-detil di ruang dapurnya. Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan.

**********
Robin membuka pintu mobil sebelah kiri. Dengan hati-hati dia menuntun seorang perempuan langsing yang ditutup matanya ke luar dari mobil.

“Hati-hati, Sayang.”

“Kejutan apa ini, Mas? Kamu kan tahu aku tidak suka kejutan.”

Robin tak menjawab. Dia terus membimbing langkah perempuan itu hingga tiba di pintu pagar. Perlahan tangannya membuka kain yang menutupi mata.

“Kejutaaaan!”

Perempuan itu mengerjapkan mata indahnya berkali-kali. Mulutnya terbuka. “Mas Bin…”

Robin tersenyum sumringah. “Ini rumah kita, Sayang. Sama persis dengan di foto.”

Robin membimbing istrinya yang masih tampak bingung. Dibukanya pintu depan. Ruang tamu terlihat begitu elegan. Kombinasi warna pastel dan perabotan modern minimalis tampak menyejukkan mata.

“Sama persis kan, Nia?” Robin berkata bangga. Langkah kakinya terus menelesuri seisi rumah diikuti oleh istrinya yang masih tampak keheranan.

“Kok bisa, Mas?”

“Semua berkat foto-foto yang dulu pernah kamu ambil, Sayang.” Robin mengelus mesra rambut panjang istrinya.

“Nah, ini kamar kita. Lihatlah, indah sekali kan?” Robin menunjukkan sebuah kamar berukuran 4 x 5 meter yang dihiasi perabotan dari jati. Terlihat mewah sekaligus hangat.

“Kamar anak-anak di mana, Mas?”

Robin mengejang mendengar pertanyaan Nia. Apa yang harus dia katakan?

“Oh iya … Anak-anak … Lala dan Rangga … mereka … Ya Tuhan! Mereka di mana? Mereka di mana, Mas?” Nia mulai histeris. Lalu sebuah kesadaran menghantam benaknya.

“Mereka mati! Ya Tuhan, mereka mati! Aku yang ceroboh membiarkan mereka bermain lilin! Rumah terbakar habis! Lala dan Rangga mati, Mas! Hu hu hu.”

Nia seperti orang kesetanan. Menangis dan meracau. Robin memeluk erat tubuh istrinya. Air matanya mengalir deras.

Iklan

46 thoughts on “[Flashfiction] Rumah Kenangan

  1. lisagopar berkata:

    Jadi ingat sebuah Film lama.. film barat, mirip kisahnya. Sang ibu awalnya terkena amnesia, lalu ingatan kembali pada ending filmya.Sama seperti Nia. Tp yg di film anaknya meninggal krn ibunya lalai, membiarkannya terus menangis di kamar tanpa di tengok ke kamar, krn berpikir anaknya hny manja ingin ditemani. Anaknya ternyata terlilit tali mainannya sendiri.

    • riga berkata:

      saya nggak ngerti teori psikologinya sih, tapi yang saya bayangkan ini adalah usaha suami mengurangi trauma istri. Si istri punya dua beban; kelalaian yang menyebabkan rumahnya terbakar habis, serta kebakaran yang menyebabkan anak-anaknya meninggal.

      Jika saya dalam posisi Robin, saya akan berusaha mengurangi beban pikiran istri. Jelas saya tak bisa mengembalikan anak-anak, tapi saya bisa berusaha ‘mengembalikan’ rumah.

      Terimakasih sharing-nya mbak Lisa. Salam. 🙂

  2. irfanaulia berkata:

    Ceritanya bagus Bang. Endingnya juga. Cuma, kalau dibandingin opening sama endingnya, endingnya kalah menarik.

    Tapi tetep keren, kok.

  3. latree berkata:

    aku ngerti ide ceritanya.
    tapi aku masih bertanya-tanya juga sih. apa bisa, sebuah ‘view’ bisa langsung mengingatkan pada peristiwa traumatis ngantem gitu…

    • riga berkata:

      Di dalam cerita ini, Robin mengajak Nia berkeliling melihat rumah. Sedikit demi sedikit kenangan Nia kembali. Robin senang, tapi alpa mengira bahwa bagaimanapun ingatan Nia akan sampai pada anak-anaknya.

      Itu kata saya sih, Mbak. Kalau teori psikologinya saya nggak ngerti. Hehehe.

      Makasih udah mampir. 🙂

    • ade anita berkata:

      eh… iya loh mbak Latree bisa. Kebetulan anak sulungku dua tahun lalu kecelakaan sepeda dan dia amnesia tentang kejadian 10 menit ketika dia kecelakaan hingga di rumah sakit. dia tidak ingat sama sekali. jadi gak bisa direkonstruksi kenapa bisa dapat kecelakaan. Akhirnya, diberi view yang mirip dan tiba2… dia ingat 5 menit terakhirnya. jadi ingat siapa yang nolong dia hingga kami bisa tahu dia dapat kecelakaan. tapi sampai sekarang 5 menit pertamanya tetap amnesia. belum bisa diungkap lagi kenapa dia bisa celaka.

  4. vanda kemala berkata:

    hello 🙂

    menurutku, lompatan twistnya terlalu dipaksakan. inti cerita soal rumah atau istrinya? penggambaran istrinya yang depresi, kurang terasa. tapi penggambaran usaha suaminya, cukup maksimal. good job 🙂

    • riga berkata:

      hai… 🙂

      sebenarnya berhubungan erat. suaminya mengusahakan rumah yang mirip itu buat istrinya. Dan memang, mengenai istrinya tidak dijelaskan secara detil, sebab bagian itu yang akan dijadikan twist.
      Jika sejak awal saya beritahu tentang depresinya si istri, pembaca bisa langsung menebak ujung cerita yaitu ‘sudah terjadi sesuatu pada rumah yang membuat si istri depresi’.

      Makasih udah mampir Vanda.. 🙂

  5. fatwaningrum berkata:

    idenya keren, tapi menurutku logikanya agak susah diterima, ato saya aja ya yang beranggapan kalo berusaha menyembuhkan itu gak ‘mak breg’ ngasi sesuatu yang bisa ngingetin si pasien ke ‘trauma’nya? 🙂

    • riga berkata:

      iya, mbak. suaminya berpikir jika dia bisa meyakinkan istri kalau rumah mereka “baik2 saja” mungkin bisa mengurangi luka. Tapi dia lupa, itu bisa mengingatkan pada luka lainnya. thanks udah mampir 🙂

  6. istiadzah berkata:

    meski di awal ga ada konflik, tapi tetep tetep terkejut di akhir ceritanya. oh ya, ada yg ga konsisten. di tengah cerita si robin memegang secangkir kopi, tapi di akhir part tersebut dia menghabiskan seluruh isi gelasnya. jadi, cangkir atau gelas? sepele memang, tapi ini penting.

    lalu, ini masalah selera aja sih. saya kurang suka ff yang dibagi dalam 3 part atau lebih. buat saya, 2 part itu udah cukup luas. karena klo lebih dari 2 part itu seperti cerpen yg dipatah2in. maaf 😀

    • riga berkata:

      wah,..ada inkonsistensi ya? baiklah, saya perbaiki. Makasih loh mbak isti. 🙂

      nah, soal ‘cerita yg kepanjangan’ emang udah “tabiat” saya yang pengen nyerocos lewat tulisan. Maunya nulis panjaaaang terus. Cerpen2 awal saya (bukan FF lho) malah panjang2. Menulis 500 kata adalah tantangan buat saya. Kadang2 sih bablas. Hehehe.

  7. 空キセノ berkata:

    Di Fb tadi ceritanya si cowok pengen balikin istrinya jadi waras lagi gitu ya? Makanya dia bikin rumah yang baru sama persis sama rumah yang terbakar? Dan istrinya itu gila karena kebakaran itu? Iya gitu kan? Tapi entah di sini kurang ada feel-nya kalau si istri ini gila. Menurutku sih…

    Tapi ceritanya keren lho. 🙂

    • riga berkata:

      si istri dalam keadaan rapuh. dia masih belum bisa terima kelalaiannya yg menyebabkan rumahnya habis terbakar juga anak2nya menjadi korban.
      suaminya berharap, dengan membangun rumah yang sama, setidaknya mengurangi rasa bersalah si istri, meski tetap saja, kehilangan benda diganti, hilang nyawa dimana dicari? 🙂

      makasih ya udah mampir. kritiknya sangat aku hargai. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s